Xenophobia itu Ada di Mana Saja

Apa boleh buat, liyan (the others) masih saja dianggap sebagai sesuatu yang harus diwaspadai karena dianggap sebagai ancaman. Atau malah dijadiin musuh. Atau, bila perlu, dilenyapkan. Maka, begitu pula yang terjadi di negeri tercinta bernama Indonesia ini.

Kalau ada orang berbeda jalan, dan dianggap tersesat, maka tidak ada cara lain selain dikuamplengi alias dicak-cak. Aduh, kasihan bener. Inilah nasib mereka yang memilih jalan bernama Ahmadiyah. Selalu saja dikuyo-kuyo, dianggap sesat dan harus kembali ke jalan yang benar.

Padahal, salah benar itu kemudian larinya pada jumlah.

Continue reading “Xenophobia itu Ada di Mana Saja”

Tangkap dan Penjarakan Anggota FPI!

Minggu [1/6] pukul 21:27 Wita. Sebuah SMS masuk, mengganggu batas antara lelap dan sadarku. Pengirim SMS itu Dogi, teman di penanggulangan AIDS. Dia meneruskan SMS berantai dari teman-teman di Jakarta.

“Dek ini dari Mas Gun. tolong sampaikan ke semua teman wartawan: Guntur Romli, penulis dan aktivis kebebasan beragama, luka parah akibat penyerbuan FPI terhadap aksi damai aliansi kebebasan beragama di monas siang tadi. sekarang dirawat di RSPAD dan harus dioperasi. kekerasan berkedok agama harus dilawan! mohon bantuan kawan2 media untuk menyebarluaskan kisah duka ini. untuk detail silakan kontak nong darol (081611xxxxx). salam. arif zulkifli.”

Continue reading “Tangkap dan Penjarakan Anggota FPI!”

Antara Ahmadiyah dan Ahmoodiyah

Tulisan oleh-oleh dari Bandung dihentikan dulu untuk sementara. Besok lanjut tulisan terakhir. Saat ini waktunya menulis sesuatu yang lain. Biasanya sih isu paling hangat di Bali atau nasional menarik untuk dibahas di blog. Untuk isu lokal, masalah pembangunan villa di Wongaya Betan, Penebel, Tabanan sangat menarik untuk ditulis. Apalagi pada saat yang sama juga sedang hangat masalah pengurangan kawasan suci di Uluwatu. Sepertinya asik kalau menulis pariwisata di Bali yang mulai jadi benalu, menggerogoti Bali sedikit demi sedikit.

Tapi untuk isu pembangunan villa di kawasan hijau Wongaya Betan aku perlu bahan lebih lengkap lagi. Apalagi kemarin dapat bahan-bahan bagus. Nanti lah aku tulis kalau sudah banyak dapat data lagi.

Untuk isu nasional, masalah Ahmadiyah adalah hal yang paling menarikku untuk bikin tulisan. Karena hari ini habis Jumatan, maka aku menulis soal ini saja. Biar kesannya religius begitu. 😀

Continue reading “Antara Ahmadiyah dan Ahmoodiyah”

Merayakan Galungan dengan Jotan

Saya baru selesai sholat maghrib ketika pintu gerbang rumah seperti digeser orang. Kamar tempat saya sholat sekitar 10 meter dari pintu dari besi itu. Jadi saya bisa mendengar jelas ketika ada orang masuk rumah.

Dadong Devita, tetangga saya, yang mengetuk pintu. Dadong adalah sebutan untuk nenek di Bali. Devita mengacu pada nama cucunya.

Saya membuka pintu. Dadong masuk membawa sekeranjang buah dan kue. Ada apel, pir, pisang, jeruk, dan rambutan. Kuenya ada begina semacam kerupuk, jaja uli, tape ketan, dan krupuk melinjo.

Sekitar 15 menit sebelumnya, Gede, Bu Wayan, dan Made membawa kue dan buah yang sama. Buah dan kue di meja makan kami semakin penuh ketika Bu Mega juga membawa roti ke rumah malam itu.

Rumah kami di gang kecil pinggiran Denpasar utara. Sepanjang sekitar 50 meter gang itu tinggal aneka rupa keluarga dan berbeda agama.

Di ujung gang, persis di pinggir sungai, Bu Jeani dan Pak Anton tinggal bersama tiga anak mereka Jeani, William, dan Andrew. Pasangan ini beda agama. Bu Jeani muslim asli Padang. Pak Anton Katolik asli Timor Timur, yang kemudian jadi Timor Leste, dan kini warga Denpasar.

Keluarga saya sendiri muslim. Kami sekuler. Tidak ada tanda apa pun yang identik dengan agama apa pun di rumah kami. Bagi kami agama biarlah jadi urusan kami. Bukan untuk diperlihatkan pada orang lain. Istri saya orang Bali dan jadi muallaf ketika menikah dengan saya. Cerita ini sama dengan tetangga kami, Pak Sutir dan Bu Risma, yang kini punya dua anak.

Selebihnya, selain tiga keluarga itu, delapan keluarga lain beragama Hindu. Dan, besok tetangga-tetangga kami ini merayakan Galungan. Tapi, meski tidak beragama Hindu, kami ikut merayakan. Ya, lewat buah dan kue yang dibawa ke rumah kami petang tadi.

Tradisi membawa kue dan buah menjelang hari raya itu disebut ngejot. Tidak hanya menjelang Galungan tapi juga pada upacara lain seperti pernikahan, otonan (peringatan hari lahir), dan seterusnya. Ngejot sebenarnya biasa dilakukan pada tiap tetangga tanpa melihat agama atau suku apa pun. Namun karena tetangga yang Hindu juga merayakan, dan berarti punya buah dan kue yang sama, jadilah ngejot ini lebih banyak untuk yang beragama lain.

Tapi ini tidak mutlak. Kadang-kadang yang sama-sama merayakan Galungan pun berbagi kue atau buah terutama kue yang tidak mereka punyai. Misalnya memberi kue bolu pada tetangga yang tidak punya.

Ngejot, bagi saya, adalah wujud dari toleransi antar-tetangga. Bhinneka Tunggal Ika, kata Mpu Prapanca. Ini kalau dilihat dari perspektif agama. Tapi ngejot bisa juga adalah praktik dari sosialisme. Bukan sosialisme ideologis yang agak berat ala Hugo Chavez, Evo Morales, dan seterusnya, tapi cukup sosialisme sebagai praktik bertetangga, saling membagi apa yang kami punya.

Karena itu ngejot tidak melulu milik orang Hindu. Ketika merayakan lebaran Oktober tahun lalu, kami pun ngejot dengan membagi kue lebaran. Tidak hanya pada tetangga tapi juga pada keluarga di Padangsambian, Oongan, Jl Kenyeri, dan tentu saja mertua di Jl Banteng.

Ketika Natal pun kami mendapat jotan berupa nasi kotak dari Pak Anton, tetangga kami yang juga pegawai negeri tersebut.

Bagi sebagian orang mungkin ini terlalu romantik. Memang ada ketegangan-ketegangan hubungan antar warga akibat perbedaan itu. Namun ngejot bisa jadi salah satu upaya untuk mengingatkan warga bahwa kami bisa saling menghargai dan mengormati di antara perbedaan itu. Ngejot juga perlu terus dibiasakan karena ini soal perut juga. Kalau sudah tentang makanan kan paling gampang untuk mengajak orang.

Selain itu ngejot juga perlu diajarkan pada anak-anak. Biar mereka tidak salah paham lalu bilang, “Awas ada suster ngejot..” Eh, itu suster ngesot ya. he.he [+++]

Khusyu di Riuh Tahun Baru

Ashram Canti Dasa khusyu dalam refleksi dan doa ketika tempat wisata di sekelilingnya riuh merayakan tahun baru.

Tepat waktu pergantian tahun di Ashram Canti Dasa, Desa Candi Dasa, Karangasem Bali. Lampu-lampu telah dimatikan. Suasana gelap. Dipimpin Agung Harimurti Bagus Oka, putra pendiri Ashram Canti Dasa Gedong Bagoes Oka, 18 warga ashram (semacam pesantren) di bibir pantai itu melantunkan doa dari Kitab Bagwadgitha.

Lima warga negara asing dari Amerika Serikat dan Belanda diantara mereka juga mengikuti. “Om Tiauhu Sintihe. Om Tiauhu Sintihe..” Selama sekitar 15 menit, dengan khusyu mereka melantunkan doa memohon kedamaian.

Continue reading “Khusyu di Riuh Tahun Baru”