
Makan malam di Melasti Tanah Lot jadi akhir yang menyenangkan setelah tiga minggu ini penuh dengan pekerjaan. Kami di atas tebing sekitar 1 km utara pura Tanah Lot. Sambil bersantap, kami menikmati matahari yang pelan-pelan tenggelam ditelan samudra.

Ketika semburat merah di ufuk barat makin pekat, lalu gelap diam-diam merayap, segelas cocktail -lucu juga namanya kalau dipisah jadi dua “cock” dan “tail”- dihidangkan. Minuman yang disebut juga jungle juice ini campuran dari arak dan soft drink. Warnanya merah marun. Menyegarkan. Rasanya manis. Makanya tidak terasa kadar alkoholnya. Tahu-tahu kepalaku langsung pusing meski baru minum setengahnya. Yaudah, aku ganti dengan kelapa muda saja.
Lalu, menu utama pun tiba. Menu di restoran ini dominan sea food. Makanya pelayannya sampai pakai baju kaos bertuliskan Seafood Lover. Ada udang, kerang, snaper. Menu ini ditambah pesanan khusus sate kambing dan ayam panggang. Jaga-jaga untuk mereka yang tidak mau seafood. Sebagai pelengkap ada sambal bali lengkap: matah, ulek, dst. Sayang, desertnya cuma buah. Kurang berkesan sebagai sebuah akhir santapan.
Tapi, well, ini tetap akhir menarik dari tekanan pekerjaan yang datang bertubi-tubi tiga pekan ini. Maka, kini saatnya hidup “normal” lagi. Lalu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang masih tertunda meski sudah lewat deadline..
Leave a Reply