Perlu waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai desa itu. Dari jalan raya Karangasem-Singaraja, kami masih masuk sekitar 4 kilometer dari jalan raya itu. Dari aspal, ganti jalan berdebu. Naik turun jalan berbatu. Di sepanjang jalan, sisa-sisa letusan Gunung Agung yang membatu memenuhi bekas sungai yang kini kering. Desa di kaki gunung tertinggi di Bali itu memang kering. Udaranya panas.
Maka, bagi sebagian besar warga, pilihannya adalah keluar desa. Mereka mekuli, meburuh, dan meninggalkan desanya untuk ke kota. Ada yang jadi sopir, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan pekerjaan lain yang secara sosial ekonomi masuk kelas rendah. Laki-laki yang paling banyak pergi. Meninggalkan anak dan istri di kampung.
Jauh dari istri membuat laki-laki itu berpindah ke lain body. Mereka berhubungan seks dengan pekerja seks komersial. Parahnya lagi mereka tak pakai kondom. Maka HIV, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, itu menular ke mereka, tanpa disadarinya.
Lalu ketika kembali mereka membawa HIV kemudian menularkannya ke istri. Hari ini aku bertemu dengan lima di antara perempuan-perempuan itu. Aku ikut Mbok Putri dan Sogol, dua teman di Yayasan Hatihati yang sejak tahun lalu mendampingi orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di daerah-daerah. Hatihati sebelumnya lebih fokus di pengguna narkoba suntik (penasun) di Denpasar dan sekitarnya.
Tapi kini Hatihati harus mengubah strategi. HIV dan AIDS kini jauh ke pelosok desa-desa, termasuk ibu-ibu yang aku kunjungi hari ini. Ibu-ibu itu tak pernah melakukan perilaku berisiko. Mereka ibu rumah tangga yang setia pada suami masing-masing. Tapi mereka harus menerima akibat ketidaksetiaan suaminya. Mereka tertular HIV. Virus yang selama ini seolah-olah hanya di kota-kota besar itu kini masuk jauh ke pelosok-pelosok desa di Bali: Sengkidu, Abang, Sibetan, dan Sidemen.
Sebagian suami mereka sudah meninggal. Ada yang menjanda. Ada yang menikah lagi. Ada yang kini harus mengurus dua anak yang kemungkinan juga tertular HIV. Ada pula yang anaknya meninggal ketika baru berusia 4 bulan akibat infeksi oportunistik.
Perempuan-perempuan itu benar-benar hanya korban. Mereka tertular dari suaminya namun mereka yang harus menanggung beban. Ada yang lalu dikembalikan pada keluarga besarnya setelah suami yang menularkan itu telah meninggalkan.
Mereka semua harus berobat ke Denpasar, berjarak sekitar 100 km dari rumahnya. Sebab berobat di rumah sakit Karangasem tak cukup membuat nyaman bagi mereka. Orang yang positif HIV memang seringkali mendapat perlakuan berbeda. Oleh dokter juga oleh tetangga. Maka demi menutup sesuatu yang dianggap aib oleh banyak orang, mereka memilih berobat atau cek up tiap bulan di Denpasar.
Itu belum cukup. Mereka juga harus berhadapan dengan kemiskinan. Pendapatan pas-pasan, tanah kering yang menghasilkan hanya di musim hujan, juga tempat tinggal yang bagiku jauh dari layak. Semua masalah itu berkelindan. Tapi masalah mereka jauh dari perhatian..
Perempuan-perempuan miskin dan positif HIV itu hanya jadi korban. Suami mereka tak setia, tak mau pakai kondom, lalu menularkan HIV pada mereka..
Leave a Reply