Penyeragaman Budaya Lewat Makanan

Perjalananku ke Mamasa kali ini adalah untuk liputan tentang kedaulatan pangan di kabupaten di Sulawesi Barat ini. Peni, teman program officer VECO Indonesia di Mamasa, bercerita bahwa di kabupaten yang baru terbentuk pada 2002 ini ada Forum Pangan Daerah. Kabupatean ini juga mulai mengembalikan pangan lokal, ubi dan umbi-umbian.

Maka, aku pikir menarik juga kalau menjadikan cerita di Mamasa ini sebagai salah satu bahan tulisan di LONTAR, media internal VECO Indonesia, tempatku kerja part time. Aku pun ke sini sama dua teman, Peni dan Anna, manajer publikasi VECO Indonesia.

Continue reading “Penyeragaman Budaya Lewat Makanan”

Merasakan Kembali Kesenjangan Negeri Ini

Sekitar pukul 11.30 tengah malam. Sepanjang jalan hanya gelap. Suara serangga malam menemami perjalanan panjang kami. Tinggal sekitar satu jam lagi kami akan sampai Mamasa, kota tujuan kami setelah perjalanan panjang sejak pukul 11 dari Makassar tadi.

Tapi, truk itu menghalangi perjalanan kami. Padahal Mamasa tinggal sekitar satu jam lagi. Apa boleh buat. Kami tidak bisa lewat. Truk yang mengangkut bahan bangunan itu terperosok di sana. Ban kiri belakangnya masuk lumpur. Truk itu sampai miring.

Continue reading “Merasakan Kembali Kesenjangan Negeri Ini”

Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan

Sampai hampir pukul 7.30 Wita, mobil pick up yang kami pesan tak juga datang menjemput ke rumah. Padahal semalam sebelumnya kami sudah bilang ke pemilik pick up, tetangga kami di jalan Subak Dalem di pinggiran Denpasar Utara, untuk datang menjemput pukul 7 pagi.

Kami harus berangkat awal karena harus mengambil papan petunjuk jalan yang akan dibawa ke Nusa Lembongan juga jemput bapak ibu yang akan ikut ke sana untuk sembahyang sekalian jalan-jalan. Apalagi Bunda juga harus beli tiket untuk teman-teman yang akan ikut ke pulau seberang tersebut. Jadi harus berangkat lebih awal.

Continue reading “Perjalanan Menyenangkan ke Nusa Lembongan”

Bani Petani Kecil Kami

bani-petani

Hari Minggu pun tiba. Inilah hari ketika Bani akan ikut liburan ke sawah. Bani mau ikut Fun Sunday, liburan sambil belajar ala Yayasan Wisnu. Sejak sekitar pukul 7 kami sudah siap-siap. Sayangnya aku sendiri tidak yakin jam berapa acara akan mulai, pukul 8 apa pukul 9. Tapi kami putuskan berangkat pukul 8.30 saja.

Continue reading “Bani Petani Kecil Kami”

Habis Kepedasan Lalu Ditegur Satpam

Makan-makan selalu jadi obat asik menghilangkan kepenatan. Begitu pula minggu ini. Inilah beberapa tempat yang aku kunjungi. Bukan cuma untuk makan-makan, sebenarnya, tapi juga karena pekerjaan. Inilah tempat-tempat bersantap itu.

Nasi Hot
Tempat ini menarik mataku ketika aku dalam perjalanan ke Pantai Jerman Kuta setelah dari makam Mads Lange. Adanya di kiri jalan raya Tuban, dari Joger ke arah bandara. Hal yang menarik mataku adalah tulisan merah menyala di papan namanya dan kata HOT itu sendiri. Penikmat makanan pedas seperti aku gampang ngiler lihat kata-kata hot, apalagi cewek hot. 😀

Continue reading “Habis Kepedasan Lalu Ditegur Satpam”

Holidaying while learning something at Bali Botanical Garden

Anton Muhajir,  Contributor,  Bedugul | Tue, 11/11/2008 10:54 AM | Supplement

During their one and a half years in Bali, Rogier Eijkens and his family have gone to Bedugul six times for a holiday. For Eijkens, a Dutch citizen residing in Padanggalak Sanur, holidaying in Bedugul is much better than going to Kuta, Sanur, Nusa Dua and the like.

“If we come here for a holiday, my kids can learn about nature,” said Eijkens, who has two children with his Indonesian wife. In Bedugul, he went on, visitors can learn about plants, for example, the species, where the plants come from and what they are useful for.

Continue reading “Holidaying while learning something at Bali Botanical Garden”

Setan! Rawone Pancen Enak Tenan..

Tetep. Tiap ke satu tempat, makanan enak selalu jadi barang buruan. Begitu pula ketika di Surabaya Rabu lalu. Ada dua tempat makan yang aku kunjungi dan layak direkomendasikan. Satu, Rawon Setan Bu Sup di jalan Embong Malang. Dua, Nasi Bebek Bungkul Cak Sunari di sekitar Taman Bungkul. Dari dua lokasi itu, aku pilih Rawon Setan yang paling layak ditulis.

Ketika Sinyo, teman dari East Java Action (EJA) yang jadi tuan rumah, menawarkan makan malam bareng di rawon setan, kami langsung mengiyakan. Nama warungnya sih unik. Semoga rasanya juga demikian.

Continue reading “Setan! Rawone Pancen Enak Tenan..”

Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat

Sejak kecil, bayanganku tentang Surabaya tuh cenderung sesuatu yang negatif. Mungkin karena beberapa cerita dari kakak dan tetanggaku. Mereka bercerita bagaimana ditodong pisau ketika di tengah angkutan kota. Malah, kakakku sendiri mengalami bagaimana harus melompat dari taksi karena dia ditodong orang. Ada pula teman bercerita kalau dia pernah diacungi celurit saat naik kendaraan umum.

Maka, Surabaya jadi kota yang sarat kekerasan di mataku. Itu pula alasan aku tak terlalu ingin menikmati kota ini lebih detail. Padahal jarak antara Surabaya dan Lamongan, tempatku lahir dan besar, juga tak terlalu jauh. Tiap kali lewat, aku benar-benar hanya lewat. Hampir tak pernah berniat singgah untuk tahu lebih banyak.

Continue reading “Dolly Tak Sekadar Urusan Syahwat”

Menggunakan Media sebagai Alat Advokasi

Diskusi tentang media adalah alasanku untuk mengiyakan ajakan Wahyu pergi ke Surabaya. Teman di Ikatan Korban Napza (IKON) Bali, kelompok mantan atapun pengguna narkoba dengan jarum suntik yang masih aktif, itu bilang kalau teman ngobrol di Surabaya tersebut bagus untuk tempat belajar soal media dan advokasi. Maka, aku mengiyakan ajakan itu.

Selasa malam kemarin, kami pun tiba di Surabaya. Sinyo, teman sesama ex junkie di kota ini menjemput kami dengan BMW tuanya. Oh ya, acara di Surabaya ini memang untuk para pengguna ataupun mantan pengguna. Ada IKON Bali, East Java Action (EJA), dan Performa Semarang. Kami menginap di penginapan sederhana di daerah jalan Darmokali, tak jauh dari Kebun Binatang.

Continue reading “Menggunakan Media sebagai Alat Advokasi”