Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan

Susahnya hidup di dunia yang serba maskulin ini adalah perempuan selalu jadi objek. Atau malah jadi komoditas, sesuatu yang bisa diperjualbelikan. Itu pula pengalamanku ketika di Bandung, yang bisa jadi mewakili Sunda itu. Seperti halnya Bali, yang terkenal sebagai pusat perempuan seksi, meski bodi mengalahkan wajah alias BMW (hehehe), Bandung dan Manado memang terkenal juga sebagai pusat perempuan cantik.

Bisa jadi ini memang stereotip, sifat yang kadung dilekatkan pada kelompok tertentu. Misalnya bahwa cewek Sunda itu suka berdandan. Stereotip cewek Sunda, termasuk Bandung, ini sudah sering aku dengar. Namanya stereotip, jadi ya belum tentu benar. Tapi, sebatas pengalamanku lima hari di Bandung, itu memang ada benarnya. Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti semua cewek memang begitu adanya (generalisasi). Tapi pandangan sepintas dan sekilas saja. Tidak usah terlalu ditanggapi serius.

Continue reading “Carilah Perempuan ke Negeri Pasundan”

Ironi Berkali-kali Anggota DPR

Di antara sekian peristiwa nasional yang terjadi minggu lalu, penangkapan anggota DPR adalah cerita paling menarik perhatian. Setidaknya bagiku. Soalnya memang cerita ini banyak ironinya.

Informasi pertama soal penangkapan Al Amin Nasution itu datang dari teman baru di dunia maya, Ngurah Beni Setiawan, juga teman di Bali Blogger Community (BBC). Melalui YM, Beni mengabarkan peristiwa lucu tersebut. Lalu aku cek Kompas Online. Dan benar. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Al Amin Nasution tersebut ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Ritz Carlton dini hari, sekitar pukul 2 pagi.

Suami penyanyi dangdut Kristina itu ditangkap bersama empat pejabat dari Kabupaten Bintan, Riau dan barang bukti Rp 67 juta di mobilnya. Uang itu, menurut KPK, diduga suap dalam kasus tindak pidana korupsi alih fungsi lahan. Oya, lupa. Ada satu pula pekerja seks komersial (PSK) yang menurut detik.com adalah bonus untuk Al Amin agar melicinkan kasus korupsi tersebut. Di milis Pembaca Kompas, PSK itu katanya masih ABG. Aduh..

Continue reading “Ironi Berkali-kali Anggota DPR”

Globalisasi di Balik Kaos Oblong

Lama tidak menulis resensi di blog. Makanya aku posting aja deh resensi ini. Biarin saja resmi banget bahasanya.

Agak lucu juga nemu buku ini. Sekitar sebulan lalu aku dapat kaos oleh-oleh dari bos di kantor yang baru pulang dari Belgia. Seumur hidup sampai sekarang, baru kali ini aku dapat kaos dengan logo fair trade di belakangnya. Ada logo Max Havelaar dan keterangan bahwa kaos itu diproduksi dengan menerapkan prinsip-prinsip fair trade.

Menurut organisasi fair trade sedunia International Federation of Alternative Trade (IFAT), fair trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling menghormati. Tujuannya untuk menciptakan keadilan, pembangunan berkelanjutan, melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair serta memihak pada hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan.

Continue reading “Globalisasi di Balik Kaos Oblong”

Fitna Lebih Kejam Daripada YouTube

Ya, ya. Akhirnya aku tidak tahan juga untuk tidak menulis soal masalah ini meski sudah banyak banget blog yang menulisnya. Soalnya kalau dibiarkan memang pikiran ini lama-lama jadi mbenjol keluar. Takutnya lalu jidatku tambah jadi lengar dan longor. Hahaha..

Kali ini soal blokir beberapa situs yang memuat film Fitna, yang dianggap melecehkan Islam. Hmm, kalau sudah soal agama memang repot. Makanya tidak usah beragama. *Padahal aku sendiri tidak berani untuk tidak beragama. 😉

Continue reading “Fitna Lebih Kejam Daripada YouTube”

Ancaman di Balik UU ITE

Setelah kemarin aku nulis sedikit materi, apresiasi, dan pertanyaan seputar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka sekarang waktunya ngomong soal terakhir, ancaman UU ITE pada blogger.

Tiga hal yang menjadi perhatianku adalah soal ancaman hukuman penjara bagi blogger, ancaman terhadap kebebasan berpendapat, dan penyeragaman informasi oleh negara. Bagi sebagian orang, ancaman ini mungkin dianggap berlebihan. Tapi menurutku sah-sah saja. Kalau sudah ada aturan, negara atau seseorang jadi punya alasan untuk membawa persoalan ini ke tingkat hukum.

Continue reading “Ancaman di Balik UU ITE”

Setelah UU ITE Disahkan

Setelah seminggu ini membaca, menelaah, mencari referensi, dan seterusnya, akhirnya aku bisa juga nulis soal Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). *Mimih serius sajan noq*. Kemarin sempat mau langsung bikin tulisan soal UU yang disahkan DPR seminggu lalu tersebut. Waktu itu sih pendekatannya soal pornografi. Tapi waktu itu aku belum baca detail UU tersebut dan lebih banyak dapat dari media. Takut aja sih tidak kuat argumennya. Juga khawatir lebih banyak asumsi berdasarkan berita di media.

Dan, setelah kubaca berulang-ulang tiap pagi pas baru bangun di saat otak masih segar, aku mulai bisa menganalisisnya secara tajam dan terpercaya. Hahaha..

Pertama soal apresiasi atas lahirnya UU ini. Setelah sekian lama dikritik banyak pihak sebagai negara yang tidak terlalu peduli pada kemajuan teknologi informasi (TI) karena tidak punya UU tentang TI, akhirnya Indonesia punya juga aturan ini. Jadi, meski masih sebatas UU, belum ada peraturan pemerintah dan penjelasan teknis lainnya, UU itu membuktikan bahwa pemerintah mulai peduli soal ini. Meskipun masih penuh catatan di sana sini, UU ini perlu diapresiasi.

Continue reading “Setelah UU ITE Disahkan”

AJI Denpasar, Nasibmu Kini..

SMS dari Ervi pagi ini mengusikku. Ervi, teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar itu mengabarkan tentang kegiatan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Bali di Hotel Niki Denpasar hari ini. “Acr PJI hr ini dihadiri bnyk sekali wartawan Bali. Nada2nya, AJI Dps bakal kehilangan anggota ni. Ketua PJI Bali, Justin. Panitinya jug org2 AJI. Weleh2.”

Hari ini pengurus PJI Bali dilantik di hotel Niki Denpasar. Sebagai sesama jurnalis, ini menyenangkan bagiku. Makin banyak organisasi wartawan semoga akan membuat wartawan makin sadar bahwa berorganisasi itu penting. Nantinya juga semoga makin meningkatkan kualitas jurnalis ataupun media itu sendiri.

Continue reading “AJI Denpasar, Nasibmu Kini..”

Menatap Puing, Mengingat Rusuh

Sore tadi aku jalan-jalan sama Bani ke Taman Kota Denpasar dekat Lapangan Lumintang Denpasar utara. Meski namanya keren, “Taman Kota”, tempat ini tak lebih dari lapangan kosong dengan pohon-pohon yang baru ditanam. Ada beberapa petak tanah luas dengan semak-semak tidak terurus di pinggir lapangan.

Meski tidak seramai di Lapangan Puputan Renon atau Puputan Badung, namun sore itu puluhan orang lain juga sedang berjalan-jalan di sana. Ada yang sekadar lari, jalan-jalan, sepak bola, main skate board, atau malah jalan-jalan sama anjing. Aku dan Bani sih jalan sambil cuci mata. Mumpung tidak ada Bunda, jadi kami bebas jadi laki-laki. Hehehe..

Jalan-jalan di tempat itu, aku masih bisa melihat puing-puing sisa kerusuhan di Denpasar pada 1999 lalu. Maka, sambil jalan-jalan sore itu, aku jadi inget peristiwa tujuh sembilan tahun lalu itu.

Continue reading “Menatap Puing, Mengingat Rusuh”

Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu

Seorang teman pernah bilang bahwa tidak ada yang bernama kebetulan. Semuanya sudah terhubung satu sama lain tanpa kita sadari. Ada sesuatu yang mengatur itu semua di luar kehendak kita. Kadang aku percaya, kadang tidak. Tergantung situasi dan kondisi saja. 😀

Setelah aku ngobrol dengan Pak Wayan Rebho hari ini, aku percaya dengan itu. Entah esok hari, entah lusa nanti. (Kok kayak lagu Iwan Fals. Hehe). Sore tadi aku liputan tentang petani di kawasan Bali Pecatu Graha (BPG) Kuta Selatan. Proyek besar milik Tommy Soeharto itu dibangun sejak 1996 dan sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1997 dan diikuti kemudian jatuhnya Soeharto pada 1998.

Continue reading “Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu”

Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku

Pan Belog pun ingkar janji. Selesai Nyepi lalu dengan sangat yakin dia bilang akan rajin cerita tentang hal-hal yang dia alami padaku. Kalau tidak salah sih dia bilang cerita itu pengennya dimuat setiap Sabtu atau Minggu di blogku atau di balebengong.net. Ternyata pekan ini dia telat. Padahal, dia sudah merasa diri seperti Goenawan Mohamad yang punya Catatan Pinggir tiap edisi di Majalah Tempo. Atau, ya setidaknya, sama dengan Sudira alias Aridus penulis tetap rubrik Obrolan Bale Banjar di Bali Post Minggu yang obrolannya lebih mirip obrolan mahasiswa S3 daripada di bale banjar karena saking tinggi dan beratnya tulisan di sana. Hehe..

But, ya begitulah. Pan Belog bisanya hanya mencela orang. Padahal dia sendiri nulis pun enggan, atau jangan-jangan malah tidak bisa sama sekali. Hihihi..

“Tidak mau tidaklah berarti tidak bisa,” kelitnya.

Continue reading “Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku”