Berekspresi Lewat Kaos Oblong

Bagi sebagian orang, barangkali termasuk kita, kaos oblong tidaklah sekadar sebagai kebutuhan dasar manusia akan sandang. Ia tidak hanya untuk melindungi tubuh dari cuaca atau demi etika. Kaos oblong, meski tidak mutlak, bisa merepresentasikan identitas, status sosial, atau bahkan ideologi. Lihatlah misalnya kaos oblong made in Joger di Kuta. Ribuan orang tiap hari rela berdesak-desakan di beberapa ruangan di Jl Raya Tuban Kuta tersebut untuk mencari kaos dengan desain dan tulisan-tulisan menggelitik khas Joger. Bukan kaos sebagai pakaian yang mereka cari. Namun, bagi hampir seluruh wisatawan domestik, kaos Joger adalah representasi bahwa dia telah ke Bali.

Maka ketika di luar Bali kita bertemu dengan seseorang yang memakai kaos dengan desain khas Joger, bisa jadi kita berasumsi bahwa orang tersebut pernah ke Bali, atau setidaknya temannya, pacarnya, keluarganya.. Kaos bisa jadi semacam penunjuk hubungan seseorang dengan sebuah tempat atau kota. Hampir tiap tempat punya kaos bergambar ikon tempat tersebut. Mengutip Ariel Heryanto, salah satu pemikir kebudayaan pop di Indonesia, kaos oblong punya bobot komunikasi yang (sengaja atau tidak) telah menunjukkan identitas seseorang.

Continue reading “Berekspresi Lewat Kaos Oblong”

Tubuh yang Rasis!

Gus Dur Hanya Korban Tubuh yang Rasis!

Ditolaknya Gus Dur sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 5 Juli nanti semakin menandakan bagaimana politik tubuh yang rasis berlaku di negeri ini. Sebab seolah-olah hanya orang yang sehat jasmani saja yang layak memimpin negeri ini. Padahal dari lima pasangan yang sudah disahkan oleh KPU, silakan cek adakah yang normal mentalnya. Seharusnya kalau Gus Dur dinyatakan tidak sehat jasmani oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), maka capres yang lain juga diperiksa psikolog atau psikiater atau bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) perihal ketakwaannya. Lho, bukankah syarat capres bukan hanya sehat fisik tapi juga sehat rohani.

Sebelumnya kita sudah melihat bagaimana tubuh yang rasis itu diberlakukan di Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idols, Indonesian Model, dan lain-lain. Orang yang tidak “bagus” fisiknya, jangan harap bisa menang! Kini, lengkap sudah bukti tubuh yang rasis itu di Indonesia.

Antara Pepsi, Mercy, dan Machiaveli

Di zaman yang digambarkan Marshall McLuhan sebagai perkampungan global ini, informasi apa yang bisa dibendung? Dunia hanya ibarat kampung kecil karena informasi dengan cepat menyebar antar kampung, antar negara, antar benua. Revolusi informasi membuatnya telah melintas batas tanpa lagi terikat pada teritori ataupun ideologi. Turunannya, hampir tidak ada yang tidak bisa dipasarkan dalam kampung kecil tersebut. Bukan hanya berupa barang yang dijual tetapi juga gaya hidup, identitas, lalu ideologi. Semuanya berkelindan dalam kata benda abstrak bernama globalisasi.Pendidikan berada di antara pusaran modal global itu. Ia tidak semata menjadi kebutuhan dasar manusia akan pengetahuan, sebab pasar telah melakukan komodifikasi sehingga pendidikan bisa menjadi produk yang dipasarkan, lalu dijual. Pendidikan tidak bisa lari bersembunyi dari cengkraman globalisasi yang seperti dikatakan Anthony Giddens, tidak hanya merupakan persoalan ekonomi tapi juga menyangkut masalah politik, sosial, dan budaya.

Continue reading “Antara Pepsi, Mercy, dan Machiaveli”

Musik, Rambut, dan Pemberontakan

ADA gejala menarik di Bali seiring tumbuh suburnya kelompok musik punk akhir-akhir ini. Agak prematur mungkin untuk menyebutnya, tetapi ada kecenderungan bahwa diterimanya kelompok musik punk semacam Superman Is Dead (SID) membuat atribut-atribut punk menjadi sesuatu yang tak lagi asing. Lihatlah, misalnya, pada penggunaan kalung rantai, gelang bergerigi tajam, atau atribut punk lainnya yang dipakai remaja di Bali. Sekali lagi, perlu dikaji lebih dalam hubungan sebab akibat popularitas punk dengan maraknya atribut ini. Namun dalam sejarah, mode — sebagai sesuatu yang mapan, memang berhubungan erat dengan simbol-simbol gerakan (atau ideologi bahkan) musik tertentu.Katakanlah rock n’roll tahun 1970-an, yang dilambangkan oleh kelompok semacam Beatles, Queen, Rolling Stone, dan seangkatannya. Identitas kelompok ini diwujudkan melalui rambut gondrong, celana ketat, jaket kulit, dan semacamnya. Reggae dengan rasta-nya bisa dikenali lewat baju pantai berwarna-warni, rambut panjang dan gimbal, serta kacamata pantai. Bob Marley kemudian menjadi semacam ikon kelompok ini. Atau musik R&B yang tergambarkan oleh mereka yang memakai baju dan celana gombrong serta kalung perak panjang.

Continue reading “Musik, Rambut, dan Pemberontakan”