Malu Bertanya, Gunakan Saja Social Media

Ini sebenarnya cerita lama ketika ke Makassar Mei lalu.

Kalau tak salah sekitar Mei lalu. Ketika ke sana untuk pekerjaan hanya satu hari.

Ketika itu aku menginap di daerah Panakukkang. Padahal biasanya tiap kali ke kota tepi pantai ini, aku biasa menginap di daerah ternamanya, Pantai Losari. Karena menginap di daerah baru, aku pun tak terlalu kenal daerah ini. Termasuk soal di manakah tempat mencari makan yang enak.

Continue reading “Malu Bertanya, Gunakan Saja Social Media”

Maka, Biarkan YouTube Membuktikannya

Ada hal baru di pos-pos polisi yang aku lewati pagi ini.

Di pos polisi ujung Jalan Melati, Denpasar misalnya ada spanduk berisi tulisan larangan memberi dan menerima suap. Pos polisi di perempatan Jalan Sudirman – Jl Raya Niti Mandala Renon – Jalan Dewi Sartika pun berisi spanduk sama.

Continue reading “Maka, Biarkan YouTube Membuktikannya”

Selamat Datang Generasi Eksis dan Kritis

Ternyata, netizen Bali itu muda dan berbeda.

Demikian salah satu hasil penting dari survei daring (online) yang kami adakan lewat Sloka Institute selama sebulan lalu. Sebagian hasil survei sudah bisa ditebak. Namun, sebagian lainnya justru mengejutkan. Dan, menyenangkan.

Survei daring tersebut kami adakan pada 21 Mei – 20 Juni 2012. Ada 401 responden mengisi survei untuk pengguna internet (netizen) di Bali maupun orang Bali yang tinggal di luar Bali tersebut.

Continue reading “Selamat Datang Generasi Eksis dan Kritis”

Tak Suka, Maka Unfollow Saja?

Mau diajak diskusi kok malah menyuruh pergi.

Kurang lebih begitulah kesanku pada mereka yang dengan santainya ngetwit, “Kalau tak suka twitku ya unfollow saja.” Aku dua atau tiga kali mendapatkan balasan seperti itu ketika coba beradu argumentasi dengan orang yang ngetwit isu tertentu.

Continue reading “Tak Suka, Maka Unfollow Saja?”

Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia

Akhirnya, aku menemukan lagi tulisan reflektif dengan bahasa ringan ala Bre Redana. Pemikir dan penulis kajian kebudayaan (cultural studies) ini orang yang meracuniku lewat tulisan-tulisannya tentang gaya hidup sejak 10 tahun lalu. Selalu nyentil dengan bahasa ringan.

Begitu pula tulisannya kali ini di Kompas. Aku tahu tentang tulisan ini malah dari Bunda pas lagi ngobrol santai. Maka, tulisan ini pun aku salin dan tempel di blog ini. Semata buat mengingatkan diri meski pada beberapa hal aku rasa kurang tepat dan aku tak setuju dengannya.

Tulisan ini ada di edisi cetak namun aku temukan pula di Kompas Tekno. Selamat membaca dan berefleksi ria.

Continue reading “Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia”

Media Baru, Alat Perlawanan Baru

Alat baru untuk menyuarakan perlawanan itu ada di internet.

Para aktivis demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) dari 16 negara di Asia pun mengakui dan memanfaatkan kekuatan baru tersebut. Melalui berbagai blog, Facebook, Twitter, dan bentuk media baru (new media) lainnya, para aktivis itu bergerilya melakukan perlawanan.

Continue reading “Media Baru, Alat Perlawanan Baru”

Pakai Twitter Agar Lebih Pinter


Ketika semakin jarang ngeblog, aku justru makin rajin mantengin Tweetdeck.

Di aplikasi Tweetdeck, pengguna bisa mengatur banyak akun jejaring sosial. Selain Facebook dan Twitter, pengguna bisa menambah akun Foursquare (penanda lokasi), Myspace (musik), Buzz (mikroblogging ala Google), dan Linkedin (profil profesional).

Continue reading “Pakai Twitter Agar Lebih Pinter”

Teknologi Informasi Mencerabut Kemanusiaan Kita

Aku pikir teknologi informasi hanya mendorong perubahan dunia nyata ke arah lebih positif. Ternyata itu tak sepenuhnya benar.

Yanuar Nugroho, peneliti dari Manchester University, Inggris menunjukkan hal sebaliknya. Dunia maya ini ternyata malah mencerabut nilai dari kemajuan teknologi informasi itu sendiri. Yanuar tak hanya berteori tapi juga memberikan contoh-contoh ironi ini ketika berdiskusi di Sloka kemarin dengan teman-teman pegiat gerakan masyarakat sipil di Bali.

Continue reading “Teknologi Informasi Mencerabut Kemanusiaan Kita”