Agar Petani Berdaya Mengakses Informasi

6 , , Permalink 0

Meski baru kenal komputer, para peserta sudah bisa menggunakan email dan blog.

Kami “menguji” beberapa peserta setelah pelatihan di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15-17 Maret ini. Kamis petang ini, setelah selesai seluruh materi tentang menulis di internet, membuat email, serta tata cara mengelola blog selesai, kami minta beberapa peserta mempraktikkannya di depan kami.

Continue Reading…

Bertani, Mendayung Rakit Mendaki Bukit

Seumur-umur, baru kali ini aku liputan sampai naik rakit. Bukan di Kalimantan atau pulau lain yang penuh sungai. Ini di Bali!

Jadinya mengejutkan. Apalagi lokasinya bukan di Bedugul atau Kintamani yang memang ada danaunya, tapi di daerah Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Daerah ini, setahuku, tak punya danau. Adanya cuma sawah di dataran rendah dekat pantai dan kebun rimbun di bukit.

Continue Reading…

Kini Petani yang Memegang Kendali

Petani TTU

Pelajaran menarik dari liputan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur 4-6 Desember lalu adalah tentang bagaimana petani membalik posisi mereka. Dari yang semula tergantung pada tengkulak dan dicurangi pembeli kini mereka yang memegang kendali atas politik dan ekonomi.

Semua kekuatan itu diperoleh setelah mereka sadar bahwa kekuatan-kekuatan mereka terlalu kecil kalau melawan dengan jalan masing-masing. Maka mereka pun memadukan kekuatan-kekuatan kecil itu jadi satu kekuatan bersama, organisasi petani.

Continue Reading…

Revolusi Hijau, Menjerat Petani dengan Racun

Petani Bali

Upaya mengusir hama wereng di sawahnya justru mendatangkan kematian bagi Wayan Jojol, petani di Banjar Wang Bung, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Petani palawija dan padi ini jatuh pingsan setelah menyemprot hama wereng di lahannya dengan pestisida. Ketika petani lain hendak menolongnya, Jojol sudah meninggal.

“Kami menggotongnya dari sawah sudah dalam kondisi meninggal. Tidak jelas penyebabnya. Tapi kemungkinan besar dia keracunan karena pestisida,” Ketut Rena, petani di banjar yang sama, mengenang kematian Jojol yang terjadi pada pertengahan 1985 tersebut.

Continue Reading…

Farmers and consumers benefit from sustainable agriculture

0 , , , , Permalink 0

by Anton Muhajir
Published at Third World Resurgence

While figures and statistics are increasingly showing that sustainable agriculture is viable in ensuring food security and rural livelihoods, it is important to note that agriculture is also about human experiences.  Sustainable agriculture is a story about lives, about how farmers struggle to make changes for a better future.  Drawing on the Indonesian experience, this article presents a set of such stories about farmers in Indonesia who have proven that sustainable agriculture works.

Organic rice farming helps children’s education
JENIA, a woman farmer from Munting village on Flores island, Indonesia, can now plan her children’s education better as she does not have to worry about food for her family. She and other farmers from the village have benefited from sustainable agriculture on an island which is known to suffer from annual food shortages.

Continue Reading…

Tumbuh Tanpa Dukungan Pemerintah

Hira Jhamtani, teman yang juga aktivis dan peneliti tentang globalisasi, mengirim kabar gembira pekan lalu. Tulisanku tentang pertanian organik di Indonesia dimuat Jurnal Third World Resurgence.

Pengantar di tulisan yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris tersebut sebagai berikut.. “While figures and statistics are increasingly showing that sustainable agriculture is viable in ensuring food security and rural livelihoods, it is important to note that agriculture is also about human experiences.  Sustainable agriculture is a story about lives, about how farmers struggle to make changes for a better future.  Drawing on the Indonesian experience, this article presents a set of such stories about farmers in Indonesia who have proven that sustainable agriculture works.”

Ini tulisannya dalam Bahasa Indonesia..

Continue Reading…

Penyeragaman Budaya Lewat Makanan

5 , , , , Permalink 0
Perjalananku ke Mamasa kali ini adalah untuk liputan tentang kedaulatan pangan di kabupaten di Sulawesi Barat ini. Peni, teman program officer VECO Indonesia di Mamasa, bercerita bahwa di kabupaten yang baru terbentuk pada 2002 ini ada Forum Pangan Daerah. Kabupatean ini juga mulai mengembalikan pangan lokal, ubi dan umbi-umbian.

Maka, aku pikir menarik juga kalau menjadikan cerita di Mamasa ini sebagai salah satu bahan tulisan di LONTAR, media internal VECO Indonesia, tempatku kerja part time. Aku pun ke sini sama dua teman, Peni dan Anna, manajer publikasi VECO Indonesia.

Continue Reading…

Merasakan Kembali Kesenjangan Negeri Ini

4 , , , Permalink 0
Sekitar pukul 11.30 tengah malam. Sepanjang jalan hanya gelap. Suara serangga malam menemami perjalanan panjang kami. Tinggal sekitar satu jam lagi kami akan sampai Mamasa, kota tujuan kami setelah perjalanan panjang sejak pukul 11 dari Makassar tadi.

Tapi, truk itu menghalangi perjalanan kami. Padahal Mamasa tinggal sekitar satu jam lagi. Apa boleh buat. Kami tidak bisa lewat. Truk yang mengangkut bahan bangunan itu terperosok di sana. Ban kiri belakangnya masuk lumpur. Truk itu sampai miring.

Continue Reading…

Kintamani farmers keep their coffee pure

0 , , , Permalink 0

Anton Muhajir,  The Jakarta Post, Kintamani | Mon, 01/19/2009 6:03 PM | Bali

For some people, Kintamani coffee is an enjoyable delicacy worth traveling to Bali for. But for Kintamani farmers, it is a serious business.

Coffee farmers in Kintamani go to great lengths to ensure their brand of Arabica coffee reaches an international standard, including penalizing farmers who use chemicals or who fail to abide by the strict regulations for Kintamani coffee bean farming.

Continue Reading…

In Denpasar, farmers struggle against mounting odds

1 , , , , Permalink 0

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Thu, 01/08/2009 10:36 AM | Bali

In the face of rising agriculture costs and the declining value of crops, once prosperous farmers like Rini Suryani are struggling to earn a sufficient income.

Toiling over 45-acres of farmland in Renon, East Denpasar, she spends around Rp 2.1 million in costs to produce a harvest every three to four months valued at between 100,000 per acre and 150,000 per acre, depending on the quality of the season.

Continue Reading…