Cerita Negara dengan Luka dan Trauma

Sudah sebulan lalu lalu pulang dari Kamboja. But, baru sekarang bisa nulis cerita selama di sana. Tidak masalah meski telat. Yang penting kan aku masih menyimpan cerita itu. Syukur-syukur kalo ada yang baca cerita ini. Ya, barangkali bisa jadi referensi atau sekadar tempat berbagi.

Aku berangkat karena kebaikan hati teman-teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mereka mendaftarkan aku ikut seleksi Investigative Reporting Course yang diadakan Philippine Centre for Investigative Journalism (PCIJ) dan Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Bangkok. Tidak ada salahnya dicoba kan? Eh, ternyata aku lolos seleksi mewakili media tempatku bekerja. Padahal cuma modal nekat. 🙂

Continue reading “Cerita Negara dengan Luka dan Trauma”

Kamboja, Boleh Juga

Masih di Kamboja,

Ini hari terakhir sebelum besok balik ke Indonesia. Seminggu di sini lumayan juga. Kenal wartawan dari negara tetangga dan belajar dari mereka. Yg dari Filipina terutama, asik banget kayaknya krn didukung undang2 yg emang udah bagus dan terbuka. Panteslah kalo mrk sampe bisa bikin Estrada mundur.

Seharian tadi jalan2. Ke Killing Field, Champa, dll. Asik juga. Apalagi ceweknya cakep2 dan sexy. 🙂 But, kenapa ya kok orang sini lebih suka pake dollar Amrik daripada riel, uang mereka. Amrik emang bener2 penjajah semuanya!

– dari pinggir sungai Tonle Sap, Phnom Penh. Di sini gerimis. Romantis banget-

Untunglah Tetap Semangat..

Dor!

Sekarang di salah satu pojok gate E1, Bandara Changi, Singapore. Aku dalam perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja utk ikut kursus jurnalisme investigasi sampe 1 Agustus ntar. Sejak dari Bali tadi pagi, di Jakarta, dan sekarang fisikku masih payah. Pilek, demam, dan sedikit pusing. Padahal aku udah minum Sanaflu. Ya, untunglah semangat tetap menyala! He.he.

Ok. Ntar lagi pesawat Silk Air take off. Aku harus siap2.

-dari s’pore jam 3.30 waktu setempat-