Memahami Diaspora di Tanah Palestina

hebron-cover

Lama tidak menulis resensi buku. Tidak tahu juga kenapa aku bisa males banget menulis resensi atau sekadar review pendek tentang buku yang baru selesai aku baca. Kali ini soal buku yang terakhir aku baca saja deh. Mumpung masalahnya masih hangat, bahkan sedang panas-panasnya.

Buku berjudul Hebron Journal ini langsung aku samber ketika aku belanja buku di Gramedia Gatot Subroto Denpasar seminggu lalu. Tidak tahu juga sih kenapa bisa refleks gitu aku langsung mengambilnya padahal sudah beli tiga buku lain. Mungkin karena judul buku ini yang pas banget dengan situasi terkini di Palestina.

Continue reading “Memahami Diaspora di Tanah Palestina”

Banyak Cara Membantu Palestina

Sudah lebih dari seminggu pasukan Israel menyerbu jalur Gaza di Palestina. Lebih dari 400 orang jadi korban konflik yak seimbang ini. Tak sedikit pula anak-anak yang mati, padahal mereka mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini cerita usang yang terus berulang. Perang. Gencatan senjata. Perang lagi. Korban lagi. Terus begitu saja. Mungkin inilah konflik terlama yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia.

Indonesia kecipratan. Menggunakan sentimen agama, ribuan orang berunjuk rasa menentang penyerbuan tentara Israel ke Palestina. Partai Keadilan Sejahtera berdemo besar-besaran ke kantor Kedutaan Amerika Serikat dengan membawa bendera partainya. Bukannya bendera Palestina yang dibawa tapi bendera PKS yang diusung tinggi-tinggi. Solidaritas Palestina ternyata bisa juga jadi waktu untuk berkampanye.

Continue reading “Banyak Cara Membantu Palestina”

Mereka Pembunuh, Bukan Mujahid!

Tulisan ini aku buat ketika baru usai chatting sama Erwin, teman yang bekerja sebagai kameraman untuk salah satu TV Australia. Erwin sedang meliput di Tenggulun, Lamongan terkait rencana eksekusi Amrozi CS.

Desa berjarak sekitar 15 km dari rumahku di Lamongan itu tempat lahir tiga bersaudara terpidana kasus bom Bali 2002: Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron. Amrozi dan Ali Ghufron bersama terpidana lain, Imam Samudra, dipidana mati. Ketiganya akan segera dieksekusi. Maka, para wartawan pun berburu berita ke desa nan gersang itu. Erwin satu di antaranya.

Continue reading “Mereka Pembunuh, Bukan Mujahid!”

Mari Berbagi di Hari nan Fitri

Pesta udah usai. Capek juga hari ini. Barusan keluarga besar rame-rame datang untuk merayakan Idul Fitri di rumah. Padahal mereka juga sedangg sibuk mempersiapkan ngaben dadong di Karangasem 10 Oktober nanti. Tapi ternyata sore ini semua pada bela-belain ke rumah kami.

Maka, rumah kecil kami pun riuh oleh ketawa-ketiwi. Tentu saja sambil menikmati camilan dan makanan khas Lebaran. Ada kue ringan dari Pasar Badung seperti krupuk dan astor. Tak lupa menu khas Lebaran: opor, eh, kare ayam dan rawon.

Continue reading “Mari Berbagi di Hari nan Fitri”

Muslim village, Balinese culture

Anton Muhajir, Contributor, Buleleng | Thu, 09/25/2008 1:07 PM | Surfing Bali

Night descended slowly on Pegayaman, a village nestled in a hilly region in the southern part of Buleleng. The quiet ambience was gradually filled with the noise of people getting ready to break their fast.

Groups of children walked along the village’s dusty main road. In their hands were plastic bags filled with cakes and fruits. They chatted animatedly as they delivered the plastic bags to the homes of their relatives and neighbors.

Continue reading “Muslim village, Balinese culture”

'Nyenggol' tradition enlivens Ramadhan at Pegayaman

Anton Muhajir, Contributor, Buleleng | Sat, 09/20/2008 11:36 AM | Bali

After breaking fast and conducting evening prayer, Nyoman Alvin Gautama, 7, and his sister Made Eva Nadya, 12, hurriedly left their house, carrying with them their precious merchandise.

It was a large sheet of white paper upon which the two kids had fastened various candies, crackers, sachets of instant powdered drinks — things that children would love to get their hands on.

Continue reading “'Nyenggol' tradition enlivens Ramadhan at Pegayaman”

Nikmat Berbuka Bersama Nengah Panji Islam

Suara lonceng dipukul itu menandakan waktu berbuka telah tiba. Agak telat, sih. Jam di telepon genggamku sudah 18.22 Wita. Padahal waktu berbuka di Buleleng, setahuku 18.19 Wita.

Lalu minuman penutup puasa segera tiba. Lima gelas es untuk kami berlima. Aku, Bani, Bunda, Joker, dan Ervi. Di antara kami berlima, hanya aku yang puasa. Tapi, tanpa wajah berdosa, empat lainnya menghabiskan minuman segar itu juga. Hehe..

Continue reading “Nikmat Berbuka Bersama Nengah Panji Islam”

Berbagi Jotan Saat Galungan

Met Galungan

Sekitar pukul 7 pagi ini. Saya beserta anak dan istri masih lagi asik main di dapur untuk bikin sarapan. Gede Santika, tetangga kami, sudah mengetuk pintu gerbang rumah. Saya beranjak keluar membuka pintu. Menemuinya.

Gede, murid kelas II SMP yang hampir tiap hari main di ruangan depan rumah kami seperti sebagian besar anak di gang kami, sudah berpakaian adat madya. Berbaju safari dengan bawahan kamen (sarung) dan udeng di kepala. Dia membawa jotan untuk kami.

Continue reading “Berbagi Jotan Saat Galungan”

Ketika Agama jadi Alat Perubahan

Semula, dalam diskusi di Bali, tujuan utama kami ke Jogja adalah untuk belajar tentang penerbitan di Kanisius, salah satu penerbit di kota pelajar ini. Kanisius jadi pilihan utama karena lembaga tempatku kerja part time beberapa kali pernah mencetak buku di tempat ini. Juga karena Kanisius rajin menerbitkan buku-buku pertanian, isu yang kami tulis selama ini.

Namun, agar lebih banyak tempat, kami kemudian menambahnya dengan kunjungan ke beberapa tempat lain. Antara lain Insist Press, petani lahan pasir di Kulon Progo, sekolah alam Nitiprayan, sekolah alternatif di Salatiga, dan perusahaan pertanian organik di Sukoharjo.

Continue reading “Ketika Agama jadi Alat Perubahan”