Tag: Yang Tak Bersuara
Perempuan-perempuan Itu Hanyalah Korban
Perlu waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai desa itu. Dari jalan raya Karangasem-Singaraja, kami masih masuk sekitar 4 kilometer dari jalan raya itu. Dari aspal, ganti jalan berdebu. Naik turun jalan berbatu. Di sepanjang jalan, sisa-sisa letusan Gunung Agung yang membatu memenuhi bekas sungai yang kini kering. Desa di kaki gunung tertinggi di Bali itu memang kering. Udaranya panas.
Maka, bagi sebagian besar warga, pilihannya adalah keluar desa. Mereka mekuli, meburuh, dan meninggalkan desanya untuk ke kota. Ada yang jadi sopir, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan pekerjaan lain yang secara sosial ekonomi masuk kelas rendah. Laki-laki yang paling banyak pergi. Meninggalkan anak dan istri di kampung.
Cerita Lain Mereka yang Tersingkir
Begitu aku sampai di pantai, ibu itu langsung menyergap dengan pernyataan satir. “Pantainya memang bagus. Tapi belakangnya jelek,” katanya.
“Kok jelek, Bu?” tanyaku.
“Ya, karena bukit jadi rusak. Tamu tidak ada. Kami tidak boleh jualan,” jawabnya.
Drought, poverty haunt Kubu village
Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Thu, 10/23/2008 10:58 AM | Bali
It was a scorching hot day in Bal, a hamlet in Kubu, one of the poorest villages in Bali. The wind that swept past the village brought nothing but dry dust.
Seventeen-year-old Wayan Teken scooped water from a pond in front of his house with a pail. It was a shallow pond. The water was opaque in color and littered with dried leaves and other garbage. Teken, however, drank the water without hesitation.
Locals divided on golf resort plan
Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Sat, 10/04/2008 11:34 AM | Bali
Bias Putih is a 300 meter-long strip of white sandy beach flanked by two lush hills in Bugbug village, Karangasem, some two and a half hours drive east of the island’s capital Denpasar.
Its scenic beauty and unspoiled shoreline have drawn an increasing number of visitors, foreign as well as domestic, in the last couple of years.
“Many foreign visitors praised the beach for its deep, crystal blue water,” a local I Gusti Ngurah Cakra said.
Street Kids Ministry provides alternative education for the needy
Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Tue, 09/16/2008 10:27 AM | Bali
The tallest among about 15 children in the room, 11-year-old Ni Wayang Komang shyly sang along with the others, clapping her hands at times.
That day she was joining an alternative school for street children in Banjar (neighborhood organization) Penyaitan, Pemecutan, West Denpasar.
The school, named Street Kids Ministry, accommodates children of low-income families in the banjar.
Continue reading “Street Kids Ministry provides alternative education for the needy”
HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities
This article has published in The Jakarta Post Surfing Bali page.
—
HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities
Anton Muhajir , Contributor, Denpasar | Thu, 09/11/2008 11:04 AM | Surfing Bali
In response to a recent government regulation that designated state health workers as the only people officially allowed to distribute syringes and needles to IDUs (Injecting Drugs Users), Bali’s HIV/AIDS non-governmental organizations have developed a new strategy.
Prior to the issuance of the regulation, NGO outreach workers were responsible for distributing needles directly to local IDU communities that participated in government-condoned NEP (Needle Exchange Program) pilot projects.
Continue reading “HIV/AIDS NGOs switch strategy, embrace local communities”
Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara
Kembali, kupenuhi janjiku dalam hati untuk menemui anak-anak itu. Hari ini adalah kali keempat aku mencari anak-anak tukang suun di Pasar Badung tersebut. Tapi kali ini pun gagal. Aku tak menemukan anak-anak yang pernah aku ajak ngobrol akhir Juli lalu itu.
Minggu lalu, bersama Bunda dan Bani, setengah mati aku ubek-ubek pasar terbesar di Bali itu untuk menemukan mereka. Tapi, seperti hari ini, aku juga tak menemukan satu di antara mereka.
Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa
Hari kedua di Jogja, giliran waktunya belajar soal bertani dan sekolah alam. Sebelumnya kami belajar soal penerbitan di Insist Press dan soal pemasaran produk organik di Sahani. Sekarang kami berkunjung ke lahan pasir di Kulon Progo dan sekolah alam di Bantul.
Kami berangkat pagi, pukul 7.30 dari hotel. Sebab kami harus jemput Dja’far Shiddieq, dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM). Pak Daja’far adalah nara sumber kami ketika diskusi soal tanah di Bali. Bersama beberapa dosen dan mahasiswanya, Pak Dja’far juga sedang meneliti lahan pasir di Kulon Progo.
Dari Pak Da’far pula kami tahu tentang petani lahan pasir di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo. Inilah tujuan kami sekarang.
Continue reading “Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa”
Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu
Seorang teman pernah bilang bahwa tidak ada yang bernama kebetulan. Semuanya sudah terhubung satu sama lain tanpa kita sadari. Ada sesuatu yang mengatur itu semua di luar kehendak kita. Kadang aku percaya, kadang tidak. Tergantung situasi dan kondisi saja. 😀
Setelah aku ngobrol dengan Pak Wayan Rebho hari ini, aku percaya dengan itu. Entah esok hari, entah lusa nanti. (Kok kayak lagu Iwan Fals. Hehe). Sore tadi aku liputan tentang petani di kawasan Bali Pecatu Graha (BPG) Kuta Selatan. Proyek besar milik Tommy Soeharto itu dibangun sejak 1996 dan sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1997 dan diikuti kemudian jatuhnya Soeharto pada 1998.

