Kisah para Ambtenaar Denpasar

Tumben hari ini aku datang ke kantor walikota Denpasar. Ada undangan mendadak pertemuan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Bali dengan masyarakat Denpasar. Awalnya males datang karena undangan mendadak. But, pas ada waktu luang ke sana aja meski bentar.

Kalau gak salah, terakhir ke kantor walikota sudah tiga empat tahun lalu. Memang jarang sih ada keperluan di sana.

Continue reading “Kisah para Ambtenaar Denpasar”

Rambut Keriting Bukan Kejahatan!

Pas aku lagi baca koran pagi tadi, tetangga sebelah ngobrol. Suaranya agak kenceng jadi aku bisa dengar dengan jelas. Topik bahasannya soal rambut.

Ceritanya ada dua anak kecil, ponakan tetangga, yang datang ke kos. Kakak beradik. Cowoknya adik, ceweknya kakak. Si kakak rambutnya lurus, sedangkan adiknya berambut agak keriting. Lalu datang ibu, tetangga yang lain, dan bilang ke tetanggaku itu.

“Kok yang cowok rambutnya brekele.”

Continue reading “Rambut Keriting Bukan Kejahatan!”

Jangan-jangan Remaja Hanya Kambing Hitam pada Masalah Narkoba

Tadi pagi ngobrol ma psikolog soal narkoba. Mengalir begitu saja sih. Hingga pada satu titik dia bilang kalau masalah narkoba itu terjadi karena remaja sedang dalam masa pencarian identitas . Akibatnya, remaja pun berusaha mencoba-coba, termasuk narkoba.

Aku tanya dia. Apa benar sebagian besar pengguna narkoba adalah remaja? Jangan-jangan hanya mitos? Atau malah kambing hitam?

Continue reading “Jangan-jangan Remaja Hanya Kambing Hitam pada Masalah Narkoba”

Idul Fitri, Hari untuk Berbasa-basi

Jumat. Sabtu. Minggu. Hm, lebaran tinggal tiga hari lagi. Mereka, -eh, aku juga ding!- yang akan merayakan udah pada kembali ke keluarga. Berkumpul dengan orang tua, saudara, keluarga besar, maupun tetangga. Pas hari H, kita akan sholat ied dan abis itu silaturahmi, main ke rumah keluarga dan tetangga.

Aku jadi inget. Biasanya aku ngumpul sama sepupu-sepupu. Ada yang dari Malang, Yogya, Surabaya. Asik banget. –Dan bener memang keluarga itu candu-. Soalnya, lebaran jadi terasa kurang lengkap kalau tidak kumpul dengan mereka. Kami jalan bareng keliling kampung. Dulu sih hampir semua. Sekarang karena jarang di rumah ya pilih beberapa saja. Toh, jarang ketemu mereka (tetangga kampung maksudnya). Jadi, tidak punya dosa sama mereka. πŸ™‚

Continue reading “Idul Fitri, Hari untuk Berbasa-basi”

(Jangan-jangan) Keluarga Itu Candu?

Denpasar terasa agak sepi. Sudah jarang ada yang jual gorengan, atau martabak, atau penjual di pinggir jalan lainnya. Sepertinya karena sebagian warganya -yang ngrayain lebaran- pada mudik. Sebab, lebaran tinggal lima hari lagi. Banyak orang mulai berbenah, siap2 mudik.

Tradisi mudik ini memang dilakukan banyak orang menjelang hari raya keagamaan. Umat Islam menjelang lebaran. Umat Nasrani menjelang natal. Umat Hindu menjelang Nyepi. Dst. Kalo gak salah, Amrik pun mengenal Thanksgiving Day, dimana mereka biasanya kumpul, selain natal tentu saja.

Continue reading “(Jangan-jangan) Keluarga Itu Candu?”

Lebaran Meriah Harga Termurah. Alah-alah..

Hari-hari ini iklan soal lebaran memenuhi berbagai tempat. Koran, TV, radio, baliho, kampus, perempatan, sekolah, apalagi mall. Denpasar pun tidak ketinggalan. Berbagai tempat dipenuhi iklan-iklan tersebut. Misalnya perempatan Jl Raya Puputan-Jl Sudirman, perempatan Jl Diponegoro-Jl Teuku Umar. Puluhan spanduk soal lebaran, mulai dari angkutan, pakaian, atau hotel memakai kata lebaran. Di berbagai sudut Denpasar dipenuhi spanduk-spanduk itu.

Memang tidak hanya hari-hari ini, sih. Biasanya juga banyak. Malah bagiku kadang keliatan merusak kota. Maka, kalo Bali adalah Pulau Seribu Pura, maka Denpasar adalah Kota Seribu Spanduk. πŸ™‚

Barusan lewat Jl Sudirman. Dekat lampu merah perempatan jalan ini ada dua mall besar, Matahari dan Robinson. Keduanya tidak mau ketinggalan memasang spanduk besar, sekitar 5 m x 3 m. Matahari memasang spanduk hijau besar bertuliskan, “Sambut Lebaran dengan Bergaya dan Diskon Istimewa.” Sedangkan Robinson memasang spanduk merah, “Lebaran Meriah, Harga Termurah. Diskon hingga 75%” Juga ada puluhan spanduk lain di dua mall tersebut.

Continue reading “Lebaran Meriah Harga Termurah. Alah-alah..”

Lelaki Tua yang Kulihat Itu Ternyata…

Aku tidak tahu kenapa. Pas pertama kali melihatnya, seperti ada yang langsung menyuruhku merhatiin orang itu. Tidak hanya sekilas melihat. Aku pun jadi benar-benar merhatiin orang itu. Dan mengingatnya di otakku. Waktu itu dia berkaos hijau bergaris-garis horizontal putih, sejajar dengan dada. Mirip zebra. Kaos berkerah itu kusam. Dekil. Celananya coklat. Jauh lebih dekil dibanding kaosnya. Ada titik-titik putih, seperti bekas cat di celana robek di lutut tersebut. Makanya aku pikir dia selesai ngecat rumah atau bangunan. Apalagi wajahnya keliatan capek.

Dia duduk bersila di depanku. Gurat-gurat keriput berentuk spiral mengelilingi mulutnya. Ketika dia menggerakkan mulut, keriput itu masih terlihat. Wajahnya kecil. Rambutnya, yang banyak uban, agak basah. Entahlah, aku seperti merasakan beban berat orang tua itu pas melihatnya. Padahal aku hanya menduga. Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan dia. Di mana dia tinggal. Atau siapa namanya. Aku kemudian merekam wajah tua itu di pikiranku.

Continue reading “Lelaki Tua yang Kulihat Itu Ternyata…”

(Katanya) Tidak Ada Paksaan dalam Beragama?

Puasa Ramadhan udah separuh jalan. Ada beberapa yang mengusik pikiran dan menarik jadi catatan. Paling tidak menurutku.

Pertama soal sweeping tempat hiburan. Ternyata bener terjadi. Sekelompok massa yang mengaku sebagai Laskar Mujahidin Islam di Surabaya dan Jakarta men-sweeping bar, kafe, dan tempat (yang menurut mereka) maksiat.

Menyedihkan! Kenapa masih saja ada sekelompok orang yang merasa berhak menyalahkan orang lain, dan bahkan menghukumnya dengan tindakan semena-mena. Kalau toh ada orang tetap berbuat maksiat, tanpa mengganggu orang yang sedang beribadah, kenapa harus diperlakukan seperti itu. Toh, katanya tidak ada paksaan dalam beragama.

Continue reading “(Katanya) Tidak Ada Paksaan dalam Beragama?”

Dunia Memang Tidak Adil

Jumat sampe Minggu lalu liputan – apa liburan ya? πŸ™‚ – di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Dari Denpasar sekitar 200 km, perlu waktu sekitar 3 jam naik mobil pribadi. Kalau dengan kendaraan umum mungkin lebih lama. Pemuteran desa kecil di bibir pantai utara Bali. Ada jalan raya besar menghubungkan Gilimanuk dan Singaraja. Gilimanuk pintu masuk utama ke Bali jika lewat darat. Sedangkan Singaraja, dulunya ibukota Bali sebelum kemudian pindah ke Denpasar.

Pemuteran termasuk desa kering. Buktinya pas aku ke sana, tanah desa berdebu. Kering. Pohon-pohon juga meranggas tanpa daun. Di bagian selatan desa ini, bukit Pulaki membentang dengan bentuk kaya grafik: dari paling rendah lalu naik. Cuma bukit itu keliatan kering. Di beberapa titik keliatan kerontang. Di bagian utara, desa ini berbatas pantai utara. Dan, ini yang jadi daya tarik Pemuteran.

Continue reading “Dunia Memang Tidak Adil”

Selamat Datang Bulan Penuh Diskon!

Hari ini mulai puasa wajib Ramadhan. Kalau soal meningkatkan iman taqwa dan tetek bengeknya, biarlah itu diurusi orang-orang alim. Kalau aku ikut ngasih komentar tentang itu, gawat juga kan. Bisa-bisa Aa’ Gym dapat saingan. Padahal dia lagi moncer-moncernya jadi ikon orang beriman (dan sukses berbisnis) di Indonesia. πŸ™‚

Urusanku, biarlah soal yang sepele-sepele saja. Iklan, hiburan, berita..

Continue reading “Selamat Datang Bulan Penuh Diskon!”