Dukung Kami, Jangan Terus Ditakut-takuti

Nyaris semua komunitas blogger belum pernah didukung pemerintah setempat.

Kesimpulan itu aku ambil setelah bertanya lewat Twitter, adakah komunitas blogger daerah yang pernah bekerja sama dengan pemerintah setempat? Ternyata hampir semua penjawab menyatakan belum.

Continue reading “Dukung Kami, Jangan Terus Ditakut-takuti”

Water Birth, Melawan Mitos Memelihara Kesakralan

Refleksi usai mendampingi istri melahirkan lewat water birth.

Mendampingi istri melahirkan ini merupakan pengalaman pertamaku. Pada kelahiran anak pertama kami, Bani Nawalapatra, aku tak terlalu banyak mendampingi. Salah satunya karena proses kelahirannya lewat operasi sesar.

Continue reading “Water Birth, Melawan Mitos Memelihara Kesakralan”

Ketika Batas itu Kian Tak Jelas

Globalisasi membuat kategorisasi kian tak penting lagi.

Mungkin itu salah satu poin penting yang kami peroleh setelah live in selama sekitar 24 jam di Pulau Serangan, Denpasar Selatan Senin pekan lalu. Kesimpulan itu muncul begitu saja ketika kami diminta membuat semacam refleksi setelah live in.

Refleksi live in tersebut termasuk salah satu proses dalam pelatihan riset yang diadakan Centre for Innovation, Policy, and Governance (CIPG) yang aku ikuti.

Agak terlalu jauh mungkin jika hanya dilihat sekilas. Namun, jika diturunkan dalam bentuk sebab akibat, maka akan terlihat bahwa perubahan di Serangan pun tak bisa dilepaskan dari makhluk besar bernama globalisasi itu.

Continue reading “Ketika Batas itu Kian Tak Jelas”

Label Media makin Menyuburkan Stigma

Sebagian media kembali memberitakan pembunuhan berantai.

Lalu, gay kembali jadi pihak terpojokkan. Mujianto, pelaku pembunuhan berantai di Nganjuk, Jawa Timur tersebut berorientasi seks homoseksual. Korban-korbannya pun gay. Kelompok ini pun kembali mendapat stigma.

Continue reading “Label Media makin Menyuburkan Stigma”

Ironi di Balik Sejahteranya Singapura

“Singapura bukan tempat yang enak buat hidup.”

Jawaban senada itu datang dari empat orang berbeda di tempat berbeda dan dalam waktu berbeda pula. Amat mengejutkan bagiku.

Empat orang itu dua orang Indonesia, satu warga Singapura sendiri, dan satu lagi orang Belanda. Keempatnya memberikan jawaban senada. Bagi mereka, Singapura itu memang tertib, aman, sejahtera. Namun, terlalu banyak aturan di negeri ini. Biaya hidup juga amat mahal. Makanya terasa mengekang dan membosankan.

Tapi, aku nyatakan sejak awal, pendapat ini amat umum karena hanya berdasar pada obrolan santai. Juga mengandalkan pengamatan selama tiga hari di sana.

Continue reading “Ironi di Balik Sejahteranya Singapura”

Singapura, Negeri Penuh Mata dan Denda

Puluhan mata waspada menyambut begitu kami turun dari kereta.

Mata-mata itu diwakili close circuit television (CCTV) yang ada di setiap pojok. Bahkan, di stasiun Kallang, tempat di mana kami turun hari ini, CCTV itu seperti mengintimidasi. Persis di depan pintu saat kami baru turun dari kereta.

Continue reading “Singapura, Negeri Penuh Mata dan Denda”

Bali Post dan Gubernur Bali, Berdamailah..

Dua penguasa Bali ini pun resmi bersengketa secara terbuka.

Kamis kemarin, sidang perdana gugatan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika terhadap Bali Post pun digelar di Pengadilan Negeri Denpasar. Pastika resmi menggugat media tertua dan terbesar di Bali tersebut karena dianggap menulis hal tidak benar tentang dirinya.

Continue reading “Bali Post dan Gubernur Bali, Berdamailah..”

Media Baru, Alat Perlawanan Baru

Alat baru untuk menyuarakan perlawanan itu ada di internet.

Para aktivis demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) dari 16 negara di Asia pun mengakui dan memanfaatkan kekuatan baru tersebut. Melalui berbagai blog, Facebook, Twitter, dan bentuk media baru (new media) lainnya, para aktivis itu bergerilya melakukan perlawanan.

Continue reading “Media Baru, Alat Perlawanan Baru”