Silakan Iri pada AngingMammiri

Feeling saja, sih. Ketika aku lihat dua cewek datang, lewat di depanku sambil pegang HP lalu HPku bergetar, aku menyapanya dengan tangan. Dan, ah, ternyata benar. Inilah dua perempuan dari AngingMammiri (AM), komunitas blogger Makassar. Salah satunya, Ina si Pecandu (warna) Ungu alias Purpleholic, satu-satunya blogger yang aku kenal lewat dunia maya ini sebelumnya.

Maka, kopdar sama teman-teman AM pun berlangsung di anjungan pantai Losari, Makassar petang tadi. Ada sekitar 10 teman dari AM yang ikut. Ina, Unga, Iqko, Mus, Ntan, Anhie, Made, Syahril, dan Ary.

Continue reading “Silakan Iri pada AngingMammiri”

Target: Paottere’, Losari, Sara’ba, dan Pisang Epe

Ini hari ketiga di Makassar, tapi aku belum juga jalan-jalan. Ngebet banget segera menyantap ikan bakar di Paottere’, tapi sampai malam ini ternyata belum bisa. Selain Paottere’, sebenarnya ada beberapa tempat yang ingin aku kunjungi lagi, seperti pada 2004 lalu. Waktu itu sih enak aja jalan-jalan ke beberapa tempat di Makassar. Tapi untuk saat ini, ya, begitulah. Belum ada waktu yang tepat. Tunggu saja besok.

Kemarin malam sih jalan sebentar di Port Roterdam di sela malam ramah tamah. Tidak terlalu menarik karena malam-malam. Apalagi aku lihat sekilas, benteng yang umurnya ratusan tahun ini agak kusam. Benteng ini sedang dipermak sedikit di beberapa bagian.

Continue reading “Target: Paottere’, Losari, Sara’ba, dan Pisang Epe”

Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan

Lima laki-laki itu menari membawa api di tangan kanannya. Kedua tangan merentang. Api menyala dari tambang yang dibakar. Lalu, dengan posisi di bawah lengan kiri, api itu digerak-gerakkan. Dari ujung jari ke bahu. Mereka membakar tangan itu!

Tapi tidak ada sakit. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi yang dibakar kedua tangannya pun hanya tersenyum. Peserta lain, yang tangannya dibakar, malah berseru, “Rasanya dingin.”

Continue reading “Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan”

Untung Ada Coto Makassar

Here I am. Di Makassar dengan ketidakjelasan. Apa yang harus aku kerjakan? Serba salah. Mau nolak, teman yang ngajak. Setelah bersedia, tidak jelas tanggung jawabnya. Bahkan ketika aku sudah sampai di tempat acara, aku belum juga tahu apa saja yang harus aku kerjakan. Duh..

Sekira dua minggu lalu seorang teman, kini bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, telepon. Minta tolong aku bantu mengurus media selama Pertemuan Nasional Harm Reductin (PNHR) di Makassar, 14-18 Juni ini.

Continue reading “Untung Ada Coto Makassar”

Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu

Hampir sebelas tahun hidup di Bali dan belum pernah sekali pun menonton tari kecak di Uluwatu, ah, betapa menyedihkan hidup saya. Padahal tarian di sana saat sunset sungguh mengesankan..

Tidak hanya tariannya yang spektakuler, tapi lokasinya juga demikian. Rabu dua pekan lalu, saya akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana tarian Bali itu disajikan dengan latar belakang matahari tenggelam. Kami dan para penari itu di atas tebing Uluwatu, setinggi sekitar 20 meter dari permukaan air laut.

Continue reading “Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu”

Mengunjungi Museum di Bandung

Bandung adalah kota pertama yang ingin kami kunjungi di antara sekian kota di Jawa. Aku dan Bunda bahkan sudah berencana jalan-jalan ke Bandung kalau Bani nanti sudah ngerti dan bisa mengingat perjalanan itu. Alasannya, kami memang belum pernah ke Bandung. Juga karena sepertinya banyak tempat menarik untuk dikunjungi di kota sejuk itu. Terutama untuk, hmmm, tempat makan-makan! 🙂

Namun, pas dua pekan lalu ke Bandung, ternyata aku belum bisa menikmatinya dengan leluasa. Apa boleh buat. Niat jalan-jalan pun harus diubah. Intinya bagaimana jalan-jalan dengan waktu terbatas tapi bisa dapat sesuatu yang berbeda. Setelah tanya sama Rana Akbar, teman wartawan di Bandung, ternyata ada ide menarik: jalan-jalan ke museum-museum di Bandung saja.

Continue reading “Mengunjungi Museum di Bandung”

Antara Braga dan Menghisap Shisha

Mampir di satu kota tanpa jalan-jalan itu ibarat sayur tanpa garam. *Btw, basi banget sih pengandaiannya. Hehe..*

Maka, meski hanya lima hari dengan jadwal pelatihan yang padat bahkan sampai sekitar pukul 9 malam, jalan-jalan di Bandung tetap harus dilakukan. Pada hari selama pelatihan, jalan-jalan ini setelah materi selesai. Tidak enak juga. Masak jauh-jauh datang dari Bali dengan semua biaya ditanggung panitia, aku malah jalan-jalan saja. 😀 Pada hari terakhir, setelah pelatihan semua selesai, barulah bisa jalan-jalan lebih lama.

Tapi tulisan ini soal jalan-jalan malamnya saja. Soal perjalanan belanja oleh-oleh dan keliling museum nanti di posting lain. Bagian ini soal pengalaman jalan-jalan di Braga dan Dago.

Continue reading “Antara Braga dan Menghisap Shisha”

Butuh Ojek, Panggil Saja Motor Taxi

Biasanya ada dua pilihan saya untuk ke bandara Ngurah Rai Bali. Kalau tidak diantar teman atau istri, saya pilih naik taksi. Ini tergantung pihak yang mengundang acara. Kalau pengundang akan mengganti biaya taksi berapa pun besaranya, maka saya akan naik taksi. Tapi kalau pengundang hanya mengganti uang transport, maka saya akan pilih diantar teman atau istri.

Oya, mohon maklum. Sebagian besar perjalanan saya yang menggunakan pesawat adalah karena pekerjaan atau kegiatan yang dibayar orang lain. Jadi, faktor biaya ke bandara itu jadi penting. Kalau biaya naik taksi diganti, berapa pun besarnya, tentu tidak masalah. Tapi kalau hanya diganti sebagai uang transport lokal yang sudah pasti besarnya, maka biaya ini harus dihitung dengan hati-hati. Saya kan tidak mau tekor.

Continue reading “Butuh Ojek, Panggil Saja Motor Taxi”

Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan

Susahnya hidup di dunia yang serba maskulin ini adalah perempuan selalu jadi objek. Atau malah jadi komoditas, sesuatu yang bisa diperjualbelikan. Itu pula pengalamanku ketika di Bandung, yang bisa jadi mewakili Sunda itu. Seperti halnya Bali, yang terkenal sebagai pusat perempuan seksi, meski bodi mengalahkan wajah alias BMW (hehehe), Bandung dan Manado memang terkenal juga sebagai pusat perempuan cantik.

Bisa jadi ini memang stereotip, sifat yang kadung dilekatkan pada kelompok tertentu. Misalnya bahwa cewek Sunda itu suka berdandan. Stereotip cewek Sunda, termasuk Bandung, ini sudah sering aku dengar. Namanya stereotip, jadi ya belum tentu benar. Tapi, sebatas pengalamanku lima hari di Bandung, itu memang ada benarnya. Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti semua cewek memang begitu adanya (generalisasi). Tapi pandangan sepintas dan sekilas saja. Tidak usah terlalu ditanggapi serius.

Continue reading “Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan”