Antara Ahmadiyah dan Ahmoodiyah

14 , Permalink 0
Tulisan oleh-oleh dari Bandung dihentikan dulu untuk sementara. Besok lanjut tulisan terakhir. Saat ini waktunya menulis sesuatu yang lain. Biasanya sih isu paling hangat di Bali atau nasional menarik untuk dibahas di blog. Untuk isu lokal, masalah pembangunan villa di Wongaya Betan, Penebel, Tabanan sangat menarik untuk ditulis. Apalagi pada saat yang sama juga sedang hangat masalah pengurangan kawasan suci di Uluwatu. Sepertinya asik kalau menulis pariwisata di Bali yang mulai jadi benalu, menggerogoti Bali sedikit demi sedikit.

Tapi untuk isu pembangunan villa di kawasan hijau Wongaya Betan aku perlu bahan lebih lengkap lagi. Apalagi kemarin dapat bahan-bahan bagus. Nanti lah aku tulis kalau sudah banyak dapat data lagi.

Untuk isu nasional, masalah Ahmadiyah adalah hal yang paling menarikku untuk bikin tulisan. Karena hari ini habis Jumatan, maka aku menulis soal ini saja. Biar kesannya religius begitu. 😀

Pekan lalu, Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat dan Keagamaan (Bakor Pakem) resmi menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Karena itu Bakor Pakem juga merekomendasikan agar warga Ahmadiyah diperintahkan dan diberi peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya dalam suatu surat keputusan bersama (SKB).

Menurut situs resmi Menko Kesra, apabila perintah dan peringatan keras pada Ahmadiyah itu tidak diindahkan maka Bakor Pakem merekomendasikan untuk membubarkan organisasi Jamaah Ahmadiyah Indonesia.

Hmm, inilah bukti negara kita makin hari memang makin jelas. Kok semua petanda akhir-akhir ini makin merujuk pada fata bahwa negara ini memang makin otoriter. Inilah beberapa petanda Indonesia makin mengarah ke negara otoriter itu. Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) cenderung mengebiri kebebasan, rencana DPR untuk mengadukan Slank yang dianggap mencemarkan nama baik, pencekalan penyanyi (apa penjoget ya?) Dewi Persik di Tangerang dan pelarangan pada Julia Perez yang mengeluarkan album dengan bonus kondom, dan seterusnya. Terakhir ya pelarangan Ahmadiyah di Indonesia itu.

Tulisan ini melihat isu Ahmadiyah dari sudut pandang kebebasan, bukan sudut pandang aqidah. Jadi pasti akan berlawanan dengan para alim ulama yang sudah kadung mencap Ahmadiyah sebagai aliran sesat.

Aku tidak tahu persis bagaimana ajaran Ahmadiyah. Sebatas yang aku tau, dan ini versi pihak-pihak yang sepakat melarangnya, Ahmadiyah itu bertentangan dengan Islam karena meyakini bahwa setelah Muhammad, masih akan ada nabi lagi meski tidak membawa ajaran baru. Menurut Islam, Muhammad memang nabi terakhir. Karena itu kalau ada yang percaya bahwa akan ada nabi lagi setelahnya, maka orang itu sesat.

Tapi sesat, salah, benar, dan seterusnya itu kan tergantung jumlah. Jelasnya begini. Dalam Islam itu sangat banyak aliran. Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), Persis, dan seterusnya. Ini baru aliran di Indonesia, belum lagi yang di Iraq, Pakistan, Saudi Arabia, dan seterusnya. Islam itu beragam. Sangat banyak coraknya.

Satu sama lain ini pun punya perbedaan. Muhammadiyah dan NU misalnya sering banget tidak barengan pelaksanaan Idul Fitrinya. Karena masing-masing punya cara. Cara sholat keduanya pun ada perbedaan, terutama untuk sholat Subuh. Banyak lagi contoh perbedaan di masing-masing aliran ini. Satu sama lain juga saling mengklaim paling benar. Cuma ya akur-akur saja. Bisa jadi karena jumlahnya sama saja. Kalau satunya sangat banyak dan yang lain sangat sedikit, aku yakin yang sedikit juga akan disesatkan. Lalu sampai dilarang.

Karena itu, kalau toh Ahmadiyah juga punya tafsir sendiri, ya tidak apa-apa. Kita toh tidak mewakil Tuhan di bumi ini untuk menghukum mereka. Batasnya gampang: silakan jalan asal tidak mengganggu ketenangan.

Jadi heran saja sih dengan orang-orang yang lalu dengan semangat teriak-teriak dengan bawa atribut Islam lalu semangat untuk menghancurkan. Bukannya orang-orang begini ini yang perlu dididik baik-baik agar tidak menghalangi kebebasan orang lain..

Anehnya lagi, negara yang katanya menghormati kebebasan tiap warganya untuk beribadah menurut agama dan keyakinannya masing-masing itu justru tidak melindungi anggota Ahmadiyah. Negara malah secara struktural telah menghalangi kebebasan itu. Makanya, aduh, ruwet banget deh memang negara ini.

Bayangkan kalau kemudian negara sampai ikut campur ke urusan keyakinan ini. Maka, besok-besok aku bisa saja ditangkap karena dianggap sesat. Soalnya aku ini kan pengikut Jamaah Ahmoodiyah alias jamaah yang beribadah berdasarkan mood. 😀 Apalagi kalau ternyata negara juga sampai ikut campur urusan mood. Wah, modarlah aku..

14 Comments
  • erickningrat
    April 25, 2008

    koment soal pembangun villa di tabanan.saia sebagai orang bali yang punya moyang asli orang pribumi, sangat senang jika bali menjadi satu ikon pariwisata dan paradise buatan manusia hahaha, tapi ntar dulu, kalian para bos kapitalis jangan senang dulu dengan membuang sampah beton ke tanah bali! tanah bali tanah sakral siapa yang berniat jahat akan menerima karma ! dan saia sebagai orang bali ga akan tinggal diam jika tanah kelahiran saia di jadikan paradise buatan yang berdamapak pengerusakan dan pengurangan kawasan suci ! kalian para bos kapitalis yang rakus, ingat dosa kalian akan menggilas kalian sendiri!! dan orang bali sendiri yang mendukung pengrusakan terhadap tanah moyang kalian! kalian akan kena karma! so dont give a shit!
    next….
    tentang ahmadiyah saia rasa kita belajar untuk menjadi dewasa, karena kedewasaan dalam bertindak itu penting,dewasa dalam pikiran dan logika, kita bukan di jaman firaun lagi kita di jaman modern humanisme, yang sangat mejungjung nilai2 kemanusian….akhir kata setubuh ma bli anton :mrgreen:
    * hehehe sory komentnya kepanjangan *
    matur nuhun…. 😉

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Didi
    April 25, 2008

    Mulai berpikir bahwa kebebasan itu akan menjadi mimpi.
    Seandainya semua warga berpikirsan sama seperti Bli Anton, betapa damai negeri ini???
    Tapi ternyata masih banyak orang yang ngatur2 hidup orang lain, bahkan berdalih agama, seakan mereka Tuhan di bumi yang mempunyai kewenangan menghukum warga menggunakan penafsiran mereka sendiri.

    ReplyReply

    [Reply]

  • sherly
    April 25, 2008

    jadi mikir koq nanti lama2 pemerintah negara kita bakal seperti pemerintah negara cina ya? tapi negara kita ini otoriternya koq ngawur gitu lho… >.<

    ReplyReply

    [Reply]

  • Made Eka
    April 25, 2008

    ahmoodiah???? hahahahaa ntar dibilang melanggar akidah lg bli hehehehehe.. Nah kebebasan memeluk agama khan termasuk HAM juga, mana tuh yang namanya Komnas HAM. Kok mereka naksir beratnya cuman pada para purnawirawan Jendral doang. Hei kalian pahlawan HAM, hak asasi itu bukan hanya politik doang, tp juga ekonomi, sosial, budaya, termasuk juga kebebasan beragama. Pasti ga berani Komnas HAM membela Ahmadiyah, kan ga da sponsornya ntar. Klo ga da sponsor berarti ga da kecer. Klo nuntut para Jendral kan sponsornya dari luar negeri bakal ngantre….

    ReplyReply

    [Reply]

  • Elys Welt
    April 25, 2008

    speechless ..

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    April 28, 2008

    beginilah kalo negara sampai ngatur2 soal apa yang mesti diyakini dan tidak diyakini rakyatnya! Negara yang aneh…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @ erick: soal pariwisata di bali, menurutku kita jg harus refleksi. jangan2 kita jg yg trlalu rakus sehingga mengizinkan tiap pembangunan di bali ini meskipun sudah tau merusak lingkungan.

    soal ahmadiyah, terima kasih sudah menyetubuhi saya. 🙂 makin banyak orang tidak sepakat bahwa kekerasan bs menyelesaikan masalah. namun makin banyak pula org yg justru menggunakan kekerasan atas nama kebenaran.

    @ dek didi: seandainya semua komentar seperti dek didi, ah, betapa damai dunia ini. 🙂

    @ sherly: aha, ini pasti komentar oleh2 dr negeri nenek moyang. 🙂 nulis don jeng. bgm bandingan antara indonesia vs china dari sudut pandangan kebebasan.

    @ made eka: nanti kita segera deklarasikan jamaah ahmoodiyah ini. kamu siap kan jadi nabinya? 😀

    @ elys welt: 😕

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    April 28, 2008

    negara yang aneh… maaf saya juga lagi ga mood bahas yg ini 😀

    *kabur

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @wira: hehe, yg penting udh komen. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @imsuryawan: yoih! mari kita deklarasikan hak untuk tidak beragama. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    April 28, 2008

    alah…yang kayak gitu mah cuman untuk memecah belah kita aja….ntar liat aja pas udah di sorga atau neraka di tanya ng’gak ma tuhan lo dari golongan apa?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Andy
    May 6, 2008

    Ingat di Bali, pernah terjadi ribut2 ttg pelecehan simbol agama yang membuat geger… Sekolah harus berganti nama karena nama sebelumnya dianggap melecehkan simbol agama. Ribut2 juga menimpa penyanyi kondang akibat lirik lagunya dicap melecehkan simbol agama. dll.
    Jika penyalagunaan simbol saja di reaksi seperti itu, apalagi penyalagunaan “AQIDAH” yang bagi umat islam adalah harga mati… Maka demikian cara berfikirnya orang yang menolak “Islam Ahmadiah”…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 9, 2008

    @ ick: jangan2 surga neraka memang dibuat agar kita terpecah belah? 😕

    @ andy: persoalannya bukan siapa melakukan apa, pak. itu bisa terjadi di agama apa pun. setiap agama punya kadar konservatisme masing2. bahkan, menurut saya, agama mmg lahir utk itu. makanya jarang sekali yg rasional soal agama.

    tp bagi saya itu tdk jadi masalah selama tidak lalu merasa diri paling benar, lalu menuding orang lain harus menerima kebenaran itu. paling parah kalau kita kemudian membakar orang lain yg kita anggap salah. ibaratnya masak orang tersesat lalu kita bakar dia. wah, ya bener dong.

    lalu soal aqidah. saya sbg muslim toh tidak merasa aqidah saya tercemari gara2 ada orang lain yg brbeda dg saya. agama itu urusan masing2.. lakum dinukum walyadin..

    ReplyReply

    [Reply]

  • PATEMO
    October 28, 2008

    WAH MENDING MIKIRIN PERUT DULU JA

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *