Garuda Wisnu Kencana, a neglected mega project

Anton Muhajir, Contributor, Jimbaran

The 50 or so visitors milling around the 20-hectare Garuda Winsu Kencana cultural park in Jimbaran looked small in comparison to their surroundings.

“It’s like visiting a cemetery,” said a young girl watching the sunset from the park, which sits on a hill south of Denpasar.

The beautiful and serene park, overlooking Jimbaran Bay, was originally meant to be the best cultural park in Indonesia, and maybe, one day, the world.

Continue reading “Garuda Wisnu Kencana, a neglected mega project”

Mereka Tak Melakukan Apa-apa. Tapi Mereka yang Menderita…

Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya Jumat pekan lalu aku bisa ke Desa Goris, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Desa ini berjarak 200 km lebih dari Denpasar ke arah utara. Perjalanan lebih dari tiga jam lewat darat. Maka perlu waktu sehari penuh untuk bisa ke desa ini. Karena itulah beberapa kali niatku tertunda. But, ya syukurnya kesampain juga.

Desa Goris, berada di jalur utara (pantura) Bali. Secara adminisitratif masuk kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Desa kecil ini terbelah oleh jalan raya antara Gilimanuk, pintu masuk Bali dari Jawa, dengan Singaraja, bekas ibukota Provinsi Bali. Toh, desa ini terlihat gersang. Tidak sepadan dengan mereka yang lalu lalang. Ketika aku datang, debu beterbangan. Apalagi kendaraan yang lalu lalang juga banyak. Suasana desa sangat panas.

Niatku datang ke desa ini karena aku udah dengar sebelumnya tentang anak-anak di desa ini. Dan itu memang benar adanya.

Aku ke desa itu untuk bertemu dengan anak-anak yang sudah yatim, piatu, atau yatim piatu. Orang tua mereka meninggal karena AIDS, sindrom yang menyerang kekebalan tubuh itu. Ada 14 anak di desa ini yang demikian. Ada Kadek Setiawan, 10 tahun yang bapaknya meninggal dua tahun lalu. Sulatra bapaknya Setiawan meninggal karena AIDS. Ketika masih hidup dia suka ganti-ganti pasangan dan tidak pakai pengaman. HIV yang diidapnya ditularkan pada Widiasih, istrinya. Setahun lalu, istrinya juga meninggal. Kadek kini tinggal bersama Made Yasa pamannya.

Kadek, tentu saja, tidak pernah ganti-ganti pasangan, atau pake jarum suntik bersama, atau berbuat hal yang berisiko tinggi kena HIV. Umurnya masih muda, baru 10 tahun. Tapi kini dia harus hidup sendiri karena perbuatan bapaknya. Ketika aku ajak ngobrol tak ada cahaya sama sekali di mata itu. Dia hanya menatap kosong. “Padahal dulu dia pinter,” kata pamannya.

Ada pula Sunanjaya dan Susanti, kakak beradik yang masih balita. Mereka kini diasuh neneknya. Mereka tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar norma, dan semacamnya namun mereka harus menanggung akibat yang begitu berat.

Untungnya 14 anak di desa itu tak ada satupun yang positif HV. Mereka kini didampingi Suryakanta, kelompok dukungan untuk anak2 yatim karena AIDS. Pengasuh mereka diberi babi untuk kemudian diternakkan. “Meski tidak besar, ternak babi bisa menghidupi mereka,” kata Planet yang mengunjungi mereka tiap akhir pekan.

Hari itu, aku dan teman-teman hanya bisa bertemu dan ngobrol dengan mereka. Belum banyak yang bisa kami lakukan selain bantuan sekadarnya. But, tatap mata mereka seperti mengharap kapan-kapan kami untuk kembali lagi..

Perjalanan ke Alas Purwo Banyuwangi

Ketika ada teman yang mengajak liburan ke Banyuwangi, aku mengiyakan saja. Kenapa tidak? Kalo gak salah sudah tiga tahun ini aku Nyepi di Bali. Terakhir aku keluar Bali pas Nyepi sekitar 2001 lalu. Waktu itu ke Lombok. Menikmati Senggigi, Kute, Narmada, Sesaot, Gili Meno, juga ayam bakar Taliwang. Hm, pedesnya siapa tahan..

So, Nyepi ini aku ikut saja ke Banyuwangi. Toh, biasanya juga hanya lewat. Itu juga kalo perjalananku ke Jawa lewat jalur selatan. Setiap tempat baru biasanya membuatku bersemangat. Mumpung liburan tiga hari. Jadi refreshing bentarlah.

Kamis sore kami sampai Ketapang. Wowok, temanku itu ngajak nginep di tempat om-nya. Jumat pagi kami baru dijemput Agung, teman kuliah yang sudah lulus. Sekarang dia kerja di Petrokimia Gresik untuk wilayah Banyuwangi. Nama tempat temenku tuh asik juga, Glenmore. Mirip2 bahasa Inggris atau Belanda. Kata Agung sih memang dari bahasa Belanda. Kurang lebih artinya dataran tinggi. Dulu banyak Londo tinggal di Glenmore untuk ngurus kebun. Daerah ini memang banyak perkebunan sampai sekarang.

Continue reading “Perjalanan ke Alas Purwo Banyuwangi”

Malang Mendung Terus

Mendung menggantung sejak sore kemarin aku sampe Malang. Aku tidak terlalu nyaman dengan cuaca dingin. Kulingkarkan syal di leher ketika baru turun dari bus. Kusedekapkan tangan, barangkali bisa mengusir dingin. Toh, bulu kudukku masih berdiri. Cuaca ini tidak terlalu akrab bagiku.

Beberapa hari ini aku memang hanya menemui cuaca mendung. Barangkali tidak hanya kita, alam pun tengah berduka dengan apa yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara.

-Semoga semua korban bencana itu; di Aceh, Sumatera Utara, India, Phuket, Srilanka, dst mendapat tempat semestinya di surga-

Tadi pas lewat depan Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, puluhan mahasiswa sedang melakukan aksi solidaritas untuk Aceh. Beberapa pasang mahasiswa sedang berdiri di tengah jalan sambil membawa kardus terbuka, meminta sumbangan. Hm, seharusnya aku juga melakukan hal yang sama kalau tidak sedang melakukan perjalanan ini.

Continue reading “Malang Mendung Terus”

Wisata Gua di Kota Tua

-oleh2 pas liburan lebaran lalu-

Khusni Alhan, 38 tahun, harus merunduk ketika memasuki salah satu celah kecil dalam gua. Celah seluas sekitar 50 cm x 30 cm tersebut hanya cukup untuk satu orang. Karena itu Alhan harus masuk terlebih dahulu baru kemudian anaknya, Rizqy Muhammad Farhan, 2 tahun. Setelah melewati celah kecil tersebut bapak dan anak warga Duren Sawit, Jakarta Timur tersebut sampai di sebuah ruangan seukuran sekitar 2 m x 4 m setinggi 2,5 m. Gua kecil di dalam gua tersebut bernama Pasepen Kori Sinandhi. Hingga saat ini, kadang-kadang ada orang bermeditasi di dalam gua kecil tersebut. Karena itulah disebut pasepen yang berarti tempat bertapa (meditasi).

Pasepen Kori Sinandhi hanya salah satu gua kecil di dalam Gua Akbar. Gua yang ditemukan pada 1998 ini merupakan gua terbesar di Tuban, Jawa Timur, sekitar 100 km dari Surabaya, ibukota Jawa Timur. Melalui jalur darat perlu waktu sekitar 2 jam. Tuban merupakan kota tua di bibir pantai utara Jawa Timur. Karena letaknya ini, pada 1275, Tuban sudah menjadi pelabuhan bagi saudagar Cina yang datang ke Jawa.

Continue reading “Wisata Gua di Kota Tua”

Dunia Memang Tidak Adil

Jumat sampe Minggu lalu liputan – apa liburan ya? ๐Ÿ™‚ – di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Dari Denpasar sekitar 200 km, perlu waktu sekitar 3 jam naik mobil pribadi. Kalau dengan kendaraan umum mungkin lebih lama. Pemuteran desa kecil di bibir pantai utara Bali. Ada jalan raya besar menghubungkan Gilimanuk dan Singaraja. Gilimanuk pintu masuk utama ke Bali jika lewat darat. Sedangkan Singaraja, dulunya ibukota Bali sebelum kemudian pindah ke Denpasar.

Pemuteran termasuk desa kering. Buktinya pas aku ke sana, tanah desa berdebu. Kering. Pohon-pohon juga meranggas tanpa daun. Di bagian selatan desa ini, bukit Pulaki membentang dengan bentuk kaya grafik: dari paling rendah lalu naik. Cuma bukit itu keliatan kering. Di beberapa titik keliatan kerontang. Di bagian utara, desa ini berbatas pantai utara. Dan, ini yang jadi daya tarik Pemuteran.

Continue reading “Dunia Memang Tidak Adil”

Berlayar Bersama Prince William di Laut Utara

Sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi terasa sangat nikmat di Graha Wisata Kuningan pada Senin (6/10) malam itu. Diterangi empat senter, sebab saat itu listrik mati, kami bisa berbicara saling terbuka tentang apa yang kami alami masing-masing, juga diselingi itu tadi, nasi goreng!

Malam itu adalah malam terakhir setelah sekitar dua minggu perjalanan sebelumnya kami bersama.

Inilah malam puncak kelelahan fisik maupun mental serta kerinduan akan Indonesia, terutama makanannya. Indonesia ternyata negara yang tetap layak dikangenin, meski hanya ditinggalkan dua minggu. Pada 24 September โ€“ 3 Oktober 2003, kami mengikuti Voyage of Understanding (sengaja tetap ditulis dalam bahasa Inggris, sebab agak susah kalau di-Indonesia-kan, J). Pelayaran itu diadakan Encompass Trust dan Sail Training Association (STA).

Selama dua minggu kami mengarungi Laut Utara dari Ipswich (Inggris) ke Hull (Inggris) melewati Den Helder (Belanda) dan Great Yarmouth (Inggris). Selama itu pula perut kami diisi makanan Eropa. Awalnya sih enak-enak aja. Lama-lama kok bosen dengan makanan-makanan itu. Untung ada nasi goreng dengan telur mata sapi yang bisa mengobati kerinduan makanan Indonesia pada malam terakhir di Jakarta itu tadi.

Sebelum berangkat
Awalnya sekitar pertengahan Agustus kami mendapat informasi tentang program tersebut dari Om Heru Suprapto, dari Yayasa Agadhipa Jakarta. Pertama dapat informasi itu kami tidak terlalu yakin dengan program tersebut. Namun, keraguan itu sedikit pupus ketika kami bertemu langsung dengan Om Heru pada seleksi di Travel Perama Jl Legian 39 Kuta.

Kami beruntung karena lolos seleksi wawancara dan tulis dalam bahasa Inggris. Padahal setidaknya ada 14 calon peserta. Masalah muncul ketika salah satu peserta yang sudah lolos seleksi, Anita Devi, membatalkan keikutsertaannya karena tidak diizinkan rumah sakit tempat praktiknya. Pembatalan itu dilakukan sekitar dua minggu sebelum kami berangkat. Padahal Devi sudah bikin paspor segala. Untunglah ada Meydi yang segera bisa mengisi kekosongan tersebut.

Adanya Meydi membuat kami bisa belajar menari janger lebih cepat. Sebab sebelumnya hanya ada Ketut. Jadi sekarang ada dua penari yang bisa ngajari kami nari janger. Selama sebulan kami belajar menari hampir setiap malam di tempat Dewi di Travel Perama Kuta untuk persiapan pertunjukan nanti di Inggris. Selain itu, minggu-minggu tersebut kami juga menyiapkan perlengkapan pribadi dan souvenir untuk Encompass, Braden Family, STA, dan lain-lain.

Persoalan muncul lagi ketika kami dapat kabar dari Dewi bahwa keberangkatan ke Inggris akan dilakukan dari Jakarta. Padahal rencana awalnya dari Bali pada 22 September. Artinya kami harus berangkat dari Bali lebih awal. Ini jadi pikiran.

Rencana awal, selain Dewi dan Ayu, peserta dari Bali akan berangkat ke Jakarta pada 20 September. Eh, tau-tau kami dapat kabar lagi bahwa pada keberangkatan akan dilakukan pada 21 September. Kami pontang-panting. Sebab beberapa peralatan belum lengkap. Selain itu masih ada beberapa agenda yang harus diselesaikan di Bali. Apa boleh buat, kami toh tetap harus berangkat.

Jumat, 19 September 2003, kami berangkat dengan bis Safari Dharma Raya dari Ubung, Denpasar, kecuali Ayu dan Dewi yang naik pesawat. Semuanya diantar keluarganya kecuali aku. [Keciaaan amat ya ๐Ÿ™ ] Sampai Jakarta esoknya kami langsung ke Graha Wisata Kuningan. Di tempat ini pula kami pertama kalinya bertemu dengan Amalia Sari Wulan, satu-satunya peserta dari Yogyakarta.

Setelah kumpul semua termasuk Dewi dan Ayu yang telat, kami mendapat pengarahan di kantor Persatuan Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jakarta dari Om Heru. Pengarahan ini seputar teknis keberangkat juga rencana wawancara dengan wartawan Indopos. Tapi wartawan ini tidak datang esoknya meski sudah bikin janji dengan Om Heru. Itโ€™s not a problem. Sebab kami bikin sendiri press release untuk kemudian dikirim ke beberapa media nasional dan lokal di Bali pada 21 September tersebut. Kami tidak tahu apakah ada media yang memuat press release tersebut.

Akhirnya pada Senin, 22 September 2003 sekitar pukul 17.00 WIB kami meninggalkan Indonesia dengan pesawat KLM lewat Bandara Changi Singapura dan Schipol Amsterdam sebelum sampai Bandara Heathrow London esoknya pukul 09.30 waktu setempat. Setelah bertemu Direktur Encompass Trust Jun Hirst, kami menuju Cambridge untuk bermalam di sana sebelum menuju Ipswich esoknya.

Sampai Cambrdige sekitar pukul dua siang. Istirahat sebentar untuk kemudian bertemu dengan empat peserta dari Irlandia lalu jalan-jalan lihat Cambridge University. Capek, namun sangat menyenangkan.

Di Cambridge pula kami pertama kali bertemu Itay Yosef Lachman, satu-satunya peserta dari Israel. Dengan Itay kami sangat bersemangat diskusi soal Islam, Yahudi, Indonesia, Israel, konflik Palestina, bom bunuh diri, agresi tentara Israel, dan semacamnya. Diskusi yang sangat menarik meski agak terkendala bahasa.

Ipswich, 24 September 2003. Cuaca cerah tanpa mendung. Suhu sekitar 15o C tak terasa dingin karena semangat kami ketika melihat Prince William yang begitu gagah menyambut kami. Bersama Prince William kami akan mengarungi Laut Utara selama 10 hari.

Selama Pelayaran
Rabu sore itu kami gunakan untuk mengenali Prince William. Ternyata dia tidak hanya gagah tapi juga ramah dan bersahabat.

Di dalam perut Prince William terdapat 16 anak buah kapal (ABK) tetap dan lima sukarelawan. Sedangkan peserta pelayaran ini ada 40 remaja dari Indonesia (9 orang), Irlandia (4), Israel (1), dan sisanya dari berbagai kota di Inggris. Peserta dibagi jadi tiga watch yaitu Red, Blue, dan White. Tiap watch dipimpin satu watch leader dari sukarelawan.

Kami terpisah. Luh De dan Ayu di White. Aku, Arif, dan Meydi di Blue. Sedangkan Riza, Ketut, Amalia, dan Dewi di Red. Sore itu, secara berotasi tiap watch mendapat pelajaran tentang bagaimana mengenakan harnes, naik turun tiang kapal, serta mengendalikan arah kapal. Hari pertama diakhiri dinner dengan menu ayam rebus pakai kecap. Setelah itu acara masing-masing. Kami memilih istirahat di kapal ketika peserta lainnya ngebir dan ngebar.

Hari kedua, kami meninggalkan Pelabuhan Ipswich. Kami breakfast sekitar pukul 07.00 dengan menu corn, susu, telur, dan daging. Enak juga. Setelah itu kami mendapat brifing dari Chief Officer Mike Lovegrove seputar perjalanan yang akan kami tempuh.

Oya, dua hari pertama di kapal, beberapa peserta dari Indonesia diwawancarai wartawan media Inggris seputar kegiatan tersebut. Mereka yang diwawancarai adalah Amalia, Dewi, Ketut, dan Riza. Sayang, kami lupa nanya nama medianya.

Pukul 11 siang kapal meninggalkan Ipswich menuju Laut Utara. Kami menyusuri sungai Orwell sekitar dua jam sebelum sampai laut lepas. Kapal masih menggunakan 2 mesin Mercedes masing-masing berkekuatan 330 kw. Barulah pada pukul 2 siang ABK harus mengembangkan layar. Paling tidak perlu waktu sekitar tiga jam untuk mengembangkan seluruh layar.

Menjelang malam beberapa peserta dari Indonesia mengaku pusing. Padahal sehabis breakfast, perawat di kapal Carrie Glynn sudah memberikan obat Scopoderm TTS Patches sebagai pencegah mabuk laut. โ€œIni akan membantu kalian selama tiga hari,โ€ kata perawat imut tersebut. Nyatanya, Lia, Ayu, Ketut, dan Lode tetap mabuk laut. Tapi secara keseluruhan mereka tetap menikmati perjalanan.

Hari ketiga, kami berada di Laut Utara. Kapal melaju dengan kecepatan sekitar 5 knot menggunakan enam layar. Seperti biasa tiap pagi, Mike membrifing seluruh ABK. Kali ini tentang manuver kapal layar yaitu tacking dan wearing. Tidak ada agenda penting hari ini kecuali bersih-bersih dek dan lomba adu cepat kapal mini made in masing-masing watch.

Menu makan siangnya sandwich dengan sup tomat sebagai hidangan pembuka. Sebagian menikmati namun sebagian tidak bisa karena masih juga mabuk. Ayu, Lode, dan Ketut sesekali mabuk laut. Lia yang hari pertama mabuk pada hari ini kembali segar. Dia bahkan dengan garangnya makan sandwich. Apalagi makannya bareng Kash, peserta dari Derby yang mirip George Michael, penyanyi pop yang terkenal itu lho…

Hari keempat kapal memasuki perairan Belanda. Pagi ini Mike menyampaikan bahwa ada perubahan arah angin dan arus. Prince William pun diubah haluannya ke Den Helder, Belanda dari rencana awal ke Brugge, Belgia dulu. Apa boleh buat, kami pun ikut saja. Kan tidak mungkin kalau kami nyebur dan berenang sendiri ke Brugge. Selain dingin banget juga karena kami tidak bisa berenang. ๐Ÿ™‚

โ€œItโ€™ s oke. Yang penting kita segera mendarat,โ€ kataku. Maklum hari itu aku akhirnya mabuk laut juga setelah bersih-bersih toilet. Peserta dari Indonesia tinggal Dewi yang belum pernah mabuk. Meydi, Arif, dan Riza sudah mabuk tadi malam. Tapi semua tetap semangat kecuali Ketut yang, meski sudah melihat daratan, tetap saja cemberut.

Sabtu, 27 September 2003 sekitar pukul 11.00 waktu Inggris, Prince William sampai di pelabuhan Den Helder, Belanda. Selesai bersih-bersih kapal dan lomba survival kits, yang menang Red Watch, kami diperbolehkan jalan-jalan. Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk telpon keluarga di Indonesia dan cari oleh-oleh. Sayang, waktu jalan-jalan hanya sebentar dari pukul 2.30 sampai 4.30 sore. Tapi lumayanlah dapat coklat dengan harga murah. Juga, melihat kota kecil di negeri yang pernah menjajah Indonesia tersebut.

Sorenya diadakan lomba tarik tambang dan keluar masuk tali dengan Blue Watch sebagai pemenang. Asik juga untuk menghilangkan kejenuhan di laut. Selesai dinner, peserta diperbolehkan keluar lagi sampai 10.30 malam. Kami gunakan kesempatan ini untuk cari coklat dan restoran Indonesia. Maklum, baru lihat makanan di kapal aja sudah nek, apalagi makan. Gara-garanya mabuk laut itu tadi. Beruntunglah kami menemukan restoran De Chinese Muur di Beatrixstraat yang menyajikan masakan Indonesia. Meski seporsinya sekitar 8 euro, kami tetap saja pesen gado-gado, nasi goreng, dan ayam boembali (tulisannya begitu di daftar menu). Meski kurang pedas, rasanya tetap saja, alamaaak, nikmat.

Pukul 10 waktu Inggris atau 11 waktu Den Helder, diadakan lomba dayung dengan Blue Watch sebagai pemenang. Kapal meninggalkan kota yang sebagian jalannya menggunakan nama seperti Balistraat, Javastraat, Madurastraat, dan nama beberapa pulau di Indonesia tersebut setelah makan siang. Layar dikembangkan pukul 3 siang. Langit gelap disertai gerimis dan angin kencang hingga malam. Namun malam itu tetap diadakan lomba burung kuat. Tiap watch disuruh mendandani sepasang anggotanya dengan pakaian ala burung. Eh, Blue Watch menang kembali.

Hari keenam, kapal yang semula mengarah ke Brugge, Belgia kembali diarahkan ke Great Yarmouth, Inggris. Menurut kapten Darren Nags, salah satu youth mentor Pat Rodger sakit dan perlu secepatnya dibawa ke rumah sakit. Karena itu, rencana ke Brugge kembali gagal.

Hari itu juga (29 September) kapal merapat di Great Yarmouth sekitar pukul satu siang. Kapal bersandar di depan kantor Great Yarmouth Port Authority. Setelah bersihin kapal kami jalan-jalan. Pukul 05.30 sore kami harus sudah kembali ke kapal sebab acaranya sore itu adalah makan malam dengan pakaian lawan jenis. Cewek pakai pakaian cowok dan sebaliknya. Tidak semuanya sih. Sebab chief officer tetap pakai celana biru dan kaos oblong putih. Peserta dari Indonesia, kecuali Lia, mengenakan baju adat Bali ringan masing-masing. Namun beberapa peserta lain sudah bilang, โ€œWow. Itโ€™s very nice..โ€

Di Great Yarmouth diadakan lomba membungkus telur pada hari ketujuh. Pemenangnya adalah telur yang dibungkus paling bagus dan tidak pecah ketika dilemparkan dari maincourse topsail. Dan, ehm!, pemenangnya lagi-lagi Blue Watch.

Hari itu pula kami kembali berlayar menuju Hull, Inggris. Menurut Mike Great Yarmouth ke Hull bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 24 jam. Namun, tambahnya, peserta harus melakukan beberapa praktik pelayaran seperti beberapa hari pelayaran sebelumnya. Prince William pun kembali mengarungi Laut Utara. Setelah itu, kapal menuju Teluk Humber untuk berhenti di sana dan pesta manggang (berbeque).

Oya, selama berlayar tiap selesai dinner diadakan afterdinner speech yaitu mengenalkan teman satu watch di depan seluruh peserta. Uniknya, tiap peserta yang kenalan dengan peserta dari Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya Richard Wilkinson yang bertugas mengenalkan Kamal Riza. Karena tidak bisa mengucapkan, โ€œNyaโ€, alumni Jurusan Matematika di Universitas Cambridge itu mengucapkan, โ€œTeman saya naman nja Riza.โ€

1 Oktober 2003 sekitar pukul 17.00 jangkar Prince William diturunkan di Teluk Humber. Malam ini ada pesta ayam panggang dan udang goereng. Namun hal yang paling penting adalah malam itu peserta dari Indonesia harus menampilkan atraksi. Berdasarkan hasil latihan selama sekitar sebulan sebelumnya, peserta dari Indonesia menari tari janger yang bercerita tentang hubungan muda mudi. Lia bertugas foto-foto dan menyampaikan makna di balik tarian tersebut.

Udara dingin tak menghalangi semangat kami untuk menari. Selesai menari seluruh penonton memberikan aplaus yang ramainya tak kami sangka. Namun paling mengharukan justru ketika kami diminta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Masih dengan mengenakan pakaian tari, kami semua bersemangat menyanyi di hadapan mereka. Rasanya darah berdesir, bulu kuduk berdiri, dan mata berkaca-kaca.

Semalam di Teluk Humber seperti menjadi milik Indonesia. Apalagi ketika lagu Indonesia Di Sini Senang Di Sana Senang, yang juga diterjemahkan ke bahasa Hebrew (Israel) dan Inggris, dijadikan lagu untuk mengakhiri pelayaran di Hull besoknya. Maka, ketika pada hari kesembilan kami mendarat di Hull, seluruh peserta menyanyikan lagu Di sini senang/ Di sana senang/ Di mana mana hatiku senang/La la la..

Keterangan: tulisan ini dibuat sebagai laporan untuk Encompass Trust dan dimasukkan blog tepat setahun setelah pelayaran. Foto oleh Heroe Suprapto.

Kuta Karnival yang Menyenangkan dan Liar

Biasanya pantai Kuta Bali cuma dipenuhi peselancar, turis berjemur atau jalan-jalan, serta penjual souvenir. Namun, pada 24 September -3 Oktober lalu suasana pantai indah itu berbeda. Umbul-umbul menghias sepanjang bibir pantai. Di salah satu bagian pantai juga ada ramp dan panggung gede. Ada apa gerangan?

Oalah, ternyata selama sepuluh hari tersebut digelar Kuta Karnival. Kuta pun jauh lebih rame dibanding hari lain. Tidak hanya aktivitas pariwisata sebagaimana biasa. Di sana ada juga konser musik, lomba surfing, skateboard, cheerlader, fashion show, parade, dan beragam acara lainnya. Seluruh kegiatan berpusat di Half Way Point, salah satu titik di pantai Kuta yang biasa dipake surfing.

Continue reading “Kuta Karnival yang Menyenangkan dan Liar”

Bersembunyi di Pantai Berkarang Bali Selatan

Lupakan Kuta, Sanur, ataupun Nusa Dua. Menikmati Bali hanya dengan berjemur di pantai-pantai landai tersebut tidak lagi bergengsi. Kini saatnya Anda menikmati liburan yang lebih menantang, eskotis, dan eksklusif. Sebab pantai-pantai berikut hanya diketahui sedikit turis. Informasinya pun lebih bersifat dari mulut ke mulut. Anda tidak akan menemukannya di buku petunjuk ataupun paket perjalanan.

Pantai-pantai ini seluruhnya masuk wilayah Kecamatan Kuta Selatan seperti Pecatu dan Uluwatu. Tidak ada petunjuk resmi menuju ke sana. Arah paling gampang adalah jalan raya menuju Pura Uluwatu, salah satu pura terbesar di Bali di Desa Uluwatu, Bali bagian Selatan. Seluruh pantai berciri sama: bibir pantai pendek, dibatasi dua tebing, pasir putih, ombak besar, dan… tersembunyi! Sebab, pantai ini berada di balik bukit-bukit kecil antara objek wisata Garuda Wisnu Kencana di Bukit Jimbaran hingga Pura Uluwatu.

Continue reading “Bersembunyi di Pantai Berkarang Bali Selatan”

Cerita Tengkorak dari Bukit Choeung Ek

Suara puja dalam bahasa Khmer mengalun dari pengeras suara sebuah kuil kecil di Choeung Ek, sekitar 15 km barat daya Phnom Penh, ibukota Kamboja. Puja itu iramanya sama dengan azan dari masjid atau kidung dari pura. Ketika mendengar pertama kali, aku bahkan mengira suara orang mengaji. “Tapi apa iya di tempat ini ada masjid?” pikirku.

Dari Tan Surya, sopir taksi sekaligus pemandu perjalanan, aku baru tahu bahwa suara itu adalah puja biksu dari kuil atau pagoda. Hari itu, hari terakhir di Kamboja setelah selesai kursus.

Continue reading “Cerita Tengkorak dari Bukit Choeung Ek”