Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung

Malam ini bulan masih terlihat penuh. Kemaren sih Purnama Kapat dalam penanggalan Bali. Ini hari baik, meski semua hari juga baik. Pas Purnama Kapat, banyak banget pura yang ngadain Odalan -upacara enam bulan sekali dalam penanggalan Bali.

Pas di jalan ketika aku balik dari kirim laporan di internet, aku ketemu beberapa remaja habis sembahyang di pura. Masih dengan pakaian adat mereka duduk-duduk di pinggir jalan. Ada juga yang naik motor pelukan sama pasangannya. Tiap purnama, umat Hindu di Bali memang banyak yang sembahyang di Pura Jagatnatha Denpasar.

Continue reading “Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung”

Cerita Negara dengan Luka dan Trauma

Sudah sebulan lalu lalu pulang dari Kamboja. But, baru sekarang bisa nulis cerita selama di sana. Tidak masalah meski telat. Yang penting kan aku masih menyimpan cerita itu. Syukur-syukur kalo ada yang baca cerita ini. Ya, barangkali bisa jadi referensi atau sekadar tempat berbagi.

Aku berangkat karena kebaikan hati teman-teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mereka mendaftarkan aku ikut seleksi Investigative Reporting Course yang diadakan Philippine Centre for Investigative Journalism (PCIJ) dan Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Bangkok. Tidak ada salahnya dicoba kan? Eh, ternyata aku lolos seleksi mewakili media tempatku bekerja. Padahal cuma modal nekat. 🙂

Continue reading “Cerita Negara dengan Luka dan Trauma”

Mahasiswa Bukan Tukang Kuliah

-Hari ini pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru. Kira2 adikku lulus gak ya? Ya, itung2 menyambut hari pengumuman, aku post aja tulisanku. Udah lama, sih. But daripada gak ada tulisan. Soal cerita dari Kamboja, masih sedang dibuat. Ntar juga tak post-

Kalau mahasiswa kerjanya cuma kuliah, kembali sajalah ke sekolah menengah umum (SMU) atau setingkatnya. Kebebasan akademik selama jadi mahasiswa teramat mahal untuk dilewatkan.

Ketika masih sekolah di SD, SLTP, hingga SLTA posisi siswa sebatas menjadi objek pendidikan. Sudah ada sistem yang demikian mapan melalui mata pelajaran, kurikulum, seragam, juga model pengajaran. Siswa tinggal menerima apa yang disampaikan guru. Tidak banyak ruang yang bisa dipergunakan siswa untuk bisa mengeksplorasi pemikiran, kadang-kadang “kegilaan” siswa.

Continue reading “Mahasiswa Bukan Tukang Kuliah”

Mengkaji Mitos Modern Bernama Barbie

Resensi Buku Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme

Boneka Barbie mengkomodifikasi piranti bermain gadis kecil menjadi sebuah mitos tentang kecantikan. Melalui buku ini, Mary F. Rogers menyatakan bahwa boneka Barbie adalah ikon rasisme, seksisme, konsumerisme, dan materialisme.

Awalnya, Elliot Handler membuat boneka Barbie hanya karena anak perempuannya, Barbara Handler tertarik pada sebuah boneka Lili yang dilihatnya ketika belanja selama liburan di Swiss pada 1956. Boneka Lili merupakan boneka produksi Jerman yang diilhami kartun strip dan dibuat sebagai simbol seks bagi laki-laki. Tiga tahun kemudian, Mattel Inc memproduksi boneka Barbie. Mattel Inc, sendiri didirikan Elliot bersama temannya Harold Matson pada 1944. Makanya perusahaan itu bernama Matt (dari Matson) dan El (dari Elliot). Barbie yang kemudian menjadi ikon budaya itu juga meminjam nama anak Elliot, Barbara. Demikian pula pacar Barbie, Kendra. Dalam kehidupan nyata, Barbie dan Ken adalah dua bersaudara. Namun dalam imajinasi produksi Mattel, keduanya adalah sepasang kekasih.

Continue reading “Mengkaji Mitos Modern Bernama Barbie”

Mempertanyakan Rasionalitas Pemilih

Finally, Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung di Indonesia bisa dilaksanakan juga. Inilah hal yang paling membanggakan di Indonesia, paling tidak sejak aku lahir. Untuk pertama kalinya rakyat Indonesia memilih calon presidennya secara langsung. Ya, meskipun masih ada tahap selanjutnya yang belem selesai. But, tidakkah Pilpres 5 Juli kemarin suatu langkah yang luar biasa.

Kebetulan sekali aku bisa menikmati Pilpres di rumah, Mencorek sebuah desa di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur. Asik juga melihat bagaimana antusiasme tetangga-tetanggaku menuju tempat pemungutan suara di sekolah satu-satunya di kampungku. Namun masih ada beberapa yang mengganjal.

Continue reading “Mempertanyakan Rasionalitas Pemilih”

Kenapa Perempuan (Lagi) Jadi Kambing Hitam?

Barusan abis nonton Troy. Inti ceritanya, perang besar antara Troy dan Sparta pada masa Yunani kuno karena rebutan Helen, perempuan dari Sparta yang jatuh cinta pada Paris, pangeran dari Troy. Helen yang sudah bersuami Menelaus meninggalkan Sparta demi Paris. Lalu, pasukan Sparta menyerbu Troy dan membakar seluruh kota. Bla.bla..

Hal yang membuatku berpikir ulang, kenapa perempuan lagi yang jadi alasan perang? Jangan-jangan sejarah memang hanya berpihak pada laki-laki..

Continue reading “Kenapa Perempuan (Lagi) Jadi Kambing Hitam?”

Menonton Akademi Fresiden Indonesia…

[tulisan ini modifikasi dari yg sebelumnya. ya, biar agak aktual dikitlah]

Cek kali cek, ternyata pemilihan presiden mendatang tidak jauh berbeda dengan Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang heboh itu. Selain peran politisasi tubuh, iklan untuk memperbagus kesan (image) pun turut mendongkrak popularitas calon presiden.

Tidak usah mikir yang gawat-gawat soal pemilihan presiden 5 Juli mendatang. Seperti juga tidak usah ikut menangis ketika Cindy, akademia imut-imut dari Jakarta itu dieliminasi di AFI. Sebab pilpres dan AFI memang mirip. Ada beberapa kemiripan antara keduanya. Pertama, ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak lolos sebagai capres dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) karena alasan tidak sehat jasmani dan rohani. Seperti halnya AFI, jangan harap orang bertubuh tidak normal (kata orang Inggris sih different ability, -diffable) bisa lolos pencalonan pilpres. Politisasi tubuh itu tidak hanya pada kasus Gus Dur tapi juga pada pekerjaan sehari-hari di sekitar kita.

Continue reading “Menonton Akademi Fresiden Indonesia…”

Inul dan Dunia yang Maskulin

Memperdebatkan apakah goyangan Inul Daratista itu boleh atau tidak, pada hari-hari ini jauh lebih menarik daripada mendiskusikan bagaimana para partai politik mempersiapkan calon presidennnya masing-masing untuk Pemilu 2004 nanti. Sebabnya bisa jadi karena kejenuhan terhadap hal-hal yang terlalu serius. Bisa jadi karena fenomena Inul itu sendiri memang menarik untuk diobrolin.

Inul muncul bukan oleh industri musik yang mapan. Penyanyi bernama asli Ainul Rokhmah itu sudah memiliki penggemar yang tidak sedikit ketika goyangannya belum “ngebor” TV. Inul sudah ditonton banyak orang dalam setiap penampilannya justru ketika menyanyi di pesata pernikahan, peringatan 17 Agustus, sunatan, dan hajatan-hajatan yang bisa mengundang massa. “Gerilya” Inul ini sudah sejak dilakukan sejak 1995. Dan, tidak kalah menariknya, popularitas Inul ini dilakukan melalui sesuatu yang hingga saat ini masih diharamkan dalam industri musik, VCD bajakan! Penjualannya pun di tempat-tempat umum semacam terminal, pasar, bahkan kapal penyeberangan Gilimanuk-Ketapang.

Continue reading “Inul dan Dunia yang Maskulin”

Mewaspadai Tipu Daya Iklan (Capres)

Pada 1 Juni lalu, seluruh pasangan caplon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) memulai kampanye masing-masing secara langsung maupun melalui media massa cetak dan elektronik. Kampanye secara langsung itu dilakukan misalnya dengan kunjungan ke rumah sakit oleh Megawati-Hasyim Muzadi maupun blusukan di pasar seperti yang dilakukan Amien Rais-Siswono Yudhoyono. Selain kampanye konvensional tersebut, beriklan di media massa juga menjadi salah satu cara kampanye para capres dan cawapres. Namun, karena bersifat monologis, kampanye dengan beriklan sangat rentan memanipulasi fakta.

Kita bisa melihat misalnya pada waktu sebelum kampanye dimulai. Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugroho mengatakan iklan calon presiden dari Partai Golongan Karya Jenderal (Purn) Wiranto telah memanipulasi fakta (Kompas, 26/5). Iklan yang dipublikasikan melalui TV tersebut hanya ditampilkan dengan memotong beberapa fakta dalam kerusuhan Mei 1998. Akibatnya, menurut Bimo Nugroho, iklan tersebut menyesatkan mereka yang tidak paham mengenai kerusuhan menjelang mundurnya Soeharto tersebut. Sebab, iklan kampanye Wiranto dibuat –tentu saja- hanya demi kepentingan Wiranto.

Continue reading “Mewaspadai Tipu Daya Iklan (Capres)”

Iklan yang Jadi Tuntunan

Salah satu tanda akhir zaman adalah pada zaman itu tontonan akan jadi tuntunan.. Maksudnya, sesuatu yang kita tonton akan kita jadikan sebagai hal yang patut ditiru. Demikian pernah dikatakan Muhammad, nabi umat Islam dalam sebuah kesempatan. Padahal, saat ini, sebagian besar tontonan, sangat tidak layak kalau dijadikan tuntunan.

Di Indonesia, lahirnya stasiun TV swasta sejak 1989 lalu turut menyebarluaskan tontonan kepada masyarakat yang ujung-ujungnya berakhir pada penonton yang menjadi “umat” tontonan tersebut. Tontonan itu bisa berupa sinteron, film, video klip, talk show, reality show, juga iklan.

Continue reading “Iklan yang Jadi Tuntunan”