Bagi sebagian orang, barangkali termasuk kita, kaos oblong tidaklah sekadar sebagai kebutuhan dasar manusia akan sandang. Ia tidak hanya untuk melindungi tubuh dari cuaca atau demi etika. Kaos oblong, meski tidak mutlak, bisa merepresentasikan identitas, status sosial, atau bahkan ideologi. Lihatlah misalnya kaos oblong made in Joger di Kuta. Ribuan orang tiap hari rela berdesak-desakan di beberapa ruangan di Jl Raya Tuban Kuta tersebut untuk mencari kaos dengan desain dan tulisan-tulisan menggelitik khas Joger. Bukan kaos sebagai pakaian yang mereka cari. Namun, bagi hampir seluruh wisatawan domestik, kaos Joger adalah representasi bahwa dia telah ke Bali.
Maka ketika di luar Bali kita bertemu dengan seseorang yang memakai kaos dengan desain khas Joger, bisa jadi kita berasumsi bahwa orang tersebut pernah ke Bali, atau setidaknya temannya, pacarnya, keluarganya.. Kaos bisa jadi semacam penunjuk hubungan seseorang dengan sebuah tempat atau kota. Hampir tiap tempat punya kaos bergambar ikon tempat tersebut. Mengutip Ariel Heryanto, salah satu pemikir kebudayaan pop di Indonesia, kaos oblong punya bobot komunikasi yang (sengaja atau tidak) telah menunjukkan identitas seseorang.