Bertemu Pejuang Bali Keturunan Israel

Ashram Landih, Kintamani

Makan siang Selasa kemarin benar-benar sempurna. Menunya nasi putih dengan lauk ikan mujahir goreng dan kuah basa genep berisi daging ayam kampung. Sayurnya plecing kacang panjang. Ikan mujahir gorengnya yang gurih dan kriuk-kriuk benar-benar dahsyat. Aku sampai makan tiga potong ikan mujahir berwarna kecoklatan karena dugoreng kering ini.

Namun bagian paling enak dari menu kemarin adalah suasana dan lokasinya. Suhu dingin, berkisar belasan derajat, dengan kabut tipis membuat makanan yang tersaji hangat itu terasa sangat nikmat. Lalu kami menikmati menu itu di tepi tebing. Ada ngarai di bawah kami dan tebing lain di seberang ngarai tersebut. Pohon dan perdu menghijau di sekeliling.

Continue reading “Bertemu Pejuang Bali Keturunan Israel”

Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden

Prince William Tall Ship

Bulan Oktober selalu mengingatkanku pada Daniel Braden, pemuda asal London, Inggris. Kami tidak pernah bertemu secara fisik. Aku hanya membaca namanya di monumen Bom Bali di jalan Legian Kuta. Braden adalah salah satu dari 202 korban peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 lalu.

Namun kematian Braden melahirkan semangat baru bagi pacarnya, Jun Hirst, tentang perlunya membuat dialog lintas budaya antar-remaja. Menurut Jun, yang juga lahir dari keragaman Jepang – Inggris, peledakan bom di Kuta lahir dari fanatisme pada identitas diri dan kebencian pada identitas orang lain.

Continue reading “Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden”

Pak Walikota, Buatlah Tempat Nongkrong di Denpasar

Salah satu hal menarik yang saya temui ketika numpang lewat di Mataram, Jumat pekan lalu adalah adanya tempat nongkrong di kota ini. Di Jalan Udayana, sekitar Bandara Selaparang, ada lokasi yang memang diperuntukkan untuk warga kota duduk santai di sini. Tak hanya bersantai-santai tapi juga bersantap enak dan murah.

Rizal Hakam, sopir taksi yang mengantar saya ke sini menyebut tempat ini kawasan jalan Udayana. Begitu pula dengan pedagang kaki lima yang saya ajak ngobrol malam itu. Jadi memang tidak ada nama khusus untuk menyebut lokasi ini. Saya sebut saja tempat ini pusat lesehan Udayana. Agak unik saja sih. Udayana tapi ada di Mataram. 🙂

Continue reading “Pak Walikota, Buatlah Tempat Nongkrong di Denpasar”

Suara Mengaji di Cafe Senggigi

Berkunjung ke Senggigi, kawasan wisata paling tersohor di Lombok, pada bulan Puasa ternyata memiliki keunikan tersendiri. Suara orang tadarus di antara dentuman musik cafe atau lalu lalang orang usai tarawih di depan turis-turis menenggak bir jadi hal lumrah. Bagiku, kebersamaan dua sisi yang sering kali diposisikan berseberangan itu, adalah hal unik.

Kenikmatan duniawi, yang bagi sebagian orang adalah terlarang, nyatanya bisa berdampingan dengan kenikmatan rohani, yang bagi sebagian orang lain adalah ilusi.

Continue reading “Suara Mengaji di Cafe Senggigi”

Aksen “a” Para Penunggang Kuda

Bahasa Jawa itu punya banyak dialek atau logat. Satu tempat berbeda dialek dengan tempat lain. Karena beda dialek ini, dua orang yang berbicara pun kadang bingung pada makna kata lawan bicaranya satu sama lain meski sama-sama ngomong Bahasa Jawa.

Ini aku alami pula ketika di Bromo, Probolinggo. Pembicaraan sesama penunggang kuda yang memandu perjalanan ke puncak Bromo terdengar asing bagiku. Padahal mereka semua berbincang dalam bahasa Jawa, bahasa yang aku akrabi bahkan sejak aku belum lahir.

Continue reading “Aksen “a” Para Penunggang Kuda”

Semburat Jingga dari Atas Awan

Kabut tebal menyambut perjalanan kami pagi pukul 4 pagi itu. Jarak pandang kurang dari 5 meter. Sinar lampu sepeda motor yang kami tumpangi tak berdaya melawan pekatnya kabut pagi itu.

Tebalnya kabut itu sudah terasa sejak aku meninggalkan penginapan di Cemorolawang, Probolinggo, di kawasan Bromo. Kabut itu bercampur dengan asap yang keluar dari mulutku tiap kali menghembuskan nafas.

Continue reading “Semburat Jingga dari Atas Awan”

Sekilas Mengenal Hindu Tengger

Setiap perjalanan adalah upaya untuk berdialog tentang sebuah kebudayaan. Begitu pula perjalanan sepanjang lautan pasir menuju Gunung Bromo. Suko, pemuda 23 tahun yang sudah jadi pemandu kuda selama tujuh tahun, bisa menjadi teman perjalanan sekaligus pemandu yang menyenangkan. Dia fasih menjelaskan tiap hal yang aku tanyakan tentang kebudayaan masyarakat setempat.

Salah satu yang membuatku tertarik ke Bromo, Probolinggo adalah para penunggang kuda dan lautan pasirnya. Maka begitu sampai di Cemorolawang, salah satu desa gerbang menuju Gunung Bromo, aku langsung cari kuda untuk menuju Bromo.

Continue reading “Sekilas Mengenal Hindu Tengger”

Napak Tilas Dian Sastro Ngesot

Jalur Probolinggo – Cemorolawang akhirnya jadi pilihanku untuk menuju Bromo. Jalur ini satu dari setidaknya empat jalur yang bisa ditempuh jika ingin ke Gunung Bromo. Tiga jalur lain ke Bromo Pasuruan – desa Wonokitri, desa Ngadas dari jalur Malang dan desa Burno dari Lumajang. Untuk sampai di Cemorolawang dari terminal Probolinggo perlu waktu 1,5 jam naik angkutan umum dengan jalan menanjak berkelok-kelok sekitar 30 menit terakhir. Tarif angkutan ini Rp 20 ribu – Rp 25 ribu.

Gunung ini secara administratif masuk Kabupaten Probolinggo. Cemorolawang adalah desa terakhir yang aku temui sebeum turun ke lautan pasir menuju Gunung Bromo. Di dusun yang masuk desa Ngadisari, Kecamatan Sukopuro ini ada fasilitas untuk turis seperti hotel, restoran, bahkan ATM BNI.

Continue reading “Napak Tilas Dian Sastro Ngesot”

Sebagian Gambar Perjalanan ke Kintamani

Sabtu – Minggu kemarin aku, Bunda, dan Bani akhirnya bisa juga ikut treking di Kintamani, Bangli. Agendanya bareng antara Bali Blogger Community (BBC) dan Bali Outbond Communiyt (BOC). Sayangnya kegiatannya beda. BBC treking keliling sebagian danau, BOC mendaki Gunung Batur.

Gambar pertama dicolong dari Facebooknya Nenek Tante Sakti. Foto-foto lain ada di Flickr. Cerita perjalanannya nyusul..

Loncat!

Continue reading “Sebagian Gambar Perjalanan ke Kintamani”

Bersimbah Darah Menghormati Leluhur

Untuk pertama kalinya aku nonton Perang Pandan di Tenganan Pegeringsingan Rabu, tiga hari lalu. Ternyata asik juga. Sayangnya sih aku tidak bisa nonton dari awal sampai selesai. Hanya sekitar tiga jam di sana.

Tapi tidak apalah. Lumayan juga kok buat foto-foto sisi lain dari perang tiap tahun ini. Ini sebagian di antara foto-foto itu..

Peralatan perang pandan terdiri dari satu ikat daun pandan dan tameng terbuat dari anyaman daun ata.

Continue reading “Bersimbah Darah Menghormati Leluhur”