Tumbuh Tanpa Dukungan Pemerintah

Hira Jhamtani, teman yang juga aktivis dan peneliti tentang globalisasi, mengirim kabar gembira pekan lalu. Tulisanku tentang pertanian organik di Indonesia dimuat Jurnal Third World Resurgence.

Pengantar di tulisan yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris tersebut sebagai berikut.. “While figures and statistics are increasingly showing that sustainable agriculture is viable in ensuring food security and rural livelihoods, it is important to note that agriculture is also about human experiences.  Sustainable agriculture is a story about lives, about how farmers struggle to make changes for a better future.  Drawing on the Indonesian experience, this article presents a set of such stories about farmers in Indonesia who have proven that sustainable agriculture works.”

Ini tulisannya dalam Bahasa Indonesia..

Continue reading “Tumbuh Tanpa Dukungan Pemerintah”

Kecewa Citra Pulau Dewata

Banyaknya turis mancanegara di Bajawa, Ngada, Flores agak mengejutkan saya. Ketika saya menulis daftar tamu di hotel Edelweis, Bajawa, Senin (20/4) malam kemarin saya baca banyak nama bule yang menginap di hotel ini.

Padahal awalnya saya pikir hanya akan ada Nicolas Ardissone, turis dari Perancis yang bertemu dengan saya sejak berangkat dari Bali. Nicolas ini satu pesawat dengan saya dari Bali. Semula dia berencana ke Gunung Kelimutu, Ende. Tapi ketika ngobrol satu pesawat dengan saya, termasuk soal perjalanan saya ke Bajawa, ternyata dia mengubah rencana. Dia memilih ke Bajawa daripada ke Ende.

Continue reading “Kecewa Citra Pulau Dewata”

Bedah Buku dalam Kuasa Perdebatan

Perkiraan saya ada benarnya. Bedah buku di Program Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana Jumat (17/4) itu jadi semacam pengadilan pada I Gede Jayakumara, penulis resensi buku yang sedang dibahas, Bali dalam Kuasa Politik.

Bali dalam Kuasa Politik ditulis I Nyoman Darma Putra, wartawan dan dosen Fakultas Sastra Unud. Darma Putra, panggilan akrabnya, saat ini sedang mengikuti program Postdoctoral Research Fellowship di School of Language and Comparative Cultural Studies di University of Queensland Australia. Selain mengajar di almamaternya dan bekerja untuk ABC, kantor berita Australia, Darma Putra juga rajin menulis buku, meniliti budaya Bali, serta berbicara di berbagai forum terutama terkait dengan budaya Bali kontemporer.

Continue reading “Bedah Buku dalam Kuasa Perdebatan”

Masa Depan Media Ada di Internet

Fakta memang tidak bisa berbohong. Dan inilah yang terjadi. Akhir bulan lalu, satu lagi koran di Amerika Serikat yang bangkrut. Kali ini terjadi pada Chicago Sun-Times. Awal bulan lalu, hal lebih tragis terjadi pada The Christian Science Monitor, salah satu koran terkemuka di Amerika. Koran yang sudah berumur 100 tahun ini menutup edisi cetaknya untuk fokus pada edisi online.

Kebangkrutan itu menambah daftar panjang berakhirnya media cetak di Amerika. Kompas menulis bahwa sebelum itu ada Seattle Post-Intelligencer yang mengakhiri edisi cetak setelah terbit selama 146 tahun. Juga koran Rocky Mountain News tutup pada Februari lalu. Sejumlah kelompok surat kabar lain, seperti Tribune Co, pemilik Los Angeles Times dan Chicago Tribune, telah mengajukan proses kebangkrutan demi menyiasati kerugian selama bertahun-tahun.

Continue reading “Masa Depan Media Ada di Internet”

Hujan Bintang di Koran Lokal

Keisengan ini muncul pekan lalu. Ketika itu ada Wayan Artana, salah satu teman di Bali Blogger Community (BBC), berkomentar di milis BBC tentang maraknya berita iklan apalagi pas musim kampanye menjelang Pemilihan Umum 2009 ini. Hari itu juga aku lalu ingat soal berita bertanda bintang di Bali Post.

Berita iklan menjelang kampanye tidak hanya di Bali Post, media tertua, terbesar, dan paling berpengaruh di Bali. Semua koran pasti ada. Penelitian I Gusti Putu Artha, yang sekarang jadi anggota Komisi Pemilihan Umum, di S2 Kajian Budaya Universitas Udayana di tiga media terbesar di Bali menunjukkan adanya berita-berita pesanan dari calon bupati Badung menjelang pemilihan bupati sekitar tiga tahun lalu.

Continue reading “Hujan Bintang di Koran Lokal”

Bangga Indonesia dengan Apa Adanya

Tentu saja tidak ada yang sempurna dalam semua sistem. Begitu pula demokrasi. Seorang teman pernah berujar, kelemahan demokrasi adalah karena kecenderungannya untuk menilai banyak hal berdasarkan jumlah. Begitu pula hitung-hitungan dalam demokrasi di Indonesia, juga dalam Pemilu kali ini.

Secara sederhana, demokrasi sejalan lurus dengan kemauan mayoritas. Ketika mayoritas memang menghendaki si A yang jadi pemimpin, maka minoritas harus menerimanya meski mereka tidak suka si A. Apa boleh buat inilah yang digariskan demokrasi. Secara sarkas, teman lain pernah bilang bahwa dalam demokrasi pun jadi sah kalau manusia pun dianggap sebagai kambing hanya karena mayoritas menganggap manusia tersebut sebagai kambing.

Continue reading “Bangga Indonesia dengan Apa Adanya”

Keakraban Semu Bernama Facebook

Kami sebenarnya berteman. Tapi ya hanya di dunia maya. Yap, dunia maya itu hanya. Sebab yang nyata toh di dunia maya. Dan sering kali dua dunia ini –maya dan nyata- tidak selaras meski tidak sampai pada posisi berseberangan. Maka meski berteman di dunia maya, kami tak bertegur sapa.

Padahal posisi kami sangat dekat Jumat malam lalu. Hanya berjarak hitungan jengkal. Kami pun duduk di kursi yang sama, kursi panjang dinding barat salah satu tempat makan di jalan Gatot Subroto, Denpasar. Aku dan Bunda malah sempat memperingatkan Bani agar tidak terlalu dekat dengan dia. Takut mengganggunya.

Continue reading “Keakraban Semu Bernama Facebook”

Mencari Siomai pada Ahlinya

Salah satu hal yang unik dari pengalaman berburu makanan adalah melihat sisi-sisi lain yang kadang tak nyambung sama sekali dengan makanan itu sendiri. Misalnya… nasionalisme di balik makanan.

Hal ini pertama kali aku sadari ketika ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2002 di Desa Medewi, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali. Ketika aku dan beberapa teman sedang ngopi sore di warung pemilik rumah tempat kami tinggal, datang penjual krupuk menawarkan dagangan.

Continue reading “Mencari Siomai pada Ahlinya”

Mading tuh So Yesterday

Lomba koran dinding Pers Mahasiswa (Persma) Akademika hari ini mengingatkanku pada sekitar sepuluh tahun lalu. Rasanya baru kemarin aku mengalami hal yang sama: gegap gempita Gema Jurnalistik Akademika.

Aku masuk di [aka], sebutan kami untuk persma di Universitas Udayana (Unud) Bali tersebut pada 1998. Antara 1998-2001 itu kami mengadakan banyak kegiatan, salah satunya Gema Jurnalistik, biasa disebut GJ. Kegiatan ini berupa pelatihan jurnalistik di SMP dan SMA se-Bali. Pelatian itu di semua kabupaten di Bali.

Continue reading “Mading tuh So Yesterday”

Berikan Pilihan, Bukan Melarang

Kekerasan itu terjadi di depan mataku, Minggu dua hari lalu. Si bapak berkacamata itu menggendong anak dengan lengan kirinya. Lalu tangan kanannya dipakai menampar wajah anaknya berkali-kali. Dia menampar pipi kanan, lalu pipi kiri. Si anak yang berumur sekitar 2,5 tahun, seusia dengan Bani anakku itu menangis menjerit-jerit.

Tapi bapak itu seperti tidak peduli. Dia berkali-kali menampar muka si anak itu. Sampai dia memasukkan si anak ke dalam mobilnya, dia masih saja memukuli anaknya.

Continue reading “Berikan Pilihan, Bukan Melarang”