Gaya Bicara Pastika, Sueta, dan Winasa

Sabtu (15/3) lalu aku bantuin Pers Mahasiswa Akademika untuk jadi moderator seminar yang mempertemukan tiga bakal calon (balon) gubernur Bali. Diskusi ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun lembaga pers mahasiswa di Universitas Udayana Bali tersebut. Sebagai alumni yang baik dan berbakti (hehehe) maka aku pun mengiyakan meski aku grogi bukan kepalang.

Bagaimana tidak grogi. Ini kali pertama aku jadi moderator diskusi politik yang serius banget. Biasanya kan lebih banyak diskusi sama temen-temen LSM yang suasananya jauh lebih cair dan santai. Selain itu, setahuku ini kali pertama para bakal calon itu ada di satu meja untuk ”debat terbuka” terkait pencalonan mereka.

Hal lain yang membuatku grogi banget kemarin itu karena kadang-kadang aku ini suka ngomong nglantur atau becanda yang kelewatan. Takut saja gara-gara candaan itu lalu pendukung bakal calon akan macem-macem ke aku. *Hehe, dasar aku memang paranoid soal beginian.*

Continue reading “Gaya Bicara Pastika, Sueta, dan Winasa”

Pagi Kedelai Sore Tempe

Ada yang menarik di seminar yang diadakan Pers Mahasiswa Akademika hari ini di Nari Graha Renon Denpasar. Ternyata Made Mangku Pastika bilang dia tetep anti sama bebotoh. Padahal beberapa hari lalu bilang mau merangkul mereka.

Hmm, jadi bingung. Kok pagi kedelai, sore udah jadi tempe. Cepet berubah. Padahal aku mau pilih dia nok. Jadi ga ya? 😀

Selamat Datang Kemenangan Bobotoh

Kekuasaan memang menyilaukan. Maka, tidak peduli harus menelan ludah sendiri, para calon gubernur Bali pun kini bergandeng mesra dengan bebotoh. Tapi yang paling memalukan bagiku memang Made Mangku Pastika. Aku heran saja baca tulisan di Bali Post bahwa dia akan merangkul para bebotoh, orang yang suka main adu ayam alias tajen ini.

Ini bener-bener mengagetkanku. Setahuku pas zaman jadi Kapolda Bali, Ketua Tim Investigasi bom Bali ini adalah orang yang paling kenceng memerangi tajen. Salah satu yang aku ingat adalah ketika dia mendatangi tempat tajen paling tersohor di Denpasar di daerah Yangbatu. Wih, sampai ada satu orang yang mati ketika tajen dibubarkan polisi.

Continue reading “Selamat Datang Kemenangan Bobotoh”

Di Balik Pindahnya Kantor Kami

Minggu kemarin, akhirnya kantor Sloka Institute pindah dari Jl Drupadi II/3 Renon ke Jl Noja Ayung Oongan Denpasar Timur. Kami angkut-angkut semua barang yang ada di rumah kontrakan itu sampai tiga kali bolak-balik pakai pick up. Dari kantor yang sewa Rp 11 juta per tahun ini, kami pindah ke ruko seharga sekitar Rp 2,5 juta setahun. Harganya pakai sekitar karena kantor baru ini punya mertuaku sendiri. Jadinya bisa ditawar. Hehe..

Pindahnya kantor ini karena bocornya tidak bisa lagi ditolerir, sudah kelewatan. Juga karena harga yang naik meski pelayanan dari penyewa buruk banget. Tapi lebih penting lagi karena kami memang sudah tidak butuh tempat seperti rumah sebelumnya itu. Kami harus mengubah strategi lagi.

Continue reading “Di Balik Pindahnya Kantor Kami”

Habis Blog Walking Terbitlah Posting

Jalan-jalan ke blog orang lain (blog walking) adalah salah satu hal yang biasa dilakukan blogger. Kalau bagiku sendiri sih tujuan blog walking ini karena empat alasan.

Pertama, ingin tahu hal terbaru dari blogger lain. Menariknya ngeblog itu kan karena apa yang ada di blog itu cenderung personal. Jadi asik saja baca tulisan orang lain yang tidak mungkin ada di media umum itu. Blog adalah tempat orang-orang biasa bisa cerita dengan segala kesederhanaan dan kemanusiaan mereka sendiri. Kedua, karena kunjungan balasan. Tidak enak saja kalau ada blogger berkomentar di blogku lalu aku tidak klik balik blog teman tersebut. Biasalah. Ada aksi ada reaksi. Meski tidak semua komentator bisa dikunjungi balik, namun setidaknya aku sudah berusaha untuk itu.

Ketiga, menambah teman. Meski banyak blogger yang kutemui di dunia maya ini belum pernah ketemu secara fisik, namun kalau baca blog mereka itu seperti ngobrol asik dengan seorang teman. Asiknya lagi kalau selesai blog walking itu lalu memberikan komentar. Nah, memberi komentar ini adalah bagian dari alasan keempat: tebar pesona lewat komentar. Sambil kita berkomentar di sana, kita berharap blogger itu akan balik berkunjung seperti alasan nomor dua. Jadi ini ada pamrih di balik komentar. Hehe..

Continue reading “Habis Blog Walking Terbitlah Posting”

Nyepi Kok Malah Liburan

Nyepi tinggal tiga hari. Tahun ini kebetulan Nyepi pas hari Jumat. Seingetku ini sudah yang kesekian kali Nyepi barengan dengan Jumatan. Unik aja sih. Jadi meski yang Hindu melaksanakan Nyepi, yang muslim tetep bisa Jumatan. Ini pengalaman yang asik bagiku tentang bagaimana saling menghargai di tengah perbedaan. Malah kadang-kadang yang Jumatan itu ada yang sok-sokan seperti Hendro. Jadi mumpung bisa keluar pas Nyepi, dengan ajum-nya dia tidur di tengah jalan. Hehe..

Sebenarnya aku pengen Nyepi keluar Bali. Tidak tahu kenapa pengen banget main ke Alas Purwo, Banyuwangi. Rasanya asik saja menembus hutan itu naik Landrover nyebur lumpur seperti tiga tahun lalu. Kalau tidak ke Banyuwangi bolehlah melali ke Lombok menikmati ayam bakar taliwang. Tapi sayangnya niat hanya jadi niat. Keinginan ini ditunda saja deh dulu. Nanti kalau Bani sudah gede saja jalan-jalan lagi. Syukur-syukur jadi ke Bandung.

Continue reading “Nyepi Kok Malah Liburan”

Ketakutan yang Sengaja Diciptakan

Dua hal yang terjadi secara acak membuatku berpikir kembali tentang perlunya sebuah ketakutan diciptakan. Dua hal tersebut adalah maraknya penangkapan preman di Denpasar dan lepasnya tokoh Jaringan Islamiyah (JI) Singapura Mas Slamet bin Kastari dari pusat penahanan di Singapura. Keduanya membongkar ingatanku kembali soal terorisme.

Pikiranku hanya sebuah pikiran yang berangkat dari pesimisme juga skeptis, sebuah sikap untuk mempertanyakan sesuatu. Bertanya dan menggunakan otak kita adalah salah satu cara untuk membuat keberadaan kita terasa. Kata Rene Descartes Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Bagi banyak orang hal seperti ini adalah sesuatu yang naif. But, let it be..

Continue reading “Ketakutan yang Sengaja Diciptakan”

Ternyata Kita Memang Perlu Aturan

Kita memang tidak bisa hidup nyaman tanpa aturan. Awalnya aku pikir kedewasaan sebuah kelompok tidak dinilai dari banyaknya aturan pada kelompok itu namun pada bagaimana anggota kelompok saling menghormati satu sama lain. But, then, itu tetep perlu sebuah aturan meski aturan itu tidak tertulis.

Ini pula yang aku pelajari di mailing list (milis) Bali Blogger Community (BBC).

Ketika membuat milis ini, aku hanya berpikir untuk membuat tempat blogger Bali bisa saling kenal. Ide bikin milis ini muncul dari Dewi dan Prima pas kami ketemuan pertama kali. Bolehlah aku sebut kopdar pertama ini sebagai cikal bakal berdirinya BBC. Sebab dari kopdar bareng Kang Ayip juga ini lalu muncul ide bikin mailing list dan agregator untuk blogger Bali.

Continue reading “Ternyata Kita Memang Perlu Aturan”

Ayo Boikot Ahmad Dhani!

boikot ahmad dhaniDua hari lalu, Bunda bilang ke aku soal Ahmad Dhani, musisi pentolannya Dewa. “Jangan dengerin lagu-lagunya Dhani lagi kalau ada aku,” katanya. Alasan Bunda, Dhani sudah melecehkan perempuan. “Masak dia bilang dia yang menciptakan Mulan Jameela untuk melawan Maia. Itu kan merendahkan perempuan banget,” kata Bunda yang sekali waktu memang nonton infotainmen sama aku. Hehe.. Aku sih tidak terlalu peduli waktu itu. Dengernya juga sambil lalu.

Lalu, pagi ini, pas lagi blogwalking pagi ini, aku nemu tulisan menariknya Rama soal Ahmad Dhani. Intinya Dhani telah melecehkan semua blogger maupun pembaca blog. Hmm, ternyata Dhani memang makin tidak beres sekarang.

Continue reading “Ayo Boikot Ahmad Dhani!”

Togel, Godel, Whadehel!

Tak terasa, ternyata sudah lama juga aku tidak ketemu dengan karibku yang satu ini. Namanya tidak boleh disebut. Tidak etis. Soale ini hubungannya dengan konfidensialitas, prinsip di mana kerahasiaan status seseorang harus disimpan sampai dia sendiri yang membuka statusnya. Teman itu positif HIV. Aku boleh nyebut status saja, asal tidak menyebut nama. Sebut sajalah namanya Adi. Dia pernah bertahun-tahun kecanduan heroin. Dan karena ini dia tertular HIV.

Kami teman akrab sejak aku kenal lebih dekat isu HIV/AIDS dan narkoba di Bali pada 2005 lalu. Tapi teman ini pula, yang aku wawancarai pertama kali ketika aku menulis isu AIDS untuk GATRA, tempatku kerja waktu itu. Adi inilah orang dengan HIV/AIDS yang kukenal pertama kali, sekitar 2002. Eh, lha dalah, ketika aku kenal lebih intens soal HIV/AIDS ternyata dia jadi teman akrabku.

Continue reading “Togel, Godel, Whadehel!”