Tentang Alex,Teman yang Hampir Mati Itu

alex

Kejutan datang bulan lalu. Seorang teman yang dulu hampir mati ternyata telah kembali.

Hari ini aku baru ingat untuk menulis cerita itu kembali.

Namanya Alex. Dia salah satu orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang dulu aku dampingi semasa ikut jadi pendamping alias buddies. It’s been a long time ago. Mungkin sepuluh tahun lalu.

Continue reading “Tentang Alex,Teman yang Hampir Mati Itu”

Kondom, Dilema antara Nikmat dan Sengsara

Fakta di lapangan dan data di kertas memang membuat prihatin.

Di lapangan, setidaknya di Bali, penularan HIV dan AIDS terus menular ke populasi umum. Jika dulu, virus ini hanya di kalangan populasi kunci, semacam pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik (penasun), gay, dan semacamnya, kini HIV mulai menular ke ibu rumah tangga dan anak-anak.

Continue reading “Kondom, Dilema antara Nikmat dan Sengsara”

ODHA, Saatnya Kalian Ngeblog Juga

Sebenarnya tulisan ini untuk membayar utang. πŸ™‚

Desember lalu, teman-teman orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) Berhak Sehat membuat lomba blog tentang HIV dan AIDS. Aku berniat ikut. Tapi, dasar pemalas dan pelupa, sampai pendaftaran lomba ditutup, aku tak juga membuat tulisan tersebut.

Continue reading “ODHA, Saatnya Kalian Ngeblog Juga”

Karena ODHA Tak Sekadar Angka

Di depanku, polisi berpakaian lengkap itu nyuntik heroin.

Tak ada ekspresi bersalah atau canggung sama sekali. Dia datang ke salah satu tempat para pengguna narkoba suntik (penasun) nongkrong. Siang itu beberapa penasun lainnya juga lagi pakaw, bahasa slang menyuntik heroin.

Continue reading “Karena ODHA Tak Sekadar Angka”

Perempuan-perempuan Itu Hanyalah Korban

Perlu waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai desa itu. Dari jalan raya Karangasem-Singaraja, kami masih masuk sekitar 4 kilometer dari jalan raya itu. Dari aspal, ganti jalan berdebu. Naik turun jalan berbatu. Di sepanjang jalan, sisa-sisa letusan Gunung Agung yang membatu memenuhi bekas sungai yang kini kering. Desa di kaki gunung tertinggi di Bali itu memang kering. Udaranya panas.

Maka, bagi sebagian besar warga, pilihannya adalah keluar desa. Mereka mekuli, meburuh, dan meninggalkan desanya untuk ke kota. Ada yang jadi sopir, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan pekerjaan lain yang secara sosial ekonomi masuk kelas rendah. Laki-laki yang paling banyak pergi. Meninggalkan anak dan istri di kampung.

Continue reading “Perempuan-perempuan Itu Hanyalah Korban”