Storify, Menangkap Riwayat yang Terlewat

Ada yang lebih menarik daripada keberhasilan Huffington Post menang Pulitzer.

Huffington Post, koran online atau dalam jaringan (daring), itu mendapat hadiah jurnalisme prestisius tersebut di kategori berita nasional. David Wood, penulis senior Huffington yang puluhan tahun meliput perang, menulis hingga 10 seri tentang para prajurit yang cacat usai berperang di Irak dan Afghanistan.

Continue reading “Storify, Menangkap Riwayat yang Terlewat”

#UKRiot, Beragam Format di Satu Tempat

Kerusuhan di Inggris menyebar tak hanya di berbagai kota, tapi juga segala format media.

Format pertama, teks, tentu di media konvensional, koran. Dari sini aku tahu pertama kali tentang kerusuhan yang menyebar pertama kali dari Tottenham, daerah pinggiran London Utara itu.

Continue reading “#UKRiot, Beragam Format di Satu Tempat”

Pakai Twitter Agar Lebih Pinter


Ketika semakin jarang ngeblog, aku justru makin rajin mantengin Tweetdeck.

Di aplikasi Tweetdeck, pengguna bisa mengatur banyak akun jejaring sosial. Selain Facebook dan Twitter, pengguna bisa menambah akun Foursquare (penanda lokasi), Myspace (musik), Buzz (mikroblogging ala Google), dan Linkedin (profil profesional).

Continue reading “Pakai Twitter Agar Lebih Pinter”

Pers Mahasiswa, Gunakanlah New Media

Ketika media arus umum bergairah mengantisipasi gelombang new media, pers mahasiswa justru tenggelam.

Karena itu, pers mahasiswa (Persma) harus lebih sigap menghadapi perubahan ini. Mereka tak boleh melulu mengandalkan romantisme sebagai pers alternatif dari media arus utama (mainstream) saat ini.

Continue reading “Pers Mahasiswa, Gunakanlah New Media”