
Wayang raksasa itu mau mengacaukan ulang tahun Bani.
Dia datang untuk mengganggu Bani dan teman-temannya. “Mana yang namanya Bani. Kamu tidak boleh merayakan ulang tahun di sini,” kurang lebih begitulah si raksasa berkata.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Surabaya itu kota yang menyeramkan.
Begitulah citra yang terpatri di kepalaku sejak kecil terhadap kota ini. Dalam pikiranku, Surabaya itu kota dengan banyak kasus kriminal. Tak hanya seperti yang aku baca di koran-koran sejak kecil tapi juga cerita-cerita dari kakak ataupun tetanggaku sendiri di kampung halaman, Lamongan. Continue reading “Perubahan Kota Pahlawan yang Mengesankan”
Pada awalnya, nenek moyang manusia dilahirkan bersama batu.
Lalu, si nenek moyang itu bermain bersama batu, si benda mati tersebut. Sebagai makhluk kesayangan Tuhan, maka dia mendapat hak istimewa dari Tuhan untuk meminta apa saja.
Ini cerita lama. Tapi aku baru sempat ingat untuk menulisnya.
Ceritanya, akhir Juli lalu aku dipanggi polisi sebagai saksi. Kasusnya dugaan pencemaran nama baik yang melibatkan BaleBengong. Aku tidak akan menulis tentang kasus tersebut karena sudah selesai dengan damai di antara mereka.
Secangkir kopi di tanah subur itu terasa hambar.
Tak ada aroma kopi yang menggugah semangat. Tak ada juga rasa pahit kopi yang pekat. Tak ada sama sekali rasa nikmat.
Ini sebenarnya cerita lama ketika ke Makassar Mei lalu.
Kalau tak salah sekitar Mei lalu. Ketika ke sana untuk pekerjaan hanya satu hari.
Ketika itu aku menginap di daerah Panakukkang. Padahal biasanya tiap kali ke kota tepi pantai ini, aku biasa menginap di daerah ternamanya, Pantai Losari. Karena menginap di daerah baru, aku pun tak terlalu kenal daerah ini. Termasuk soal di manakah tempat mencari makan yang enak.