Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu

14 , , Permalink 0

Hampir sebelas tahun hidup di Bali dan belum pernah sekali pun menonton tari kecak di Uluwatu, ah, betapa menyedihkan hidup saya. Padahal tarian di sana saat sunset sungguh mengesankan..

Tidak hanya tariannya yang spektakuler, tapi lokasinya juga demikian. Rabu dua pekan lalu, saya akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana tarian Bali itu disajikan dengan latar belakang matahari tenggelam. Kami dan para penari itu di atas tebing Uluwatu, setinggi sekitar 20 meter dari permukaan air laut.

Sayangnya, saya datang terlalu mepet dengan akan dimulainya tarian ini. Tari kecak di Uluwatu dimulai pukul enam petang. Saya sampai di sana sekitar 20 menit sebelumnya. Karena itu tidak cukup waktu untuk menjelajahi bagian-bagian di sekitar Pura Uluwatu ini. Sebenarnya sudah tidak terhitung berapa kali saya ke sini. Tapi ini pertama kali saya datang ke sana pas petang. Biasanya siang-siang.

Petang itu, ketika saya sampai di sana, puluhan penonton bergerombol di depan meja tiket. Untuk menonton tari kecak di Uluwatu, pengunjung harus bayar Rp 50 ribu. Relatif mahal bagi saya. Tapi karena dibayarin kantor, jadi ya tidak masalah. Hehe..

Sambil menunggu antrian untuk masuk, banyak pengunjung yang main-main dengan saudara tua manusia, monyet. Di Uluwatu, yang berada di bagian selatan Bali ini memang banyak sekali monyet. Galak-galak lagi. Sudah terlalu sering saya dapat pengalaman tidak enak di sini. Kacamata kakak diambil. Topi adik diembat. Lalu, makanan atau minuman juga jadi langganan monyet-monyet itu.

Makanya, kalau berkunjung ke Uluwatu, pengunjung harus ekstra waspada dengan monyet-monyet yang sepertinya jinak itu. Lengah sedikit, kita bisa jadi korban.

Selesai foto-foto monyet dengan latar belakang matahari tenggelam, saya pun ikut masuk areal pertunjukan.

Di tempat pertunjukan, berupa panggung melingkar dengan kursi penonton setengah lingkaran, penonton sudah penuh sesak. Kursi penonton berupa beton dengan delapan tingkat. Mirip stadion atau amphi teater. Lalu, panggung tempat penari ada di bagian paling bawah dengan latar belakang matahari tenggelam.

Sore itu tidak ada mendung sedikit pun di ufuk barat. Jadi, sampai matahari itu ditelan laut, masih terlihat bulat penuh. Cahayanya merah jingga dengan kilauan bayangan di permukaan laut. Perfect sunset..

Sementara itu di panggung, tari kecak sudah dimulai. 45 penari laki-laki bertelanjang dada melantunkan suara berirama tanpa musik. Cak. Cak. Cak. Berulang-ulang. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran. Sebuah tungku api berada di tengah-tengah, menjadi semacam pusat lingkaran.

Sebelum tarian dimulai, seorang pemangku memercikkan tirta (air suci) pada semua penari itu. Setelah itu, hening. Mereka diam dengan tangan menangkup di dagu. Berdoa.

Keheningan itu pecah dengan teriakan bersahutan dari penari. Dua orang mengomando. Satu penari lagi bercerita dalam bahasa Bali halus.

Tari kecak di Uluwatu dipertunjukkan oleh Sanggar Tari dan Tabuh Karang Boma Desa Pecatu. Tari selama satu jam ini terdiri dari beberapa babak yang menceritakan tentang legenda klasik Ramayana.

Legenda dari India ini menceritakan kisah cinta Rama dan Sita. Suami istri ini diasingkan di hutan ditemani adik Rama, Laksamana. Muncul tokoh jahat Rahwana yang bernafsu mendapatkan Sita. Menggunakan akal bulusnya, Rahwana menggoda Rama dan adiknya dengan seekor kijang emas. Ketika Rama dan Laksamana mengejar kijang emas itu, Rahwana lalu menculik Sita.

Inilah roman picisan cinta yang terus berulang. Mirip Romeo dan Juliet. Juga banyak di sinetron-sinetron kita. Maka, akhir cerita bisa ditebak. Rama melalui monyet putihnya, Hanoman, kemudian mengambil kembali Sita dari tangan Rahwana.

Babak-babak ini dimainkan para penari dengan gemulainya. Kadang menghentak, kadang sendu. Rama, Sita, Laksaman, Rahwana, dan tokoh cerita lainya datang bergantian di panggung. Dengan latar belakang matahari tenggelam, ritmik gerak mereka melahirkan siluet keren. Selama gerak itu pula, suara akapela dari 45 penari bertelanjang dada terus menggema. Saya sangat menikmati tarian ini.

Kadang sih terasa membosankan, terutama ketika hanya suara akapela dari puluhan penari itu terdengar berulang-ulang. Namun kemunculan beberapa tokoh tambahan, seperti Hanoman, Rangda, Celuluk, yang dikenal sebagai tokoh lucu dalam cerita rakyat Bali bisa menambal lubang kebosanan itu. Dengan gaya ngaconya, Celuluk bergigi besar dan dahi lengar (botak) itu pun kadang cuek masuk ke tengah penonton.

Kelucuan ini mengundang tawa sekitar 500 penonton yang duduk penuh di kursi. Tidak sedikit pula penonton yang mengambil kesempatan foto bersama dengan tokoh-tokoh lucu ini.

Tapi kelucuan ini juga segera berganti ketegangan ketika tarian akan segera berakhir. Sekitar 10 menit menjelang berakhir, muncul tokoh Hanoman dikepung api. Bola-bola api menyala-nyala mengelilingi Hanoman yang diam di tengah lingkaran. Lalu bola-bola itu kemudian ibarat bola sungguhan, ditendang ke sana ke mari. Sebagian penonton menjerit ketika bola api itu mengarah ke tempatnya. Tapi beberapa penari memadamkan api itu. Suasana jadi tegang!

Ketika akhirnya Hanoman lari dari tengah api, saat itu pula ketegangan berganti. Kali ini kembali lucu. Celuluk, Rangda, dan Hanoman muncul untuk bercanda satu sama lain. Lalu, tarian itu ditutup ketika salah satu celuluk membuka topengnya yang berambut ala Indian alias Mohawk mirip anak punk itu ke salah satu penonton.

Ketika semua penonton tertawa, saat itu pula tarian berakhir dengan funny ending..

14 Comments
  • Arie
    May 22, 2008

    nanti nonton yang di GWK juga ya Ommmm 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 22, 2008

    @ arie: boleh2. traktir akuya. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • devari
    May 23, 2008

    waaaa itu baru 11 taon bli antonemang 🙂
    saya sari lahir di Bali ga pernah nonton kecak di sana. sungguh patetik.

    btw, foto monyetnya TOP BANGET

    ReplyReply

    [Reply]

  • devari
    May 23, 2008

    sari=dari

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    May 23, 2008

    sampai saat ini saya juga blm pernah menontonya 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • balibuddy
    May 23, 2008

    yang bawa botol air mineral itu sopo yah ? btw sunsetnya manstab sekali broo

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    May 23, 2008

    wah keren banget :mrgreen:
    *jadi pengen pulang nih*

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    May 23, 2008

    mau donk yg gratisan 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    May 23, 2008

    Aku ga ngerasa difoto ko tiba-tiba ada fotoku ya..
    Tapi, makasih deh. Jujur, itu pose paling seksi yang bisa aku persembahkan untuk menyambut senja.
    Walau bersaing dengan botol yang aku pegang. Tapi siluetnya bikin klepek-klepek kan?

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    May 23, 2008

    *Kacamata kakak diambil. Topi adik diembat. Lalu, makanan atau minuman juga jadi langganan monyet-monyet itu.

    “tenang bli besok tak marahin bos monyetnya…. barangnya masih aman kok, di simpen di lokernya…

    *kabur….. 😎

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 26, 2008

    @ devari: tidak apa2, bli. yg penting udah jalan2 ke karibia. 😀

    @ wira: padahal rajin nonton bokep. 😀

    @ balibuddy: ops, sorry. not me. 😀

    @ erick: udah. segera pulang. bali menunggumu. 🙂

    @ tumik: koen keGRan ndok. kuwi kan bojomu. 😀 ndang update blogmu!

    @ ick: akhirnya bosnya monyet ngaku jg. cepet balikin. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Putu Adi
    June 4, 2008

    @bli Made Devari : Sama dengan saya Bli hehe..kapan2 kita nonton bareng yuk..

    @Om Anton : Tinggi tebing uluwatu sy pernah baca sepertinya kurang lebih 68 meter dpl. Nek ora berubah lho pak Dhe, nuwun sewu (lumayan kuliah tiga tahun di Semarang)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Bhongky
    August 27, 2008

    jadi pengen juga… soalnya aku juga belum pernah

    ReplyReply

    [Reply]

  • maximillian
    November 12, 2008

    haloooooooo

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *