Resistant virus threatens people with HIV/AIDS

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 02/08/2007 4:57 PM | Life

Anton Muhajir, Contributors, Denpasar

Thirty-four-year Agung has serious problems with his eyesight. His right eye is not functioning at all, while the vision in his left eye is filled with black dots. Agung works as a truck driver delivering gasoline from the Pesanggaran area of South Denpasar to places throughout the provincial capital of Bali.

For the last few months, Agung could no longer see things clearly. The father of one can see nothing but blurred images within a five-meter distance.

Continue reading “Resistant virus threatens people with HIV/AIDS”

Photos reveal strength, optimism

The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 05/26/2006 1:25 PM | Life

I Wayan Juniartha, The Jakarta Post, Denpasar, Bali

Anybody could sense the tristesse in his faltering voice. Yet, along with the anguish there was also a trace of hard-nosed realism to his words. Robbie Baria, a young photographer, both lamented and rejoiced at the weeks he had spent with a poor, HIV-infected housewife at Pemuteran, a coastal village in northern Bali.

“”The entire experience has deeply affected my life. It put me in face-to-face contact with the harsh reality of poverty and suffering. On the other hand, it also introduced me to an individual, who, above all else, refused to give in to one of the world’s brutal tragedies,”” he said.

Continue reading “Photos reveal strength, optimism”

Bayarlah Visa Begitu Tiba

Meski diwarnai kekhawatiran kalangan pariwisata, Visa on Arrival akhirnya diterapkan pemerintah. Sebagian besar turis tidak keberatan selama jelas informasinya.

Senin, 2 Februari 2004 siang di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Ngurah Rai, Tuban, Bali lalu beberapa turis yang baru turun dari pesawat terlihat bengong. Sebab kedatangan mereka “disambut” kunjungan Ketua DPRD Bali IBP Wesnawa, Kepala Dinas Pariwisata Bali Gede Nurjaya, Kepala Cabang Bandara Ngurah Rai IGM Dhordhy, Kepala Cabang Imigrasi I Gede Widhiarta, serta puluhan pejabat lainnya.

Hari itu merupakan hari kedua pelaksanaan Visa on Arrival (VoA). Para pejabat itu mengecek langsung bagaimana pelaksanaan VoA tersebut. Ketua DPRD misalnya melihat ke beberapa loket di tempat penarikan sedangkan Kepala Dinas Pariwisata bertanya ke beberapa turis.

Sejak 1 Februari pukul pemerintah Indonesia memang mulai memberlakukan VoA tersebut untuk wisatawan mancanegara kecuali dari Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, Filipina, Vietnam, Hongkong, Makao, Maroko, Peru, dan Chile. Besarnya VoA tersebut US$ 10 untuk mereka yang tinggal 1-3 hari dan US$ 25 bagi mereka yang tinggal 4-30 hari. Untuk mereka yang tinggal lebih dari 30 hari akan diberikan denda US$ 20 per hari.

Pemberlakukan VoA tersebut tetap dilakukan pemerintahdi tengah gencarnya protes pihak pariwisata. Alasan yang disampaikan pelaku wisata tersebut diantaranya karena kondisi pariwisata Indonesia yang belum sepeuhnya pulih akibat bom Bali, Perang Irak, maupun penyakit radang saluran pernafasan akut (SARS). Karena itu, pemberlakukan VoA dianggap bisa memperlemah daya jual pariwisata Indonesia.

Toh, kebijakan itu sudah diterapkan sejak awal Februari lalu. Di Indonesia, Bandara Ngurah Rai merupakan salah satu tempat yang dipergunakan untuk penerapan VoA tersebut. Sejak Minggu lalu itu pun turis asing harus membayar di terminal kedatangan. Di Bandara Ngurah Rai Bali, loket itu terbagi di dua tempat yaitu pintu kedatangan 7 dan 8. Total ada 10 loket untuk imigrasi dan empat loket untuk pembayaran (bank) dalam hal ini adalah BNI.

Tiap turis terlebih dahulu membayar visa tersebut sesuai berapa lama dia akan tinggal kemudian mereka mendapatkan semacam kuitansi pembayaran, merah untuk yang US$ 25 dan hijau untuk US$ 10. Tanda lunas visa itu kemudian diperlihatkan kepada petugas di loket imigrasi yang akan mencocokkan biodata turis itu dengan paspor. Setelah itu, turis tersebut baru mendapat stiker telah membayar visa dari perugas imigrasi yang ditempel di paspor.

Di Bandara Ngurah Rai, 42 penumpang pesaat GA 711 dari Darwin yang mendarat pada pukul 09.45 wita merupakan turis pertama yang mendapat pelayanan VoA. Setelah itu, ratusan turis lain dari Australia, Jerman, Inggris, Taiwan, Jepang, maupun negara lain pun menyusul.

Dalam pantauan GATRA, beberapa turis masih belum tahu dengan adanya pemberlakukan VoA tersebut sehingga mereka tetap nyelonong ketika sudah dikasi tahu petugas. Pada hari pertama pelaksanaan VoA, setidaknya ada 1.800 turis yang harus membayar. Menurut Kacab Bandara Ngurah Rai IGM Dhordy, jumlah itu tidak jauh berbeda dengan hari biasanya.

General Manager Garuda Cabang Bali Kriston Rasmanto pun menyatakan hingga hari kedua pelaksanaan VoA tersebut, jumlah penumpang pesawat Garuda dari berbagai negara tujuan Garuda tetap stabil. “Kalau kita melihat pengaruh penerapan visa on arrival itu dalam satu dua hari ini ya belum bisa,” katanya.

Namun Kriston memberikan gambaran, jumlah penumpang Garuda tetap berkisar antara 60-70%. Saat ini, Garuda Indonesia masih melayani penerbangan internasional ke Perth, Melbourne, Sydney, Darwin, Auckland, Tokyo, Osaka, Nagoya, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Ketua Bali Tourism Board Putu Antara yang selama ini getol menolak VoA juga mengatakan belum bisa melihat pengaruh pemberlakuan VoA terdahap pariwisata Bali dalam satu minggu ini. Beberapa hotel yang dihubungi GATRA juga menyatakan hal sama. “Namun kami terus memantau bagaimana penerapannya di lapangan,” kata Antara.

Pemantauan itu dilakukan untuk melihat apakah turis dipersulit atau petugas kewalahan dalam melayani visa tersebut. Kadiparda Bali yang baru dilantik Gede Nurjaya juga memberikan komentar sama. “Kita akan evaluasi sambil berjalan,” katanya.

Umumnya turis mengaku tidak mempermasalahkan adanya VoA tersebut. Mat Fagan, 20 tahun, turis asal Melbourne mengaku sudah diberitahu travel agennya di Australia bahwa sejak 1 Februari ini dia harus membayar visa. Maka, ketika sampai di Bali dia tidak kaget dengan penerapan itu. Selain itu, pemberitahuan juga dilakukan di pesawat sesaat sebelum mendarat. “Saya rasa US$ 25 tidak terlalu mahal,” katanya. Mat datang bersama seorang temannya. Mereka akan tinggal di Bali selama dua minggu.

Toh, beberapa turis juga ada yang keberatan. Seorang turis dari Jerman sampai mengumpat-umpat kepada petugas karena tidak mau bayar visa. Turis itu hendak tinggal di Bali selama 40 hari. Kepada GATRA dia mengaku sebelum ke Indonesia dia pernah mendengar adanya isu penerapan VoA. Maka dia menanyakan hal tersebut kepada Konjen RI di Hamburg, tempat dia tinggal.

Oleh petugas di Konjen dikatakan bahwa karena dia berangkat dari Jerman pada tanggal 31 Januari maka dia tidak usah bayar visa. Nyatanya, dia tetap harus bayar US$ 25. Namun hal paling memberatkan baginya adalah karena dia harus membayar denda US$ 20 per hari setelah lewat 30 hari. “Kalau begini, siapa yang mau datang lagi ke Indonesia,” kata laki-laki bertubuh tambun yang beristri owang Indonesia itu. Sayang, dia tidak mau menyebutkan nama.

Kepala Cabang Imigrasi Ngurah Rai Gede Widhiarta mengaku tidak mengerti alasan orang Jerman tersebut. Sebab hal tersebut sudah keputusan menteri. “Kalau informasi di Konjen salah ya bukan berarti dia tidak bayar,” katanya. [#]

Infeksi Multiorgan pada si Kecil

Seorang bayi di Denpasar karena infeksi multiorgan. Kini dia juga terkena penyakit yang lebih mematikan, infeksi kelenjar otak.

Anak kedua dari pasangan Made Sudarsana dan Ni Ketut Wati itu lahir pada pertengahan November tahun lalu. Dia lahir di rumah sakit Sanglah Denpasar melalui operasi cesar dengan berat 2,5 kg dan panjang 47 cm. Operasi dilakukan karena air ketuban ibu kurang. Selesai melahirkan, ibunya menjalani perawatan di RSUP Sanglah selama lima hari untuk kemudian pulang.

Tujuh hari setelah di rumah, bayi yang belum punya nama itu muntah-muntah. Oleh orangtuanya, bayi tersebut dibawa ke bidan yang kemudian memberikan obat sehingga sakitnya berkurang. Namun, ketika bayi berumur 25 hari, dia tiba-tiba muntah sehingga dibawa ke Puskesmas Abiankasa. Dokter di puskesmas tersebut merujuknya ke RS Wangaya, Denpasar.

Melalui pemeriksaan diketahi bahwa bayi itu mengalami dehidrasi dan sesak napas. Sebagai pengobatan diberikan cairan antibiotika sehingga sesak berkurang dan mulai bisa menyusu. Untuk mengetahui bagian dalam bayi, dia difoto thorax. Dari foto itulah diketahui bahwa bayi itu mengalami infeksi paru-paru dan darah. Menurut I Wayan Reta, dokter spesialis anak di RS Wangaya, bayi tersebut terkena infeksi multiorgan (sepsis neonatorom).

Infeksi neonatorom ini menurut Retayasa bisa terjadi karena beragam sebab antara lain bayi tidak mau menyusu serta bayi tersebut loyo, panas, dan dingin. Disebut infeksi multiorgan karena infeksi tersebut dapat menyerang organ-organ penting pada bayi tersebut seperti paru-paru, darah, otak, hati, ginjal, usus, dan paling parah menyerang otak.

Bisa menyerang ke seluruh organ maupun beberapa diantaranya. Penyebabnya adalah bakteri pseudomonas aeruginosm. Kalau menyerang paru-paru, penderita akan mengalami sesak napas dan wajahnya membiru. Sedangkan kalau darahnya terinfeksi, bayi itu akan mengalami kekurangan darah (anemia) dan gangguan pembekuan darah.

Ketika GATRA melihatnya akhir Desember lalu, bayi tersebut terlihat lemas, terus menangis, dan membiru di bagian kakinya. Pada tubuhnya masih terdapat beberapa selang cairan antibiotik. Menurut ibunya Ni Ketut Wati, sepulang dari perawatan di RS Sanglah Denpasar bayi tersebut memang selalu menangis, tidak mau menyusu, dan muntah-muntah.

Sebelum anaknya lahir, istri dari pegawai di Universitas Udayana Bali ini tidak pernah merasakan hal yang aneh. Dia juga tidak ngidam yang aneh-aneh. Dia hanya mengkonsumsi kalsium setiap hari ketika kandungan berumur 6-9 bulan. Namun dia mengaku bahwa kelahiran anaknya memang lebih lambat hampir sebulan dari yang seharusnya. Padahal, anak pertamanya yang kini berumur enam tahun lahir biasa saja.

Kelahiran yang terlambat ini, menurut Retayasa, bisa jadi salah satu penyebab kekurangan air ketuban ketika melahirkan sehingga ketuban itu pecah dini lalu airnya mengalir dari plasenta ibu ke darah anak. Akibatnya, darah anak pun tercemar kuman yang dibawa air ketuban tersebut. Mudahnya kuman masuk dan menyerang organ bayi ini karena sel-sel untuk membunuh bayi dan kekebalan badan belum terbentuk.

Selain melalui saluran darah ibu ketika melahirkan, tambah Retayasa, kuman juga bisa karena faktor lingkungan yang kurang bersih atau ibunya yang sakit. Lingkungan tempat lahir bayi itu di Jl Sakura Denpasar juga terlihat rapi. Tidak ada tempat kotor seperti selokan terbuka. Namun ketika pulang dari RS Sanglah setelah persalinan, Ketut Wati mengaku sakit pilek, meski hanya 2-3 hari.

Infeksi multiorgan sendiri termasuk penyakit yang rentan terjadi pada bayi. Menurut Retayasa, yang juga Kepala Bagian Perinatologi RS Wangaya, dari 2.500 kelahiran, sekitar 50 bayi bisa terinfeksi multiorgan. Padahal akibatnya bisa sangat berbahaya. Tingkat kematiannya 25 persen hingga 50 persen tergantung pada perawatan.

Kalau menyerang jantung, denyut jantung bayi tidak akan normal menjadi lebih cepat atau lambat. Pada jantung akan membuat hati bengkak dan sekujur tubuh menjadi kunig. Pada ginjal mengakibatkan bayi tidak bisa kencing. Pada usus akan mengakibatkan perut kembung, muntah, dan berak darah. Paling parah, kalau menyerang otak, bayi itu akan kaku tubuh atau kejang-kejang.

Dan, bayi itu kini mengalami infeksi yang paling berbahaya tersebut. Ketika dihubungi GATRA Minggu pekan ini, Retayasa mengatakan bahwa bayi itu juga positif terkena infeksi selaput otak (meningitis). Infeksi pada selaput otak ini baru diketahui dua hari lalu melalui kultur pembiakan cairan sumsum otak. Hasil pemeriksaan memang memerlukan waktu yang cukup lama sehingga baru diketahui bahwa pada cairan sumsum bayi itu terdapat bakteri krepsiela, penyebab meningitis. Resiko kematian akibat meningitis ini, kata Retayasa, lebih dari 50%.

Bakteri ini cukup resisten terhadap antibiotik sehingga antibiotik golongan ceptacidin dan cephalosphorin yang selama ini diberikan kepada bayi itu tidak dapat membunuh bakteri tersebut. Sebagai pengobatan, saat ini diberikan antibiotika golongan ampicilin dan amikasin sebagai pengganti. Untuk mengobati anemia, bayi itu juga diberikan darah jenis O dari bapaknya selama tiga hari masing-masing 28 cc. Saat ini, kalau dilihat sekilas, kondisinya makin membaik. Beratnya 3 kg. Sehari-hari dia sudah menyusu, suhu badannya normal, namun kadang-kadang kejang. Ubun-ubun yang dulu menonjol pun kini datar kembali.

Retayasa mengatakan terinfeksinya kelenjar otak itu dikarenakan pengobatan yang terlambat diberika kepada bayi. Bayi itu baru dibawa ke RS Wangaya pada 9 Desember padahal sudah sakit sejak 26 November. “Tiga belas hari lumayan cepat untuk perkembangbiakan bakteri di dalam otaknya,” kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana Bali ini.

Orangtua si bayi sendiri hanya bisa pasrah. Wati tidak mau menyebutkan berapa biaya yang telah dihabiskan. “Saya berharap anak saya bisa sembuh secepatnya,” kata ibu dua anak ini. namun, Wati masih harus menunggu lebih lama lagi. Sebab, untuk mengetahui bagaimana hasil pengoatan terhadap anaknya itu, dokter memerlukan injeksi selama 21 hari.

Karena sudah berjalan 14 hari, Wati harus menunggu seminggu lagi. Itu pun belum tentu langsung sembuh. Selesai injeksi perlu dilihat apakah bayi panas atau tidak. Kalau suhu badan normal, masih perlu dilakukan CT scan untuk mengetahu apakah memang seluruh bakteri di otak si bayi sudah mati. [#]

Exhibition explores journalistic flaws, hardships

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/26/2004 2:30 PM | Life

I Wayan Juniartha, The Jakarta Post/Denpasar, Bali

The Bali Independent Journalists Alliance (AJI Bali) has a unique way of celebrating its 10th anniversary — organizing a cartoon exhibition, where most of the work deals with the dark side of journalism, from news-spinning and insinuation to the prevailing culture of bribery among local journalists.

Titled “”Journalists in the Eyes of Cartoonists””, the exhibition features 32 works of 17 local cartoonists, including some of the island’s most respected cartoonists such as Ida Bagus Marti naya, Kadek Jango Pramartha, Wayan Gunasta and Cece Riberu. Held in the Bali Museum in downtown Denpasar, the exhibition runs through Aug. 28.

Continue reading “Exhibition explores journalistic flaws, hardships”