Es Teler Bendega

Es Teler

Menu paling aku cari kalau di warung bendega. Soale es teler ini memang enak banget. Bagiku, salah satu es teler terenak di Denpasar. Campuran dari kelapa muda, apukat, dan nangka. Santannya dikasih susu. Jadi sangat seger dan manis..

Harga, kalau tidak salah Rp 16 ribu. Aku lupa. Saking enaknya. Hehe..

Warung Bendega
Jl. Jaya Giri No 2A Renon Denpasar
Telp 0361-249555, Fax 0361- 225112
Email warben@telkom.net

Tipat Kuah Nendang Tujuh Turunan

Inilah menu makan siang ini, tipat kuah di Warung Krisna Sanur. Semula aku pengen makan nasi campur bali, menu sama ketika aku pertama kali makan di sini. But, ketika melihat menu tipat kuah yang dipesan Tia, teman makan siang hari ini, aku ngiler juga. Soale, tipat kuah itu sepertinya enak banget.

Lagian aku juga pengen coba menu berbeda dengan menu yang sudah pernah kupesan. Itung-itung sekalian buat bahan tulisan ke Appetite Journey bulan depan. Hehe..

Continue reading “Tipat Kuah Nendang Tujuh Turunan”

Pagi di Sawah Seberang Kali

Baru sekitar pukul 6.30 pagi. Tapi Wira, tetanggaku anak kelas II SD yang lagi libur sekolah hari ini, sudah berterika-teriak di depan rumah. “Ooom, jadi ke sawah kan?”

Hari Minggu lalu, aku, Bani, Wira, Wayan, dan Bondres main ke sawah pagi-pagi. Tiga anak kecil, mereka kelas I dan II SD, tetangga di gang kecil Jalan Subak Dalem Denpasar Utara itu ternyata senang bukan kepalang. Mereka nyebur sawah, mengejar bebek, cari belut, dan seterusnya.

Continue reading “Pagi di Sawah Seberang Kali”

Apa yang Harus Mereka Rayakan

Dua anak perempuan itu menyerbu kami di tangga menuju bagian paling bawah Pasar Badung, pasar terbesar di Bali. Mereka membawa keranjang kosong di kepalanya. Muka dan pakaian mereka kusam. Dekil. Rambut kemerahan berantakan.

Aku dan tiga teman segera berhenti. Kami melihat ke mereka lalu saling mengangguk. “Ya sudah. Kita ngobrol sama mereka saja,” kata salah satu teman dari Jakarta itu.

Continue reading “Apa yang Harus Mereka Rayakan”

Prat Prit Prat Prit Nodong Duit

Ini cerita usang yang terus berulang. Aku sudah pernah membacanya di blog Suryawan soal ini. Juga, rasanya buanyak banget orang di Denpasar yang pernah mengalami. Maka dijamin ini isu yang basi banget. Tapi ya daripada hanya disimpan di kepala, lalu jeblug, kepalaku mbledos, jadi ya ditulis saja.

Pemicu tulisan ini adalah perilaku tukang parkir di depan Super Ekonomi (SE) Gatsu Denpasar.

Kemarin aku ambil duit di ATM SE Gatsu, yang memang tidak jauh dari rumahku. Ketika mau cabut, satu tukang parkir segera datang. Tapi bukannya menarik motorku atau sekadar membantu, dia hanya berdiri di belakang dengan peluit di mulutnya. Prit prit. Tanpa basa-basi dia menodongkan tangan. Meminta aku bayar parkir. Lalu, dengan santai dia nyelonong pergi tanpa memberi karcis parkir.

Continue reading “Prat Prit Prat Prit Nodong Duit”

Factory workers, journalists unite for May Day rally

Jakarta Post – May 2, 2008

Dicky Christanto, Denpasar – Protesters at a May Day rally held in Denpasar on Thursday accused the government of failing to protect Indonesians working longer hours for no extra pay.

The alliance of organizations commemorating the May 1 International Workers’ Day displayed dozens of banners while activists gave speeches about how “unfriendly” government policies had jeopardized workers’ lives.

Continue reading “Factory workers, journalists unite for May Day rally”

Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar

Kami bersikap layaknya turis Minggu lalu. Ini niat lama yang terus tertunda, naik dokar jalan-jalan di Denpasar. Niat itu muncul kembali setelah baca tulisannya Dek Didi soal keliling Denpasar naik dokar bersama pacar. (Ehm, kalimat yang sangat puitis. Hehe). Tapi lagi-lagi niat itu tertunda pekan lalu karena Bani sakit, demam dan batuk hampir seminggu.

But, yah, akhirnya bisa juga niat itu terwujud juga Minggu kemarin.

Selain ingin menikmati liburan dengan cara berbeda, kami juga ingin tahu seberapa siap sih Denpasar melaksanakan program city tour yang dipromosikan dengan nama Sight Seeing Denpasar itu? Karena itu kami membawa buku bersampul oranye tentang Sight Seeing yang kami peroleh pada peluncuran program ini 29 Desember 2007 lalu.

Continue reading “Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar”

Merayakan Galungan dengan Jotan

Saya baru selesai sholat maghrib ketika pintu gerbang rumah seperti digeser orang. Kamar tempat saya sholat sekitar 10 meter dari pintu dari besi itu. Jadi saya bisa mendengar jelas ketika ada orang masuk rumah.

Dadong Devita, tetangga saya, yang mengetuk pintu. Dadong adalah sebutan untuk nenek di Bali. Devita mengacu pada nama cucunya.

Saya membuka pintu. Dadong masuk membawa sekeranjang buah dan kue. Ada apel, pir, pisang, jeruk, dan rambutan. Kuenya ada begina semacam kerupuk, jaja uli, tape ketan, dan krupuk melinjo.

Sekitar 15 menit sebelumnya, Gede, Bu Wayan, dan Made membawa kue dan buah yang sama. Buah dan kue di meja makan kami semakin penuh ketika Bu Mega juga membawa roti ke rumah malam itu.

Rumah kami di gang kecil pinggiran Denpasar utara. Sepanjang sekitar 50 meter gang itu tinggal aneka rupa keluarga dan berbeda agama.

Di ujung gang, persis di pinggir sungai, Bu Jeani dan Pak Anton tinggal bersama tiga anak mereka Jeani, William, dan Andrew. Pasangan ini beda agama. Bu Jeani muslim asli Padang. Pak Anton Katolik asli Timor Timur, yang kemudian jadi Timor Leste, dan kini warga Denpasar.

Keluarga saya sendiri muslim. Kami sekuler. Tidak ada tanda apa pun yang identik dengan agama apa pun di rumah kami. Bagi kami agama biarlah jadi urusan kami. Bukan untuk diperlihatkan pada orang lain. Istri saya orang Bali dan jadi muallaf ketika menikah dengan saya. Cerita ini sama dengan tetangga kami, Pak Sutir dan Bu Risma, yang kini punya dua anak.

Selebihnya, selain tiga keluarga itu, delapan keluarga lain beragama Hindu. Dan, besok tetangga-tetangga kami ini merayakan Galungan. Tapi, meski tidak beragama Hindu, kami ikut merayakan. Ya, lewat buah dan kue yang dibawa ke rumah kami petang tadi.

Tradisi membawa kue dan buah menjelang hari raya itu disebut ngejot. Tidak hanya menjelang Galungan tapi juga pada upacara lain seperti pernikahan, otonan (peringatan hari lahir), dan seterusnya. Ngejot sebenarnya biasa dilakukan pada tiap tetangga tanpa melihat agama atau suku apa pun. Namun karena tetangga yang Hindu juga merayakan, dan berarti punya buah dan kue yang sama, jadilah ngejot ini lebih banyak untuk yang beragama lain.

Tapi ini tidak mutlak. Kadang-kadang yang sama-sama merayakan Galungan pun berbagi kue atau buah terutama kue yang tidak mereka punyai. Misalnya memberi kue bolu pada tetangga yang tidak punya.

Ngejot, bagi saya, adalah wujud dari toleransi antar-tetangga. Bhinneka Tunggal Ika, kata Mpu Prapanca. Ini kalau dilihat dari perspektif agama. Tapi ngejot bisa juga adalah praktik dari sosialisme. Bukan sosialisme ideologis yang agak berat ala Hugo Chavez, Evo Morales, dan seterusnya, tapi cukup sosialisme sebagai praktik bertetangga, saling membagi apa yang kami punya.

Karena itu ngejot tidak melulu milik orang Hindu. Ketika merayakan lebaran Oktober tahun lalu, kami pun ngejot dengan membagi kue lebaran. Tidak hanya pada tetangga tapi juga pada keluarga di Padangsambian, Oongan, Jl Kenyeri, dan tentu saja mertua di Jl Banteng.

Ketika Natal pun kami mendapat jotan berupa nasi kotak dari Pak Anton, tetangga kami yang juga pegawai negeri tersebut.

Bagi sebagian orang mungkin ini terlalu romantik. Memang ada ketegangan-ketegangan hubungan antar warga akibat perbedaan itu. Namun ngejot bisa jadi salah satu upaya untuk mengingatkan warga bahwa kami bisa saling menghargai dan mengormati di antara perbedaan itu. Ngejot juga perlu terus dibiasakan karena ini soal perut juga. Kalau sudah tentang makanan kan paling gampang untuk mengajak orang.

Selain itu ngejot juga perlu diajarkan pada anak-anak. Biar mereka tidak salah paham lalu bilang, “Awas ada suster ngejot..” Eh, itu suster ngesot ya. he.he [+++]