Mencari Tempat Diskusi di Denpasar

Pekan lalu, Ana, teman yang baru tinggal di Bali mengeluh tentang ketertinggalannya soal wacana film. Teman itu lahir dan besar di Jakarta. Dia pernah bekerja di Timor Leste sebelum bekerja di Bali sejak sekitar Oktober lalu. Obrolan kami terjadi ketika kami diskusi kecil soal Slumdog Millionare, film pemenang delapan kategori di Oscar tahun ini.

Ketertinggalan wacana itu, kata Ana, karena kurangnya tempat diskusi di Denpasar. Dia sih membandingkan kondisi Bali dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, ceritanya, mau diskusi soal seni misalnya bisa di Taman Ismail Marzuki (TIM). Atau, contoh lain, soal peluncuran buku bisa di Aksara, Kemang. Dan seterusnya..

Continue reading “Mencari Tempat Diskusi di Denpasar”

Mereka Pekerja, Bukan Pelacur!

Ada yang mengusikku ketika ikut diskusi terbatas sama mantan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika Selasa kemarin. Diskusi terbatas di Sanur itu membahas tentang bagaimana peran industri pariwisata dalam penanggulangan AIDS di Bali. Beberapa petinggi pelaku pariwisata di Bali hadir dalam diskusi sejak pukul 5 sore itu.

Hal yang mengusikku adalah ketika Ardika mengatakan sebaiknya media tidak usah membuat eufemisme, penghalusan, tentang pelacur dengan menyebut mereka sebagai pekerja seks komersial (PSK). “Sebut saja mereka sebagai pelacur. Dengan begitu kita tidak membenarkan mereka karena sudah berbuat salah,” kurang lebih begitu mantan menteri ini menyebut.

Continue reading “Mereka Pekerja, Bukan Pelacur!”

In Denpasar, farmers struggle against mounting odds

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Thu, 01/08/2009 10:36 AM | Bali

In the face of rising agriculture costs and the declining value of crops, once prosperous farmers like Rini Suryani are struggling to earn a sufficient income.

Toiling over 45-acres of farmland in Renon, East Denpasar, she spends around Rp 2.1 million in costs to produce a harvest every three to four months valued at between 100,000 per acre and 150,000 per acre, depending on the quality of the season.

Continue reading “In Denpasar, farmers struggle against mounting odds”

'Kafe' are HIV hotspots: Official

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Sat, 01/03/2009 10:33 AM | Bali

The growing popularity of kafe (local bars) across Bali has made the island more vulnerable to the spread of HIV (Human Immunodeficiency Virus), as the outlets also serve as a front for prostitution, a senior health official warns.

“The kafe have became not only places to relax but also places to solicit sexual transactions,” Bali AIDS Commission (KPS) spokesperson Mangku Karmaya said at a year-end press briefing earlier this week.

Continue reading “'Kafe' are HIV hotspots: Official”

Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan

Sampai hampir pukul 7.30 Wita, mobil pick up yang kami pesan tak juga datang menjemput ke rumah. Padahal semalam sebelumnya kami sudah bilang ke pemilik pick up, tetangga kami di jalan Subak Dalem di pinggiran Denpasar Utara, untuk datang menjemput pukul 7 pagi.

Kami harus berangkat awal karena harus mengambil papan petunjuk jalan yang akan dibawa ke Nusa Lembongan juga jemput bapak ibu yang akan ikut ke sana untuk sembahyang sekalian jalan-jalan. Apalagi Bunda juga harus beli tiket untuk teman-teman yang akan ikut ke pulau seberang tersebut. Jadi harus berangkat lebih awal.

Continue reading “Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan”

Merayakan Setelah Kematian Datang

Sudah tengah malam. Namun suara orang menyanyi diiringi gitar masih terdengar di gangku. Tumben saja sih. Sudah lama aku tidak mendengar suara orang gaduh di tengah malam. Tapi sudah beberapa malam ini suara-suara orang bernyanyi itu terdengar sampai larut malam.

Suara nyanyian itu datang dari orang-orang yang lagi duduk-duduk di depan gang kecil ke rumah Gede, salah satu tetanggaku. Kemarin kakek Gede yang sudah uzur banget meninggal. Tidak ada tangisan. Mungkin juga karena umur si kakek yang sudah tua dan sakit cukup lama.

Continue reading “Merayakan Setelah Kematian Datang”

Bani Petani Kecil Kami

bani-petani

Hari Minggu pun tiba. Inilah hari ketika Bani akan ikut liburan ke sawah. Bani mau ikut Fun Sunday, liburan sambil belajar ala Yayasan Wisnu. Sejak sekitar pukul 7 kami sudah siap-siap. Sayangnya aku sendiri tidak yakin jam berapa acara akan mulai, pukul 8 apa pukul 9. Tapi kami putuskan berangkat pukul 8.30 saja.

Continue reading “Bani Petani Kecil Kami”

Rights groups face classic problems

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Wed, 12/17/2008 11:12 AM | Bali

Bali’s human rights organizations were still embroiled by classical, internal problems diminishing their capability to implement their agendas, an activist said during a civil society gathering last week.

“Efforts to implement human rights agenda in Bali are still hampered by a lack of coordination among the human rights organizations,” chairwoman of the Indonesian Legal Aid Association’s (PBHI) Bali Chapter Nyoman Sri Widiyanthi said.

Continue reading “Rights groups face classic problems”

Mengenal Program, Bukan Tampang

Pemilu masih lima bulan lagi. Namun gegap gempitanya sudah terasa sejak dua atau tiga bulan lalu. Atribut kampanye seperti bendera dan baliho memenuhi berbagai tempat di Denpasar. Nyaris tidak ada tempat yang bersih dari atribut yang sangat tidak sedap dipandang mata ini.

Begitu banyak calon anggota DPR (caleg) yang menjual muka di baliho-baliho itu. Namun sangat sedikit yang aku kenal. Padahal perasaan aku juga lumayan rajin baca koran, nonton TV, atau selancar di internet deh. Tapi kok aku tidak kenal hampir seluruh caleg itu ya? Lalu bagaimana mereka yang jarang mengonsumsi media?

Continue reading “Mengenal Program, Bukan Tampang”