Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan

Sampai hampir pukul 7.30 Wita, mobil pick up yang kami pesan tak juga datang menjemput ke rumah. Padahal semalam sebelumnya kami sudah bilang ke pemilik pick up, tetangga kami di jalan Subak Dalem di pinggiran Denpasar Utara, untuk datang menjemput pukul 7 pagi.

Kami harus berangkat awal karena harus mengambil papan petunjuk jalan yang akan dibawa ke Nusa Lembongan juga jemput bapak ibu yang akan ikut ke sana untuk sembahyang sekalian jalan-jalan. Apalagi Bunda juga harus beli tiket untuk teman-teman yang akan ikut ke pulau seberang tersebut. Jadi harus berangkat lebih awal.

Continue reading “Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan”

Menyantap Nasi India di Depan Toko Cina

Setelah terakhir kali diadakan 44 tahun lalu, -itu sih kata Pak Darma Putra dalam tulisannya di Bale Bengong-, Festival Gajah Mada kembali diadakan tahun ini. Sore tadi, aku bareng Bunda dan Bani pun ke sana untuk tahu seperti apa kemeriahan festival ala Kota Denpasar ini.

Awalnya aku pikir festival ini diadakan sepanjang Gajah Mada, jalan yang masuk bagian dari kota tua Denpasar. Ternyata bukan. Hanya sebagian, tak sampai separuh, jalan yang dipakai perayaan ini.

Continue reading “Menyantap Nasi India di Depan Toko Cina”

Hotel construction marginalizes locals, area vendors claim

Anton Muhajir, Contributor, The Jakarta Post, Karangasem | Thu, 11/20/2008 10:29 AM | Bali

Construction of a major tourism facility has often resulted in the marginalization of smaller, less powerful business entities in its surrounding area.

Nyoman Rimben and Nyoman Sari are two out of as many as 10 small food and souvenir vendors who have suffered that marginalization after construction began on a five-star hotel, Chateau de Bali, on Mimba beach, Karangasem.

Continue reading “Hotel construction marginalizes locals, area vendors claim”

Holidaying while learning something at Bali Botanical Garden

Anton Muhajir,  Contributor,  Bedugul | Tue, 11/11/2008 10:54 AM | Supplement

During their one and a half years in Bali, Rogier Eijkens and his family have gone to Bedugul six times for a holiday. For Eijkens, a Dutch citizen residing in Padanggalak Sanur, holidaying in Bedugul is much better than going to Kuta, Sanur, Nusa Dua and the like.

“If we come here for a holiday, my kids can learn about nature,” said Eijkens, who has two children with his Indonesian wife. In Bedugul, he went on, visitors can learn about plants, for example, the species, where the plants come from and what they are useful for.

Continue reading “Holidaying while learning something at Bali Botanical Garden”

Cerita Lain Mereka yang Tersingkir

Begitu aku sampai di pantai, ibu itu langsung menyergap dengan pernyataan satir. “Pantainya memang bagus. Tapi belakangnya jelek,” katanya.

“Kok jelek, Bu?” tanyaku.

“Ya, karena bukit jadi rusak. Tamu tidak ada. Kami tidak boleh jualan,” jawabnya.

Continue reading “Cerita Lain Mereka yang Tersingkir”

Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat

Sejak kecil, bayanganku tentang Surabaya tuh cenderung sesuatu yang negatif. Mungkin karena beberapa cerita dari kakak dan tetanggaku. Mereka bercerita bagaimana ditodong pisau ketika di tengah angkutan kota. Malah, kakakku sendiri mengalami bagaimana harus melompat dari taksi karena dia ditodong orang. Ada pula teman bercerita kalau dia pernah diacungi celurit saat naik kendaraan umum.

Maka, Surabaya jadi kota yang sarat kekerasan di mataku. Itu pula alasan aku tak terlalu ingin menikmati kota ini lebih detail. Padahal jarak antara Surabaya dan Lamongan, tempatku lahir dan besar, juga tak terlalu jauh. Tiap kali lewat, aku benar-benar hanya lewat. Hampir tak pernah berniat singgah untuk tahu lebih banyak.

Continue reading “Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat”

Menggunakan Media sebagai Alat Advokasi

Diskusi tentang media adalah alasanku untuk mengiyakan ajakan Wahyu pergi ke Surabaya. Teman di Ikatan Korban Napza (IKON) Bali, kelompok mantan atapun pengguna narkoba dengan jarum suntik yang masih aktif, itu bilang kalau teman ngobrol di Surabaya tersebut bagus untuk tempat belajar soal media dan advokasi. Maka, aku mengiyakan ajakan itu.

Selasa malam kemarin, kami pun tiba di Surabaya. Sinyo, teman sesama ex junkie di kota ini menjemput kami dengan BMW tuanya. Oh ya, acara di Surabaya ini memang untuk para pengguna ataupun mantan pengguna. Ada IKON Bali, East Java Action (EJA), dan Performa Semarang. Kami menginap di penginapan sederhana di daerah jalan Darmokali, tak jauh dari Kebun Binatang.

Continue reading “Menggunakan Media sebagai Alat Advokasi”

Mengenal Kuta dari Sudut Berbeda

“Tidak terbayang kalau tidak ikut field trip,” kata Eka Darma Saputra, anggota Bali Blogger Community (BBC) ketika kami sedang di areal Pura Dalem Celuk Waru siang tadi. Senang juga mendengar komentar Eka, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), itu. Sebab itu berarti ada gunanya juga bikin kegiatan Blogger Day Out, jalan-jalan ala blogger ini.

Blogger Day Out adalah kegiatan BBC dalam rangka Kuta Karnival. Sekitar 15 blogger lain juga ikut kegiatan pada Sabtu (18/10/08) ini. Jalan-jalan ala blogger ini berawal dari keinginan BBC untuk turut serta dalam kegiatan Kuta Karnival. Ya, sekali-kali mendukung pariwisata Bali lah.

Continue reading “Mengenal Kuta dari Sudut Berbeda”

Kesurupan Mantram Tropical Transit

Sabtu (2/8) lalu saya ikut perayaan mengenang dr AA Made Djelantik, pangeran dari Puri Karangasem yang meninggal September 2007 lalu. Perayaan ini digelar di Taman Ujung Sukasada, taman air sisa kejayaan Kerajaan Karangasem. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk datang. Tapi karena istri saya ngotot ingin hadir di sana, jadi ya kompromi saja.

Satu hal yang membuat saya tetap mau datang, meski tidak terlalu antusias, adalah karena bedah buku yang akan menghadirkan Goenawan Mohamad, biasa dipanggil GM atau Mas Gun. GM bukan hanya wartawan dan sastrawan tapi, bagi saya, juga salah satu filsuf yang sering memberi perspektif alternatif ketika melihat masalah. Maka, kami pun tetap ke Karangasem untuk hadir pada perayaan tersebu.

Continue reading “Kesurupan Mantram Tropical Transit”