Dari Rebutan Lahan ke Pengolahan Hasil Pertanian

VECO Indonesia memfasilitasi petani mempertahankan tanah ulayatnya dan mengolah hasil pertanian untuk menaikkan harga jual. Tulisan berikut adalah artikel untuk LONTAR, media internal VECO Indonesia, LSM tempat aku kerja part time.

Advokasi Tanah di Kawasan Watuata
Sejak sebelum Indonesia merdeka, warga adat di tepi hutan Watuata, Kabupaten Ngada sudah hidup dari hasil pertanian mereka termasuk kopi. “Kami sudah di sini sejak zaman Belanda,” kata Vinsensius Loki, petani di kawasan sekitar 10 km barat kota Ngada itu. Secara turun temurun, petani menanam, merawat, dan memanen kopi di tepi maupun di dalam hutan yang mereka anggap milik sendiri. Hasil pertanian mereka dieskpor hingga Amerika Serikat.

Continue reading “Dari Rebutan Lahan ke Pengolahan Hasil Pertanian”

Memadukan Rantai Pertanian yang Berserakan

VECO Indonesia merajut rantai pengembangan pertanian berkelanjutan dari produksi hingga pemasaran. Tulisan ini adalah bagian pertama dari tulisan untuk LONTAR, media internal VECO Indonesia, LSM tempatku kerja part time..

Rovinia Jenia, 28 tahun, semangat bercerita. Dia mengangkat tutup lancing (tempat penyimpanan gabah) di gudang lalu menunjukkan gabah di dalamnya. “Di sini kami bisa menyimpan gabah sampai dua bulan,” katanya. Lancing, wadah dari anyaman bambu, itu jadi tempat menyimpan gabah sekaligus harapan.

Continue reading “Memadukan Rantai Pertanian yang Berserakan”

Bali farmer discovers benefits of going organic

– July 20, 2007

Anton Muhajir, Contributor, Tabanan

When I Gede Hanjaya’ wife Franziska Rapp was suddenly diagnosed with breast cancer, her doctor suggested she undergo surgery and avoid foods with chemical additives.

Hanjaya, a successful garment manufacturer, changed his life to do so. Leaving his business, he developed an organic farming site in his hometown of Tabanan regency, around 70 kilometers west of Denpasar.

“I wanted to produce healthy food for my family,” he said.

For the last 10 years, Hanjaya and his family have consumed fresh, chemical- and pesticide-free produce, with good results.

Continue reading “Bali farmer discovers benefits of going organic”

Kaya Rasa Miskin Pengolahan

Pemasarannya yang terbatas menjadi ciri khas kopi produksi Banjar Kiadan, Desa Pelaga Badung, Bali.

Kopi produksi Banjar Kiadan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung memang tidak seterkenal kopi Banyuatis, Singaraja. Padahal dari desa di Badung utara inilah bahan baku kopi Banyuatis juga disuplai. Orang-orang di Bali menyebut kopi produksi Kiadan ini sebagai kopi pelaga.

Ada dua jenis kopi di Banjar Kiadan yaitu robusta dan arabica. Jenis arabica paling banyak diproduksi untuk keperluan konsumen dari luar desa. Menurut I Nyoman Juta, petani kopi di Pelaga, jenis arabica paling diminati karena rasanya tidak terlalu pahit. Sedangkan penduduk setempat sendiri lebih menyukai jenis robusta. “Orang sini menyukai kopi yang lebih pahit,” katanya. Perbandingan produksinya 75% arabica, 25% robusta.

Continue reading “Kaya Rasa Miskin Pengolahan”