Month: January 2009
Tetap Bekerja dengan Merdeka
Seperti biasa, Kamis sampai Minggu adalah waktu untuk bekerja dari rumah. Kalau bukan karena ada liputan keluar kota, empat hari ini aku lebih banyak bekerja dari rumah. Menulis sambil momong Bani.
Ini sesuatu yang menyenangkan. Dan terus menerus aku syukuri. Di antara padat pekerjaan, aku bisa menemani Bani. Main, belajar, bobo, bercanda, dan melakukan banyak hal bersama Bani di rumah atau sesekali keluar rumah. Tapi kadang juga sekaligus jadi bapak, tidak hanya sebagai teman. Mandiin, nyuapin, cebokin, dan seterusnya.
In Denpasar, farmers struggle against mounting odds
Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Thu, 01/08/2009 10:36 AM | Bali
In the face of rising agriculture costs and the declining value of crops, once prosperous farmers like Rini Suryani are struggling to earn a sufficient income.
Toiling over 45-acres of farmland in Renon, East Denpasar, she spends around Rp 2.1 million in costs to produce a harvest every three to four months valued at between 100,000 per acre and 150,000 per acre, depending on the quality of the season.
Continue reading “In Denpasar, farmers struggle against mounting odds”
Banyak Cara Membantu Palestina
Sudah lebih dari seminggu pasukan Israel menyerbu jalur Gaza di Palestina. Lebih dari 400 orang jadi korban konflik yak seimbang ini. Tak sedikit pula anak-anak yang mati, padahal mereka mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini cerita usang yang terus berulang. Perang. Gencatan senjata. Perang lagi. Korban lagi. Terus begitu saja. Mungkin inilah konflik terlama yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia.
Indonesia kecipratan. Menggunakan sentimen agama, ribuan orang berunjuk rasa menentang penyerbuan tentara Israel ke Palestina. Partai Keadilan Sejahtera berdemo besar-besaran ke kantor Kedutaan Amerika Serikat dengan membawa bendera partainya. Bukannya bendera Palestina yang dibawa tapi bendera PKS yang diusung tinggi-tinggi. Solidaritas Palestina ternyata bisa juga jadi waktu untuk berkampanye.
Bani and Me at Nusa Lembongan

Somehow, i think it’s the greatest pict i have while trip with Bali Blogger Community (BBC) last week. It’s my Bani, with his longor face. Hehe.. Gus Tulank said, like father like son. Sure. We do..
Ubud Village outlaws unsightly political banners
Anton Muhajir, The Jakarta Post, Gianyar | Mon, 01/05/2009 11:06 AM | Bali
Amid failed attempts by election officials to protect Bali’s beauty by limiting certain campaigning techniques, one village has managed to preserve its natural look by outlawing banners.
Lodtunduh village in Ubud, Gianyar, is all but free of the huge political campaign banners and flags so common in Denpasar.
The village chief refused to sacrifice the village’s beauty for political campaigning.
Continue reading “Ubud Village outlaws unsightly political banners”
Tirulah Kampanye Warga Lodtunduh
Elit politik di Bali, atau bahkan Indonesia, mungkin bisa belajar ke Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar tentang cara berkampanye tanpa harus merusak wajah kota atau desanya. Warga desa ini membuat aturan agar pemasangan atribut kampanye seperti baliho dan bendera parpol hanya dilakukan di tempat tertentu. Jadi rapi dan tertib wajah desa masih terjaga.
Masuk kawasan desa ini, perbedaan itu langsung terasa dibanding desa-desa sekitarnya. Di desa lain, sepanjang jalan dipenuhi wajah para calon anggota legislatif (caleg) dalam baliho atau spanduk dan bendera partai yang berlomba paling tinggi dan paling besar. Begitu pula di tempat lain. Di Denpasar misalnya, baliho, bendera, dan spanduk nyaris memenuhi semua ruas jalan kota. Bukannya membuat orang tertarik, bagiku sih malah merusak wajah kota.
'Kafe' are HIV hotspots: Official
Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Sat, 01/03/2009 10:33 AM | Bali
The growing popularity of kafe (local bars) across Bali has made the island more vulnerable to the spread of HIV (Human Immunodeficiency Virus), as the outlets also serve as a front for prostitution, a senior health official warns.
“The kafe have became not only places to relax but also places to solicit sexual transactions,” Bali AIDS Commission (KPS) spokesperson Mangku Karmaya said at a year-end press briefing earlier this week.
Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan
Sampai hampir pukul 7.30 Wita, mobil pick up yang kami pesan tak juga datang menjemput ke rumah. Padahal semalam sebelumnya kami sudah bilang ke pemilik pick up, tetangga kami di jalan Subak Dalem di pinggiran Denpasar Utara, untuk datang menjemput pukul 7 pagi.
Kami harus berangkat awal karena harus mengambil papan petunjuk jalan yang akan dibawa ke Nusa Lembongan juga jemput bapak ibu yang akan ikut ke sana untuk sembahyang sekalian jalan-jalan. Apalagi Bunda juga harus beli tiket untuk teman-teman yang akan ikut ke pulau seberang tersebut. Jadi harus berangkat lebih awal.
Continue reading “Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan”