Merayakan Setelah Kematian Datang

6 , , , , Permalink 0
Sudah tengah malam. Namun suara orang menyanyi diiringi gitar masih terdengar di gangku. Tumben saja sih. Sudah lama aku tidak mendengar suara orang gaduh di tengah malam. Tapi sudah beberapa malam ini suara-suara orang bernyanyi itu terdengar sampai larut malam.

Suara nyanyian itu datang dari orang-orang yang lagi duduk-duduk di depan gang kecil ke rumah Gede, salah satu tetanggaku. Kemarin kakek Gede yang sudah uzur banget meninggal. Tidak ada tangisan. Mungkin juga karena umur si kakek yang sudah tua dan sakit cukup lama.

Tapi tak hanya karena umur yang sudah uzur dan sakit sekian lama, bagi orang Bali sendiri, kematian memang sering kali malah dirayakan. Mungkin tidak dalam artian sesungguhnya. Tapi setidaknya aku menangkap kesan itu. Bali salah satu daerah yang memiliki tradisi merayakan kematian. Kalau tidak salah, ini pula yang yang terjadi di Tana Toraja, kematian bukanlah akhir hidup tapi perjalanan panjang menuju dunia lain. Karena itu harus dirayakan.

Ngaben di Bali, akan jadi perayaan besar untuk mengantarkan orang yang meninggal. Dalam skala besar, katakanlah di Puri Ubud, ngaben bisa menghabiskan duit bermilyar-milyar. Di skala lebih kecil mungkin ratusan atau puluhan juta. Tergantung kemampuan. Sebenarnya fleksibel. Tapi seperti dikatakan Wayan Juniarta, teman wartawan yang tahu banyak hal itu, orang Bali sering adu gengsi dalam upacara. Jadi ya sering jor-joran meski sampai ngutang.

Perayaan itu pula yang kini terjadi di gangku. Setelah ada orang meninggal, maka para teman dan keluarga almarhum akan berdatangan. Jenazah tidak segera diaben atau dikubur. Sebab selain menunggu keluarga yang belum datang, juga karena menunggu dewasa atau hari baik. Nah selama menunggu itulah harus ada yang mekemit alias menunggu malam-malam.

Sementara itu jenazah diawetkan dengan es batu.

Biaya untuk mekemit ini yang tak sedikit selain juga biaya upacara. Selama mekemit, para keluarga almarhum ya melakukan banyak hal yang asik-asik saja. Main ceki, metuakan, main gitar, dan semacamnya. Ada yang nyanyi, megenjekan, dan seterusnya. Pokoknya have fun lah..

Jadi, siapa bilang harus bersedih ketika kematian datang? 🙂

6 Comments
  • wira
    December 30, 2008

    bingung mau komen apa 😀

    no komen deh pak

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    hehe, terima kasih sudah meninggalkan komen dg no komen. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    January 4, 2009

    makanya ada juga yang memilih ‘krematorium’ sebagai salah satu solusi menghindari ‘merayakan’ ataupun ‘ngutang’. He….

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    mending gitu sih, bli. asal jangan ngutang. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Wira Santosa
    January 6, 2009

    Klo di daerah saya, istilah untuk menunggu malam-malam di tempat keluarga orang yang meninggal, adalah magebagan. Klo makemit, biasanya untuk di pura-pura. Salam.

    ReplyReply

    [Reply]

  • santa
    November 27, 2014

    saya belum mengerti apa maksud anda membuat postingan seperti ini.
    tp pada intinya Tujuan megebagan itu tidak seperti yg anda bayangkan. mau penjelasannya ?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *