Kopdar Mini ala BBC

Kalau nurut jadwal, Bali Blogger Community (BBC) sebenarnya punya agenda rutin kopi darat (kopdar) tiap dua bulan sekali. Karena terakhir kali kami semua ketemuan Februari lalu pas launching BBC, maka seharusnya April ini ada agenda kopdar. Aku sih memang menunggu saja ada teman yang mau berinisiatif ngundang kumpul dan makan-makan. Sayangnya, ternyata bulan ini tidak ada juga undangan dari pihak berwenang. 🙂

Untunglah, minggu ini aku bisa juga kopdaran dengan beberapa teman BBC di Bandung. Di sela-sela pelatihan menulis yang diadakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, aku berniat ketemu dengan beberapa teman di kota sejuk ini. Dan, senangnya lagi, dua teman BBC di Bandung, Aprillia dan Eka, mau juga diajak ketemuan.

Continue reading “Kopdar Mini ala BBC”

Membandingkan Darut Tauhid dengan Rumah Cemara

Pada hari ketiga Pelatihan Menulis Isu AIDS untuk Wartawan di Bandung, peserta pelatihan diberi tugas untuk liputan ke lapangan. Sekitar 20 peserta dibagi jadi empat kelompok dengan narasumber injecting drugs user (IDU), pekerja seks komersial (PSK), waria, dan man sex with man (MSM) alias gay. Aku sangat bernafsu untuk bisa masuk kelompok yang mewawancari PSK. Apa daya, pas diundi, aku malah dapat IDU, isu yang sudah sering aku tulis.

Di kelompokku ada teman dari Banten, Aceh, Makassar, Medan, dan Palembang. Dwi Wiyana, redaktur TEMPO yang juga pemateri pelatihan mengantarkan kami ke Rumah Cemara, tempat nongkrong junkie, bahasa lain IDU, di Bandung. Semula, aku tidak terlalu antusias. Sepertinya aku tidak akan dapat hal baru di isu HIV/AIDS di kalanga IDU ini. Untungnya sih begitu masuk kawasan ini, aku seperti nemu ironi menarik untuk jadi bahan tulisan.

Continue reading “Membandingkan Darut Tauhid dengan Rumah Cemara”

Mau Makan di Tempat atau Bungkus?

Mendung tebal menggantung di atas kota ketika Merpati Boeing 737 dengan nomor penerbangan MZ 617 dari Bali yang kutumpangi hendak mendarat di Bandar Husein Sastranegara, Bandung. Setelah satu jam dari Surabaya, aku harus transit di sana 30 menit, kami tiba juga. Dari atas, Bandung terlihat sangat padat dengan bangunan. Ketika hendak mendarat, pesawat itu sepertinya sangat dekat dengan rumah-rumah, kantor, masjid, bahkan makam di sekitar bandara.

Melihat dekatnya bandara dengan pemukiman, aku jadi ingat kecelakaan pesawat di Medan dan Solo beberapa waktu lalu. Kalau tidak salah, salah satu alasan kecelakaan itu adalah karena dekatnya bandara dengan perumahan penduduk. Jadi, menurutku, bandara di Bandung masuk kategori berisiko karena dekatnya dengan permukiman warga. Aneh juga ya. Bukannya kota ini adalah pusat orang-orang pintar di bidang hal-hal semacam ini. *Aduh, kok nglantur..*

Continue reading “Mau Makan di Tempat atau Bungkus?”

Istana Mangkunegaran yang Ketinggalan

Ketika kemarin ada SMS dari teman di Appetite Journey untuk menulis perjalanan ke Solo buat majalah travelling dan kuliner tersebut, aku baru ingat lagi kalau aku belum menulis cerita perjalanan ke Istana Mangkunegaran di blog. Padahal perjalanannya sudah Januari lalu.

Maka, pagi ini aku cek lagi foto-foto perjalanan sambilan kerja untuk tempat kerja part time tersebut. Karena masih malas untuk bikin artikel panjang, jadi aku upload foto-foto itu saja ke flickr. Dan, inilah sebagian foto-foto itu. Semua yang di blog ini adalah tentang jendela-jendela di Istana Mangkunegaran tersebut.

Continue reading “Istana Mangkunegaran yang Ketinggalan”

Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar

Kami bersikap layaknya turis Minggu lalu. Ini niat lama yang terus tertunda, naik dokar jalan-jalan di Denpasar. Niat itu muncul kembali setelah baca tulisannya Dek Didi soal keliling Denpasar naik dokar bersama pacar. (Ehm, kalimat yang sangat puitis. Hehe). Tapi lagi-lagi niat itu tertunda pekan lalu karena Bani sakit, demam dan batuk hampir seminggu.

But, yah, akhirnya bisa juga niat itu terwujud juga Minggu kemarin.

Selain ingin menikmati liburan dengan cara berbeda, kami juga ingin tahu seberapa siap sih Denpasar melaksanakan program city tour yang dipromosikan dengan nama Sight Seeing Denpasar itu? Karena itu kami membawa buku bersampul oranye tentang Sight Seeing yang kami peroleh pada peluncuran program ini 29 Desember 2007 lalu.

Continue reading “Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar”

Olahan Buah Naga nan Menggoda

buah-naga-sector-bb.jpg

Hari Raya Imlek Januari lalu membuat menu baru di Sector Bar and Restaurant laris manis. Maklum, menu itu memang mengandalkan buah naga, sesutau yang memang erat hubungannya dengan China: warna merah dan naga. Mungkin ini satu-satunya resto yang menjadikan buah naga sebagai menu makanan andalannya.

Di tangan ahlinya, buah yang bagi sebagian orang mungkin dianggap asing ini ternyata bisa jadi menu spesial di tangan mereka yang ahli. Demikian pula di Sector Bar and Restaurant. Resto yang sebagian besar pengunjungnya adalah pemain golf di lapangan golf Grand Bali Beach ini membuat empat menu baru yang berbahan dasar buah naga yaitu salad, soup, pudding, dan roast chicken dengan campuran buah naga.

Continue reading “Olahan Buah Naga nan Menggoda”

Nyepi Kok Malah Liburan

Nyepi tinggal tiga hari. Tahun ini kebetulan Nyepi pas hari Jumat. Seingetku ini sudah yang kesekian kali Nyepi barengan dengan Jumatan. Unik aja sih. Jadi meski yang Hindu melaksanakan Nyepi, yang muslim tetep bisa Jumatan. Ini pengalaman yang asik bagiku tentang bagaimana saling menghargai di tengah perbedaan. Malah kadang-kadang yang Jumatan itu ada yang sok-sokan seperti Hendro. Jadi mumpung bisa keluar pas Nyepi, dengan ajum-nya dia tidur di tengah jalan. Hehe..

Sebenarnya aku pengen Nyepi keluar Bali. Tidak tahu kenapa pengen banget main ke Alas Purwo, Banyuwangi. Rasanya asik saja menembus hutan itu naik Landrover nyebur lumpur seperti tiga tahun lalu. Kalau tidak ke Banyuwangi bolehlah melali ke Lombok menikmati ayam bakar taliwang. Tapi sayangnya niat hanya jadi niat. Keinginan ini ditunda saja deh dulu. Nanti kalau Bani sudah gede saja jalan-jalan lagi. Syukur-syukur jadi ke Bandung.

Continue reading “Nyepi Kok Malah Liburan”

Enaknya ML di Hari Valentine

Karena inilah aku menikmati benar pekerjaanku saat ini. Senin sampai Rabu aku duduk manis di depan komputer kantor. Kerjaku mengedit tulisan orang yang dikirim buat majalah tempatku kerja part time. Sambil ngedit, aku bisa online dari sekitar pukul 8.30 hingga pukul 5 sore. Makanya aku jadi rajin ngeblog atau gaul di milis. Hehe.

Kadang-kadang, jika ada pekerjaan lain di hari Senin, Selasa, atau Rabu di luar urusan kantor ini, aku tinggal menukarnya dengan hari lain. Batasnya hanya aku harus masuk tiga hari dalam seminggu.

Lalu, sisa hari lain dalam seminggu itu aku bisa gunakan untuk kerjaan lain-lain. Asiknya pekerjaan lain itu, menulis lepas, bisa dilakukan sambil jalan-jalan dan makan-makan. Sudah jalan-jalan dan makan-makan, dibayar pula. Hehe..

Continue reading “Enaknya ML di Hari Valentine”

Barter Selendang dengan Uang

Bertemu dengan orang-orang baru, juga budayanya, selalu menyenangkan. Ini pula yang aku temui selama perjalanan di Flores pada 19-23 Januari lalu.

Salah satu budaya yang aku tahu adalah prosesi menerima tamu, terutama untuk orang yang pertama kali bertemu. Ritual bernama karong sanga (bener gak ya nulisnya?), upacara penyambutan tamu oleh suku Manggarai, ini aku alami tiga kali. Pertama kali di kantor Yakines, LSM lokal di Manggarai Barat. Kedua di Desa Munting, Kecamatan Lembor. Ketiga, di Desa Lontoh, Kecamatan Lembor juga.

Continue reading “Barter Selendang dengan Uang”

Bukit, Gunung, Pantai, Gereja

Sebenarnya, jalan raya di Flores tidak seseram yang aku bayangkan. Ketika teman-teman di Bali pada bilang bahwa jalan raya di Flores berupa kelokan tak berkesudahan dan naik turun serta jauh antar-kotanya, maka aku mikir jalan berliku-liku yang lebih parah dari jalan Bedugul-Singaraja atau Bedugul-Seririt di Bali. Jalan menuju Bali bagian utara ini sering bikin aku pusing. Aku bahkan pernah sekali sampai muntah.

Teman-teman di kantor tempatku kerja part time pun bilang kalau jalan di Flores tidak ada bandingannya di Bali. Lalu aku mikir jalan di Puncak, Bogor yang menuju atau dari Bandung. Ini pun berkelok-kelok dan curam. Namun temanku tetap bilang di Flores lebih parah. Makanya aku jadi keder juga. Aku paling takut kalau nanti sampai muntah gara-gara jalanan yang curam dan berkelok-kelok itu.

Continue reading “Bukit, Gunung, Pantai, Gereja”