Begitu aku sampai di pantai, ibu itu langsung menyergap dengan pernyataan satir. “Pantainya memang bagus. Tapi belakangnya jelek,” katanya.
“Kok jelek, Bu?” tanyaku.
“Ya, karena bukit jadi rusak. Tamu tidak ada. Kami tidak boleh jualan,” jawabnya.
Minggu kemarin aku liputan ke Mimba, Padangbai, Karangasem. Liputan pesanan salah satu media asing ini soal kondisi terakhir pembangunan hotel Chateau the Bali di daerah tersebut. Hotel ini dibangun investor Korea Selatan bernama Han Jung Kok di atas lahan sekitar 8 hektar sejak sekitar tiga bulan lalu.
Tapi karena tanpa izin, pembangunan ini menuai protes. Tak hanya dari LSM seperti Walhi, yang kerjanya memang protes –hehehe-, tapi juga pemerintah. Gubernur Bali Made Mangku Pastika sudah resmi melarang pembangunan yang sebenarnya sudah direstui Bupati Karangasem, mantan kontraktor itu.
Proyek bernilai sekitar US$ 40 juta itu pun berhenti. Resminya sih karena izin yang masih diurus. Tapi dari narasumber lain aku baru tahu kalau investornya malah sedang dicekal di Korea Selatan atas dugaan penggelapan uang. Aku lebih yakin karena alasan kedua.
Kemarin aku lihat ke lapangan. Pembangunan itu benar-benar berhenti. Hanya ada satu escavator dan satu truk nganggur di sana. Escavatornya malah tertutup terpal. Hanya ada satu satpam berjaga di depan.
Hotel itu dibangun dengan mengeruk bukit Mimba, persis di atas Pelabuhan Padangbai. Dari bukit ini pemandangan memang bagus sekali. Pasir putih, ombak berkejaran, laut biru, buih memutih. Deburan ombak terdengar damai.. Agak ironis dengan bukit yang kini rusak akibat proyek tersebut..
Lalu aku masuk ke lokasi proyek. Turun ke arah pantai.
Dua ibu dan dua anaknya sedang membuat canang. Tiga bule sedang berjemur di pantai pendek itu.
Tapi bagi Nyoman Sari dan Nyoman Rimben, dua pedagang di sana, suasana itu tak sebagus sebelumnya. Sebelum ada pembangunan hotel, mereka bisa berjualan dengan bebas. Ada delapan warung lain di pantai sekitar 200 meter itu. Mereka menjual makanan, minuman, souvenir, dan semacamnya. “Hasilnya lebih dari cukup,” kata Sari.
Sebagai gambaran, hanya dari jualan sarung pantai, Sari bisa mendapat setidaknya Rp 120 ribu per hari.
Begitu hotel mulai dibangun, mereka mulai diusir meski dengan embel-embel ganti rugi. Pantai, yang milik publik, itu tak boleh lagi jadi tempat berjualan. Dulunya rata-rata ada 15 turis yang ke sana tiap hari. Kini jarang sekali. Parahnya lagi, kini tak jelas kelanjutan proyek tersebut. Padahal proyek itu memakan jalan masuk ke pantai. “Sekarang dapat lima ratus (rupiah) saja sudah susah,” katanya.
Begitulah pembangunan. Selalu saja ada yang harus dikorbankan. Kali orang-orang kecil seperti Sari dan Rimben..
Leave a Reply