Ini cerita usang yang terus berulang. Aku sudah pernah membacanya di blog Suryawan soal ini. Juga, rasanya buanyak banget orang di Denpasar yang pernah mengalami. Maka dijamin ini isu yang basi banget. Tapi ya daripada hanya disimpan di kepala, lalu jeblug, kepalaku mbledos, jadi ya ditulis saja.
Pemicu tulisan ini adalah perilaku tukang parkir di depan Super Ekonomi (SE) Gatsu Denpasar.
Kemarin aku ambil duit di ATM SE Gatsu, yang memang tidak jauh dari rumahku. Ketika mau cabut, satu tukang parkir segera datang. Tapi bukannya menarik motorku atau sekadar membantu, dia hanya berdiri di belakang dengan peluit di mulutnya. Prit prit. Tanpa basa-basi dia menodongkan tangan. Meminta aku bayar parkir. Lalu, dengan santai dia nyelonong pergi tanpa memberi karcis parkir.
Inilah yang selalu bikin sebal. Apa sih susahnya melakukan sesuatu untuk orang yang parkir. Tidak hanya berdiri menunggu lalu menodongkan tangan padaku. Juga, apa sih salahnya ngasih karcis parkir itu ke orang yang habis bayar. Sebab, kalau tukang parkir tidak memberikan karcis itu padaku, bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan pembayaran itu.
Kadang aku memang kasihan juga dengan tukang parkir. Berdiri di panas-panas dengan pendapatan yang mungkin tidak seberapa. Dua tetanggaku di Subak Dalem adalah tukang parkir. Aku tahu keduanya secara ekonomi termasuk kurang. Tapi, kalau toh mereka memang kekurangan, bukan berarti dibenarkan untuk melakukan sesuatu yang tidak benar?
Leave a Reply