Lima laki-laki itu menari membawa api di tangan kanannya. Kedua tangan merentang. Api menyala dari tambang yang dibakar. Lalu, dengan posisi di bawah lengan kiri, api itu digerak-gerakkan. Dari ujung jari ke bahu. Mereka membakar tangan itu!
Tapi tidak ada sakit. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi yang dibakar kedua tangannya pun hanya tersenyum. Peserta lain, yang tangannya dibakar, malah berseru, โRasanya dingin.โ
Tari Pepe-pepe, tari khas Sulawesi Selatan, jadi salah satu tari yang dipertunjukkan pada malam ramah peserta Pertemuan Nasional Harm Reduction (PNHR) II di Benteng Rotterdam Makassar malam ini. Menurut pembawa acara yang cantik itu, tari pepe-pepe merupakan simbol dari perjuangan Ibrahim, salah satu nabi dalam Islam, ketika dibakar raja Namrud. Karena itu penari juga harus dibakar seperti halnya Ibrahim pada saat itu.

Melihat orang dibakar yang tidak merasa sakit, tentu saja aku kagum. Tapi muncul pula rasa heran, tepatnya tidak bisa menerima secara akal sehat. Bagaimana bisa. Orang dibakar kok tidak kesakitan.
Tapi ada tarian lebih sadis lagi, ngurek! Aku melihatnya Rabu pekan lalu, ketika liputan tentang odalan di Pura Beten Kepah, milik keluarga (bekas) petani di Pecatu, Bali. Sebagai bagian dari upacara tiap enem bulan sekali itu, pengempon (mereka yang bersembahyang) di pura itu harus melakukan ngurek.

Dan, ngurek itu memang sadis. Bagaimana tidak. Penari membawa keris lalu menusuk-nusukkan ujung keris itu ke dada. Mereka yang kerauhan (semacam kesurupan) menancapkan ujung keris itu lalu mendorongnya kuat-kuat. Tapi tidak ada darah yang tercecer. Tidak ada yang menjerit karena sakit.
Tari pepe-pepe di Makassar dan ngurek di Bali adalah dua hal yang belum masuk di logikaku. Kenapa para penari itu tidak merasakan sakit apa pun ketika melakukan sesuatu yang sebenarnya menyakitkan?
Bukan hanya di Makassar dan Bali, ada beberapa contoh lain tari-tari yang berbau kekerasan. Tari rodat oleh warga Kampung Bugis di Bali selalu dilakukan dengan membawa pedang. Atraksi debus di Banten dilakukan dengan membacok-bacokkan pedang pada badan. Tari kabasaran di Manado malah dengan cara mengiris lidah, sama halnya dengan debus.
Inilah tradisi kekerasan yang terus saja kita pelihara. Tak heran kita pun akrab dengan begitu banyak kekerasan.

Leave a Reply