Pesan Cumi, Cuma Mimpi

Memenuhi undangan seorang teman, aku, Bunda, dan Bani pun mencoba satu restoran baru di jalan Dewi Madri Renon. Jumat malam lalu, kami pun ke sana dengan perut keroncongan. Pokoknya sudah siap tempurlah..

Suasana restoran yang baru buka sekitar seminggu ini asik. Semua warna bantal dan sandaran kursi yang merah ngejreng mengingatkanku pada restoran Rosso Vivo, yang kemudian diikuti resto sebelahnya, Ocean Beach di jalan raya Pantai Kuta. Dua resto ini tak hanya menawarkan makanan dan minuman tapi juga suasana.

Continue reading “Pesan Cumi, Cuma Mimpi”

Pasti Pas!, Pasti Tak Puas

Pasti Pas! Pertamina

Petugas staisun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) alias pom bensin itu tak tersenyum pada saya. Padahal seharusnya dia melakukannya, memberikan senyuman pada pelanggan. Atau setidaknya menyapa lah. Petugas benisn itu juga tak menunjukkan angka meteran menunjukkan 0 (nol). Padahal seharusnya dia menyampaikannya pada saya, atau bahkan menunjukkan pada saya bahwa meteran penunjuk bensin itu memang nol.

Bukan. Saya bukan gila hormat sehingga harus diberi senyum. Atau saya terlalu perhitungan sehingga harus ditunjukkan angka nol sebelum mengisi bensin. Saya hanya menuntut hak saya sebagai konsumen. Sebab tanda di pom bensin itu menunjukkan demikian, bahwa mereka siap memberikan layanan yang memuaskan semua pelanggan, termasuk saya.

Continue reading “Pasti Pas!, Pasti Tak Puas”

Tempat Nongkrong Para Kalong

Kalong yang aku maksud adalah mereka yang suka begadang hingga larut malam. Atau bisa saja mereka yang setidaknya keluar ketika gelap sudah datang. Sebagai kota urban, Denpasar juga punya beberapa tempat untuk nongkrong ketika malam.

Tentu saja jumlahnya juga bejibun. Tapi dari sekian tempat itu, hanya sedikit tempat yang aku pilih sebagai tempat favorit. Di antaranya ada di bawah ini. Ciri khas utama tempat-tempat ini adalah sama-sama jual makanan dan murah meriah.

Continue reading “Tempat Nongkrong Para Kalong”

Tak Bisa Babi, Ayam pun Jadi

Babi guling adalah salah satu makanan yang sangat khas Bali. Banyak orang tidak merasa lengkap berkunjung ke Bali tanpa terlebih dulu menyantap menu ini. Beberapa temanku yang sedang di Bali untuk pekerjaan atau liburan sering berbincang bahwa babi guling adalah salah satu menu wajib ketik berkunjung ke pulau ini.

Ada yang memilih karena daging babinya itu sendiri. Tak sedikit pula yang memilih menu ini karena cara masaknya, diguling.

Continue reading “Tak Bisa Babi, Ayam pun Jadi”

Mencari Siomai pada Ahlinya

Salah satu hal yang unik dari pengalaman berburu makanan adalah melihat sisi-sisi lain yang kadang tak nyambung sama sekali dengan makanan itu sendiri. Misalnya… nasionalisme di balik makanan.

Hal ini pertama kali aku sadari ketika ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2002 di Desa Medewi, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali. Ketika aku dan beberapa teman sedang ngopi sore di warung pemilik rumah tempat kami tinggal, datang penjual krupuk menawarkan dagangan.

Continue reading “Mencari Siomai pada Ahlinya”

Mencari Tempat Diskusi di Denpasar

Pekan lalu, Ana, teman yang baru tinggal di Bali mengeluh tentang ketertinggalannya soal wacana film. Teman itu lahir dan besar di Jakarta. Dia pernah bekerja di Timor Leste sebelum bekerja di Bali sejak sekitar Oktober lalu. Obrolan kami terjadi ketika kami diskusi kecil soal Slumdog Millionare, film pemenang delapan kategori di Oscar tahun ini.

Ketertinggalan wacana itu, kata Ana, karena kurangnya tempat diskusi di Denpasar. Dia sih membandingkan kondisi Bali dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, ceritanya, mau diskusi soal seni misalnya bisa di Taman Ismail Marzuki (TIM). Atau, contoh lain, soal peluncuran buku bisa di Aksara, Kemang. Dan seterusnya..

Continue reading “Mencari Tempat Diskusi di Denpasar”

Nikmat Menanti di Made Weti

“Dua nasi campur, Bu,” kata saya pada ibu yang melayani pembeli di warung Made Weti Sanut, Minggu (22/2) lalu.

“Ya, Pak. Tunggu ya,” kata ibu itu sambil sibuk melayani pembeli lain. Dia menyendok nasi, memasukkan berbagai macam lauk, lalu memberikannya pada perempuan lain yang berdiri membantunya mengantarkan nasi itu pada pembeli.

Continue reading “Nikmat Menanti di Made Weti”

Ketika Denpasar Serasa Amsterdam

Senin pagi ini aku pikir sudah tidak ada masalah akibat hujan yang mengguyur Denpasar empat hari terakhir. Sebab, di Jalan Subak Dalem, di mana aku tinggal sudah tidak ada lagi banjir. Air sungai kecil di dekat rumah memang masih tinggi dan deras arusnya, padahal biasanya kecil dan relatif tenang, namun tidak sampai masuk ke gang.

Maka, pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan santai saja. Maksudnya tidak berpikir bahwa harus mempersiapkan mental untuk menghadapi banjir. Eh, ternyata salah. Banjir masih terjadi di beberapa titik di Denpasar.

Continue reading “Ketika Denpasar Serasa Amsterdam”

In Denpasar, farmers struggle against mounting odds

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Thu, 01/08/2009 10:36 AM | Bali

In the face of rising agriculture costs and the declining value of crops, once prosperous farmers like Rini Suryani are struggling to earn a sufficient income.

Toiling over 45-acres of farmland in Renon, East Denpasar, she spends around Rp 2.1 million in costs to produce a harvest every three to four months valued at between 100,000 per acre and 150,000 per acre, depending on the quality of the season.

Continue reading “In Denpasar, farmers struggle against mounting odds”

Merayakan Setelah Kematian Datang

Sudah tengah malam. Namun suara orang menyanyi diiringi gitar masih terdengar di gangku. Tumben saja sih. Sudah lama aku tidak mendengar suara orang gaduh di tengah malam. Tapi sudah beberapa malam ini suara-suara orang bernyanyi itu terdengar sampai larut malam.

Suara nyanyian itu datang dari orang-orang yang lagi duduk-duduk di depan gang kecil ke rumah Gede, salah satu tetanggaku. Kemarin kakek Gede yang sudah uzur banget meninggal. Tidak ada tangisan. Mungkin juga karena umur si kakek yang sudah tua dan sakit cukup lama.

Continue reading “Merayakan Setelah Kematian Datang”