Jangan Undang Profesor [Tiiiiit! Awas Sensor]

Selesailah sudah satu beban pekan ini. Tadi pukul 11 siang lebih sekian, talk show di Radio Global FM pun berakhir. Maka berakhir pula satu kerjaan dengan Kemitraan Jakarta dan Koalisi NGO.

Kerja sama itu bermula dari telepon Tio (Indonesian Parlemantary Centre) Sabtu atau Minggu dua pekan lalu. Dia bilang mau ngajak kerja sama untuk diskusi tentang Undang-undang Partai Politik 2007. Diskusi itu kerja sama antara Koalisi NGO untuk Perubahan UU Politik (Cetro, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, dan IPC) dengan Kemitraan. Di Bali mereka ngajak aku. Mungkin mas Hanif LSPP yang ngasi kontak ke mereka. Setelah jelas bagaimana kerjaannya, aku mengiyakan. Aku pakai Sloka Institute sebagai kendaraan. Continue reading “Jangan Undang Profesor [Tiiiiit! Awas Sensor]”

Multitasking yang Bikin Pusing

Di Kompas sekitar sebulan lalu, Ninok Leksono menulis tentang fenomena multitasking. Mengutip penelitian ilmuwan Amrik –siapa ya namanya?- wartawan senior Kompas yang setauku doktor di bidang nuklir itu menulis bahwa multitasking alias mengerjakan beberapa hal pada satu waktu itu tidak akan efektif. Tulisan itu berawal dari banyaknya komputer yang menggunakan intel core duo.

Sebatas yang aku pahami adalah begini: dengan intel core duo sebagai prosesor, maka komputer akan punya dua prosesor untuk mengerjakan beberapa aplikasi pada satu saat yang sama. Misalnya pada saat komputer bekerja untuk mengetik, komputer juga dipakai untuk mendengarkan lagu. Atau pada saat komputer dipakai edit foto juga lagi online. Atau malah melakukan tiga empat hal sekaligus: mengetik, menyetel lagu, surfing internet, dst. Dengan dua prosesor, maka kerja multitasking lebih ringan dan cepat. Continue reading “Multitasking yang Bikin Pusing”

Mari Memproduksi Informasi Sendiri

Media massa yang disebut sebagai media mainstream (media arus utama) kurang memberi tempat bagi kelompok-kelompok marjinal. Lihatlah TV, maka kita lebih sering melihat wajah-wajah penguasa modal politik, ekonomi, maupun sosial. Bacalah koran maka nama-nama sama juga yang kita temukan. Kelompok-kelompok yang tak punya cukup modal hanya diposisikan sebagai konsumen media, bukan produsen, atau setidaknya dilibatkan.

Namun kelompok tak cukup modal politik, ekonomi, dan sosial itu punya kekuatan lain yaitu komunalisme. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang sosial maupun geografis. Bermodal komunalisme ini ternyata mereka bisa meninggikan posisi tawar dalam praktik penyebaran informasi. Mereka tak lagi hanya mengonsumsi informasi, tapi memproduksinya.

Continue reading “Mari Memproduksi Informasi Sendiri”

Penangkapan Teman dan Kepercayaan yang Hilang

Pagi tadi aku kaget banget baca koran. Satu teman lagi ditangkap polisi gara-gara bawa heroin. Aduh, ini telak banget bagiku. Soalnya Novian, teman yg ditangkap itu, akrab banget sama aku. Dia sering cerita masalah pribadinya: ceweknya hingga keputusannya utk berhenti minum ARV, obat terapi HIV. Beberapa kali dia cerita dengan embel-embel, “Gua cerita ini hanya ke Elu..” Aku sih yakin tidak begitu. Tapi keterbukaannya padaku, dan mungkin pada tiap temannya, membuatku merasa dipercaya. Kepercayaan bukankah sesuatu yg susah didapatkan?

Dalam beberapa kasus tentang HIV/AIDS, aku juga sering tanya ke dia. Soale, Novian memang salah satu aktivis LSM yang peduli pada pengobatan. Aku inget ketika liputan masalah ini, melihat dia mendampingi ODHA sakit, mengganti infus, ngelapin badan. Semua membuatku tersentuh. Continue reading “Penangkapan Teman dan Kepercayaan yang Hilang”

Gagalnya Penjara Kita

-hari ini, 27 April, adalah hari Lembaga Pemasyarakatan Nasional. Lapas adalah bahasa halus dari penjara. mumpung ada cantolan, aku posting aja tulisan yg aku kirim ke Kompas utk rubrik Humaniora Teroka. udah dua minggu lalu aku kirim tp belum jelas akan dimuat apa tidak. jd ya tak posting aja di blogku sendiri. kan itu gunanya blog. he.he-

Gagalnya Penjara Kita

Kita terbiasa menerima sistem sebagai takdir yang tak bisa diubah. Seolah-olah begitu adanya dan kita harus menerima, apa pun itu konsekuensinya. Demikian pula ketika berbicara tentang penjara sebagai hukuman bagi pecandu Narkoba. Continue reading “Gagalnya Penjara Kita”

Selalu Ada Gelap di Balik Gemerlap

Pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita pakai, apa yang kita makan, atau apa yang kita lihat sehari-hari tidaklah sesederhana adanya?

Pertanyaan itu muncul setelah aku nonton Blood Diamond yang menceritakan bagaimana ironi sebuah permata yang berkilau itu ternyata lahir oleh perang tak berkesudahan dan perjuangan berdarah-darah. Ketika permata itu telah ada di tangan konsumen mereka tak pernah berpikir tentang itu semua. Permata adalah kemewahan. Begitu menyilaukan hingga orang tidak sempat berpikir tentang darah yang mengalir di baliknya. Continue reading “Selalu Ada Gelap di Balik Gemerlap”

Bikin Komunitas Blogger Denpasar

Sebenarnya udah lama pertanyaan -atau kegelisahan- ini muncul. Kenapa ya aku kok gak pernah denger ada Komunitas Blogger di Bali, atau setidaknya di Denpasar? Aku cari berkali-kali di blogger atau google juga ga ketemu. Asumsiku: memang belum ada komunitas blogger di Denpasar.

Padahal komunitas blogger di kota lain begitu hidup. Bandung dengan Bandung Blog Village, Jogja dengan Angkringan, Semarang dengan Loenpia, dan seterusnya. Mereka bisa saling mendukung. Dan yang paling penting adalah bisa menyebarluaskan gagasan ttg blog ke orang lain. Bagiku sih itu bagian dari demokratisasi melalui internet. Continue reading “Bikin Komunitas Blogger Denpasar”

Garingnya Perayaan Ultah Akademika

Ketika berangkat dari rumah, aku terlalu banyak berharap. Aku bayangin akan banyak teman alumni Akademika yang dateng malam itu. Akademika, pers mahasiswa tempat aku belajar jurnalisme pertama kali sekaligus tempat yang mengubahku, merayakan ulang taun ke-24 Sabtu malam kemarin. Sebagai alumni yg baik dan benar –he.he- aku niat banget datang ke aka, gitu sebutan kami untuk Akademika, malam itu.

Padahal sebenarnya ada tiga alasan untuk tidak hadir. Pertama aku tiba-tiba sakit. Badan agak demam. Hidung ngocor. Mungkin karena Jumat kemarin kehujanan terus malemnya nglembur ngetik laporan riset media sampai pukul setengah dua pagi. Udah gitu baru bisa tidur sekitar pukul tiga dan bangun pukul tujuh. Jadi ya klop: kehujanan, nglembur, kurang tidur. Seperti biasa, badan langsung drop. Continue reading “Garingnya Perayaan Ultah Akademika”

Ketika Anggota DPR Niru Tukul

“Sekalian aja celana dalamnya dianggarkan negara,” kata istriku sinis pagi ini.

Komentar itu muncul begitu saja ketika kami membaca di koran bahwa anggota DPR minta laptop. Menurut koran pagi itu 550 anggota DPR masing-masing minta diberi laptop. Tiap satu laptop seharga Rp 22 juta. Total habis duit Rp 13,9 miliar. -Aku tidak ngitung sendiri apakah Rp 22 juta x 550 itu memang senilai Rp 13,9 miliar. Soale belum ngitung udah nek duluan. Pengen muntah. :))- Continue reading “Ketika Anggota DPR Niru Tukul”

Kehangatan Keluarga di Taman 65

Kue ulang taun di meja kecil itu dikelilingi sekitar 30 orang. Umur mereka beragam. Ada yang masih digendong, ada juga yang berjalan tertatih karena umur yang uzur. Mereka semua bergembira. Ada yang berteriak, “Cium. Cium. Cium..” Lalu semua mengikuti teriakan itu. Dengan malu-malu, ibu yang merayakan ulang tahun ke-50 malam itu mencium pipi suaminya. Semua tergelak. Tertawa.

Sebelum kue dipotong ada yang berbicara. Ada sanjungan. Ada pujian. Ada terima kasih. Continue reading “Kehangatan Keluarga di Taman 65”