Sepasang sandal itu mengingatkanku untuk tidak terus menuntut lebih. Aku harus bersyukur dengan apa yang aku terima, dengan apa yang aku punya..
Semoga jadi renungan akhir taun ini.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Sepasang sandal itu mengingatkanku untuk tidak terus menuntut lebih. Aku harus bersyukur dengan apa yang aku terima, dengan apa yang aku punya..
Semoga jadi renungan akhir taun ini.
Hampir dua tahun akrab dengan pecandu heroin atau pun mantan pecandu, aku jadi salut sama mereka yang sudah bisa melepas diri dari jerat kecanduan. Sebab, ternyata memang ga mudah melepas jerat kecanduan. Buktinya aku!
Pertama kecanduan ngrokok. Awalnya hanya sekali dua kali aku ngrokok sejak SMA. Waktu itu iseng aja karena dikasih teman. Jadi ya ga sampai beli, apa lagi kecanduan.
Udah lama aku pengen nulis panjang tentang Kuta. Tema tentang Kuta ini sama halnya dengan tema kemiskinan di Bali. Niatnya udah lama, tapi liputannya di kepala terus. Tak pernah reportase atau cari bahan. :))
Lalu minggu ini ide liputan tentang Kuta itu muncul lagi. Ada beberapa pemicu. Pertama karena September ini akan ada Kuta Karnival, perayaan -atas apa ya?- di Kuta. Agendanya dua tahun lalu ada pawai bersama, macam-macam lomba, dst. Kedua, Oktober nanti pasti akan ada peringatan peledakan bom di Kuta. 12 Oktober 2002 lalu teroris Amrozi dkk meledakkan bom di Kuta. Aku pikir peringatan bom 12 Oktober bisa jadi momentum untuk nulis soal Kuta.
Rasa pedes sambel dan segarnya ikan Languan belum hilang dari lidahku setelah makan siang kemarin. Pas minum segernya teh botol dingin, seorang bapak lewat. Umurnya mungkin di atas 70 tahun. Dia renta. Kulitnya terliat keriput.
Aku duduk di meja makan ngobrol dengan dua teman. Bapak itu lewat di tengah terik hari. Agak tertatih memikul beban di pundaknya, peralatan rumah tangga. Bapak itu mungkin sudah setengah hari keliling memikul jualannya. Ada sapu, pengkik, kemucing, dan peralatan lain.
Continue reading “Pemikul Jualan dan Ibu Pincang Bersama Anaknya”
-huh, sibuk ngurusi persiapan pameran hingga hari H dan pasca. sampe lupa terus utk posting. jd ya posting press release ajalah. sptnya belum telat-
Enam fotografer memamerkan foto kehidupan Odha. Menggambarkan optimisme. Sekaligus membongkar mitos bahwa HIV/AIDS adalah akhir segalanya.
Sabtu (20/1) menjelang tengah malam, seorang wartawan bertanya di sela-sela persiapan pameran foto ini, “Kenapa pameran ini tidak memperlihatkan orang-orang kena AIDS yang kurus dan tinggal tulang?” Kami terhenyak. Pertanyaan ini makin membuktikan bahwa masih banyak kesalahpahaman dan mitos tentang HIV/AIDS. Karena itulah kami berharap bahwa pameran foto ini bisa menjawab kesalahpahaman dan mitos itu.
Nyepi udah dua hari lalu. Meski telat, tetap saja selamat melaksanakan catur brata penyepian untuk yg ngrayain.
Ini Nyepi pertama setelah married. Biasanya aku pilih keluar Bali kalo ada waktu, dan duit tentu saja. Kali ini di rumah aja. Berdua sama nyonya.
Sehari menjelang Nyepi, namanya Pengerepukan, aku ketawa2 sendiri ngeliat anak2 kecil semangat banget bawa ogoh2. Ogoh2 tuh patung besar berwujud raksasa jahat. Tapi sekarang wujudnya bisa macam2. Taun ini ada berwujud anak punk. Tahun 2003 lalu malah ada yang berwujud Amrozi. :)) Ya, sama jahatnya lah dia sama betarakala. Cuma kalo anak punk dianggap jahat juga, ah, itu mah setereotype.
Kemarin abis baca buku Chomsky untuk Pemula. Belinya di Gramedia minggu lalu pas lagi nyari buku tentang Ajeg Bali. Mumpung pas ada duit, sekalian aja beli. Karena Chomsky juga karena yang nerbitin Resist Book yang bukunya murah dan bagus.
Baca buku tentang Chomsky menarik. Dia salah satu pemikir yg banyak dikutip saat ini karena ide-idenya tentang linguistik, media, dan Amerika Serikat. Tidak terlalu baru sih ide-ideen di buku itu. Cuma jadi lebih tau tentang dia aja.
Akhirnya bisa juga posting. Udah sejam buka2 blogspot ga bisa2 juga. Syukurlah akhirnya bisa.
Minggu2 ini melelahkan secara fisik+psikis. Minggu lalu liputan keluar Denpasar terus: Karangasem, Klungkung, Negara. Lumayan jauh2 lagi. Udah gitu liputan belum kelar tapi udah ada tugas lagi, dan kerjaan lain. Di rumah, ngurus istri hamil juga jadi beban pikiran meski ga berat2 amat. Tapi ya tetep aja kepikiran.
Lalu sekarang buka milis pantau-komunitas@yahoogroups.com. Salah satu yang menarik bagiku adalah posting dari Fauzan Al-Anshari, orang Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Dia posting somasi terhadap penolakan Bali pada Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Poinnya antara lain: bahwa alasan pariwisata sebagai penolakan pada RUU APP adalah hal yang naif, secara substansial pakaian adat Bali juga sudah menutup aurat sehingga tak bertentangan dg isi RUU APP, dan ancaman Bali memisahkan diri dari Indonesia kalau RUU ditetapkan merupakan bentuk tirani minoritas dan arogansi bernuansa SARA.
Tadi sore nonton VCD Gie. Film ini kalo ga salah mendapat penghargaan sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia taun lalu. Sebenarnya pengen nonton di Wisata 21 waktu itu. But karena susah, jadinya ya nunggu VCD aja. Thx God akhirnya hari nonton juga.
Gie bercerita tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa angkatan 60an. Dia hidup di zaman Soekarno. Waktu itu gerakan mahasiswa juga terpecah dalam ikatan2 primordial kaya HMI, PMKRI. Bahkan mereka [HMI+PMKRI+GMNI] berantem ketika kampanye pemilihan ketua senat. Lucu juga.
Dua hari lalu Tabloid Kulkul edisi Mei terbit. Artinya sudah lima bulan ini aku kerja di tabloid soal HIV/AIDS dan narkoba ini. Tabloid bulanan ini diterbitkan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPAD) dan Badan Narkotika Provinsi (BNP) Bali. Jadi ya ini punya pemerintah.
Lima bulan, banyak banget pelajaran yang ku dapat.
Continue reading “Setelah Empat Bulan Akrab dengan HIV/AIDS dan Narkoba”