Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat

18 , , , , Permalink 0
Sejak kecil, bayanganku tentang Surabaya tuh cenderung sesuatu yang negatif. Mungkin karena beberapa cerita dari kakak dan tetanggaku. Mereka bercerita bagaimana ditodong pisau ketika di tengah angkutan kota. Malah, kakakku sendiri mengalami bagaimana harus melompat dari taksi karena dia ditodong orang. Ada pula teman bercerita kalau dia pernah diacungi celurit saat naik kendaraan umum.

Maka, Surabaya jadi kota yang sarat kekerasan di mataku. Itu pula alasan aku tak terlalu ingin menikmati kota ini lebih detail. Padahal jarak antara Surabaya dan Lamongan, tempatku lahir dan besar, juga tak terlalu jauh. Tiap kali lewat, aku benar-benar hanya lewat. Hampir tak pernah berniat singgah untuk tahu lebih banyak.

November 2002, ketika aku tinggal beberapa malam di kota ini untuk meliput penangkapan Amrozi di Tenggulun, aku pun lebih banyak diam di kantor GATRA, tempat kerjaku saat itu. Surabaya benar-benar menakutkan bagiku.

Kali ini aku membunuh ketakutanku sendiri. Aku sudah yakinkan diri ketika baru saja sampai di kota ini. Aku harus mengenalinya kembali.

Kegiatanku di Surabaya saat ini sangat singkat. Selasa malam, sekitar pukul 6.30 WIB sampai Surabaya. Rabu malamnya aku harus kembali ke Bali. Niat untuk mampir kampung halaman pun aku batalkan. Maka aku gunakan waktu singkat itu sebisanya. Pertama cari makanan enak. Kedua cari tempat asik.

Soal makanan di posting lainnya saja. Kali ini soal tempat dulu. Aku jalan ke beberapa tempat yang tak jauh dari jalan Darmo Kali, tempatmu menginap. Ada ke sekitar Kebun Binatang -aku tak bisa masuk karena terlalu pagi ketika ke sana-, bangunan museum Mpu Tantular yang merana, dan sekitarnya.

Dari jalan-jalan sekilas di jalan protokol ini, aku menyimpulkan, kota ini memang jauh lebih rapi dibanding bayanganku sebelumnya. Sepanjang jalan atau di perempatan, ada taman kecil dengan beraneka rupa bunga. Ini sesuatu yang di Denpasar susah aku temukan.

Di antara sekian tempat, Dolly adalah tempat yang paling menarik untuk dituliskan.

Selasa malam, usai istirahat sebentar di penginapan, aku dan tiga teman lain (Sinyo, Wahyu, dan Yvone, ketiganya aktivis gerakan pengguna dan mantan pengguna narkoba dengan jarum suntik) mulai menjelajah kota. Ah, bukan menjelajah. Tepatnya lewat Dolly, lokasi prostitusi yang konon terbesar di Asia Tenggara.

BMW tua milik Sinyo yang kami tumpangi berjalan pelan ketika memasuki kawasan Dolly. Aduh, sayang banget aku tidak ingat satu per satu nama jalannya. Yang aku ingat, bentuk kawasan ini mirip sungai dengan banyak cabang. Jadi ada jalan besar dengan banyak gang. Di sepanjang jalan besar itu, banyak rumah dengan jendela kaca bening yang terlihat dari luar.

Para pekerja seks komersial (PSK) duduk manis di kursi, yang umumnya berwarna merah. Dandanan mereka agak seronok, menguatkan stereotip tentang PSK. Rok pendek dengan paha terlihat dan baju tank top. Mereka menonjolkan tubuh, modal sekaligus aset utama mereka untuk bekerja di sini.

Kami menyusuri jalanan besar itu. Melihat rumah itu satu per satu. Aku pernah bayangin tentang lokalisasi Dolly sebelumnya: sebuah gang dengan rumah-rumah berisi PSK di dalamnya. Tapi, bayanganku itu terlalu kecil dari kenyataan di lapangan. Ternyata Dolly memang kawasan yang sangat luas.

Rumah-rumah berderet sepanjang jalan, bukan hanya gang, itu hampir semuanya adalah tempat menjajakan PSK. Lalu gang-gang di dalamnya pun demikian. Aku tak sampai masuk ke gang, karena hanya dari dalam mobil, tapi Sinyo, yang asli Surabaya bilang begitu.

Penempatan PSK itu, kata Sinyo, juga berurutan menurut tarif. Kami mulai dari yang paling mahal. Secara fisik mereka lebih muda dan cantik. Begitu terus sampai kami masuk di jalan kecil lainnya. Di jalan ini sebagian besar adalah tante, yang aku taksir umurnya 40an tahun. Kalau yang mahal duduk di ruang tamu berdinding kaca di sofa merah, yang sepertinya empuk banget, maka tante-tante ini duduk di kursi kayu, menunggu di beranda.

Di sepanjang jalan yang sama, aku melihat pula para laki-laki berdiri menunggu di tepi jalan. Mereka berdiri, bagiku mirip pasukan tentara saat berbaris, rapi. Ketika kami lewat, mereka melambai-lambaikan tangan sambil berkata, β€œMonggo, Mas. Silakan..”

Tak hanya para laki-laki tukang sambut itu. Ada pula tukang parkir, penyewa kamar, penyedia jasa toilet umum –aku itung sampai puluhan-, toko, dan banyak lagi. Aku pikir mereka juga bagian dari roda ekonomi yang menempatkan PSK sebagai aset utama tersebut. Kalau para laki-laki lain yang datang ke Dolly adalah untuk urusan kelamin, maka warga lain di Dolly adalah untuk urusan perut.

Kelamin dan perut, tidakkah memang dia urusan hakiki dari manusia. Lalu kenapa sebagian orang harus sibuk menolak keberadaan Dolly? Biarkan saja. Dia menyangkut nyawa banyak orang juga..

18 Comments
  • Hendra W Saputro
    October 25, 2008

    Gak sabar menunggu tulisan “dolly” nya bali hehehe

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    lah, kan wis ditulis mas? piye toh? πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • bukan winardi
    October 25, 2008

    wah saya pernah sekali kesana bli. bagus tempatne ternyata.ga kayak bayangan saya.memangne mau ditutup ya bli?

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    kan banyak orang yang napsu mau nutup. padahal banyak jg orang yg butuh. lagian urusan dosa, kalau toh memang dosa, itu kan urusan mereka yg di sana. ngapain jg yg lain senewen.. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    October 25, 2008

    hmm…….*bingung mo komenapa* πŸ˜›

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    kan udah komen.. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    October 25, 2008

    wuih…tapi kalau dibali kok kesannya sarang psk di saru gremingi yah? padahal kayaknya itu salah satu cara agar penyakit hiv ndak menular…karena orang esek-esek kan cuman di sana aja ndak menyebar…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    saru gremeng karena pd malu2. mau ditutup eh mrk butuh. mau diresmiin, eh, pada malu. jd ya gitu deh..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Pak Kadal
    October 25, 2008

    Skrensotnya mana??? Berita terasa kurang lengkap kalo tanpa skrensot hehehehe….

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    skrinsutnya dirampas sama pecalang pas aku masuk bali. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • f474r
    October 26, 2008

    Blogwalking Sambil Nyari Kenalan
    Salam Dari duitptc.info

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    blogwalking apa promosi blog neh. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    October 26, 2008

    seperti biasa, tanpa skrinsut seperti sayur tanpa garam, hehehe

    btw, 4 tahun di surabaya saya blm pernah ke dolly

    *menyesal ;-(

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    halah, ngakunya ga pernah. padahal tiap malem minggu pasti nginep di sana. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • Putu Adi
    October 26, 2008

    Sebelum Gang Dolly namanya jalan Jarak, barangkali ada yang pingin tau. Coba pake motor melali kesana pasti lebih asik.

    Tapi bli Anton ga sampai punya rencana pindah penginapan kan setelah dateng dari Dolly?

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    hehe, trnyata adi lebih pengalaman soal dolly nok. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • agoenk03
    October 27, 2008

    Salam kenal ya dan saya masih newbie nie

    Terima kasih

    gunk lanank πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    makasih jg sudah mampir di dolly. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *