Rezeki Berjuta dari Makanan Desa

Sambil mudik, makan-makan tetap harus jalan. Karena itu, mudik Lebaran tahun ini kami gunakan juga untuk cari makanan khas di sekitar desa. Lamongan punya banyak makanan khas. Kalau di Bali sih yang paling banyak ya Sari Laut Lamongan. Tak hanya di Bali. Aku yakin di tiap kota ada warung tenda khas yang kadang-kadang merusak pemandangan kota ini. Hehe..

Aku dan Bunda pun mencuri waktu satu hari untuk mencari makanan-makanan khas desa ini. Sebenarnya mungkin tidak benar-benar khas. Bisa jadi ada juga di tempat lain namun dengan nama beda. Oke. Kalau gitu aku sebut saja sebagai makanan paling terkenal di daerahku.

Continue reading “Rezeki Berjuta dari Makanan Desa”

Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman

Baiklah. Mari kita mulai lagi menulis semua cerita. Meski bawaan liburan masih saja terasa, jadi ada alasan untuk males nulis, menulis toh tetep harus dilakukan. Kalau tidak, semuanya akan menguap begitu saja.

Sebagai awalan, aku nulis soal mudik pas Lebaran kemarin saja. Pertama soal perjalanan saja dulu. Besok-besok lanjut soal kampung halaman, potensi ekonomi, petani garam, dan tradisi Kupatan.

Continue reading “Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman”

Sambel Bejek Pancen Uenak

“Dua hari ini aku mimpi dikejar-kejar orang terus. Ngeri,” kataku pada Bunda Jumat pekan lalu.

“Mungkin karena beberapa hari ini kamu nulis masalah-masalah gawat terus,” jawab Bunda.

Hmm, ada benarnya.

Karena itulah, pekan ini aku nulis soal yang asik-asik saja. Capek juga nulis masalah gawat terus. Dan, tulisan hari ini adalah soal makanan. Hmmm..

Continue reading “Sambel Bejek Pancen Uenak”

Keindahan Tersembunyi Pantai Bias Putih

Keindahan Pantai Bias Putih memang tersembunyi di antara bukit gersang di Desa Bugbug dan Desa Perasi Kecamatan Karangasem. Kamis pekan lalu, aku harus dua kali lewat untuk menemukan tanda menuju pantai berpasir putih kecoklatan ini. Dari jalan raya Desa Perasi antara Denpasar – Amlapura, ada jalan kecil berbatu dengan tanda panah di bawahnya.

Dari jalan kecil ini, aku harus melewati jalan beraspal seadanya hingga sekitar 1 KM. Di ujung jalan ini pos kecil di depan pura tanpa nama. Tiga orang berbadan kekar menunggu di pos. Menarik retribusi dari orang yang berkunjung. Murah, kok. Cuma seribu perak.

Jalan beraspal ganti dengan jalan berdebu ke arah kanan. Lalu jalan naik turun jelek di antara rimbun pohon kelapa, pisang, dan semak lain.

Continue reading “Keindahan Tersembunyi Pantai Bias Putih”

Berguru Gayeng pada Cah Andong

Kebiasaan memang berubah seiring waktu. Begitu juga aku.

Ini pada zaman masih aktif di Pers Mahasiswa (Persma) Akademika Universitas Udayana Bali. Kalau berkunjung ke satu kota, maka aku mampir ke Persma di kota itu. Misalnya ke Jogja, maka wajib hukumnya mampir di Balairung dan Bulaksumur, dua media milik mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja. Atau nebeng tidur di sekretariat Himmah, majalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja.

Ke Lombok mampir Media, nama majalah teman-teman Universitas Mataram. Ke Malang mampir Indikator, milik mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Dan seterusnya..

Continue reading “Berguru Gayeng pada Cah Andong”

Mengintip Sultan Mandi Bareng Selirnya

Jumat (27/6) adalah hari terakhir di Jogja. Menurut agenda kerjaan, hari ini hanya ada diskusi dengan pembaca Salam, majalah tempatku kerja part time. Karena diskusinya setelah pukul 14 WIB, maka paginya kami pakai untuk jalan-jalan dulu.

Pengennya sih bisa cari tempat wisata asik di Jogja. Tapi ke mana? Maliboro tempat kami tinggal. Keraton sudah pernah. Prambanan juga sudah. Mau ke Borobudur, waduh jauh banget. Tidak cukup kalau hanya setengah hari.

Maka, pilihannya adalah kompleks pemandian Taman Sari, tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Apalagi beberapa hari sebelumnya aku baca di Kompas kalau kompleks ini masuk salah satu warisan budaya dunia Unesco. Hmmm, sepertinya asik.

Continue reading “Mengintip Sultan Mandi Bareng Selirnya”

Memanusiakan Murid dengan Pendidikan Alternatif

Di antara sekian tempat yang kami kunjungi di Jogja dan Jawa Tengah pekan lalu, tempat ini bagiku paling mengesankan. Bertemu murid-murid sangat percaya diri di desa, tempat yang identik dengan keteringgalan, adalah penyebabnya. Rasa percaya diri itu, bisa jadi, karena mereka memang memiliki kemampuan di atas rata-rata anak seumuran mereka.

Usia mereka masih belasan. Antara SMP dan SMA. Tapi mereka jago menulis, bikin peta digital, ngoprek Linux, dan semua kemampuan yang aku tidak bisa. Anak-anak seumur mereka di gangku, di pinggiran Denpasar hanya lebih sering bengong. Atau sesekali duduk rame-rame sambil minum arak. Aku sendiri di usia mereka saat ini mungkin belum tahu apa yang hendak kucari.

Continue reading “Memanusiakan Murid dengan Pendidikan Alternatif”

Ketika Agama jadi Alat Perubahan

Semula, dalam diskusi di Bali, tujuan utama kami ke Jogja adalah untuk belajar tentang penerbitan di Kanisius, salah satu penerbit di kota pelajar ini. Kanisius jadi pilihan utama karena lembaga tempatku kerja part time beberapa kali pernah mencetak buku di tempat ini. Juga karena Kanisius rajin menerbitkan buku-buku pertanian, isu yang kami tulis selama ini.

Namun, agar lebih banyak tempat, kami kemudian menambahnya dengan kunjungan ke beberapa tempat lain. Antara lain Insist Press, petani lahan pasir di Kulon Progo, sekolah alam Nitiprayan, sekolah alternatif di Salatiga, dan perusahaan pertanian organik di Sukoharjo.

Continue reading “Ketika Agama jadi Alat Perubahan”

Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa

Hari kedua di Jogja, giliran waktunya belajar soal bertani dan sekolah alam. Sebelumnya kami belajar soal penerbitan di Insist Press dan soal pemasaran produk organik di Sahani. Sekarang kami berkunjung ke lahan pasir di Kulon Progo dan sekolah alam di Bantul.

Kami berangkat pagi, pukul 7.30 dari hotel. Sebab kami harus jemput Dja’far Shiddieq, dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM). Pak Daja’far adalah nara sumber kami ketika diskusi soal tanah di Bali. Bersama beberapa dosen dan mahasiswanya, Pak Dja’far juga sedang meneliti lahan pasir di Kulon Progo.

Dari Pak Da’far pula kami tahu tentang petani lahan pasir di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo. Inilah tujuan kami sekarang.

Continue reading “Karman dan Wahya, Orang Biasa yang Luar Biasa”

Hari I: Insist, Sahani, dan Cah Andong

Seharusnya aku posting tulisan ini pekan lalu saat di Jogja. Apa boleh buat, selama di sana aku tidak bisa online. Bisa sih pas hari ketiga. Tapi selain sebentar, koneksi warnet di ujung Jl Dagen, kawasan Maliboro itu leletnya setengah mati. Maka, aku cuma bisa cek imel bentar waktu itu.

Baiklah. Mari mulai dari review. Ngapain di mana saja selama di Jogja.

Bedanya di Jogja kali ini dibanding sebelum-sebelumnya adalah karena sama Bani, my little dictator. 😀 Tidak enak saja sih. Minggu sebelumnya sudah aku tinggal lima hari ke Makassar. Maka, mumpung lagi liburan, sekalian saja aku ajak Bunda dan Bani untuk ke Jogja. Toh, Jogja kota yang sangat asik buat liburan.

Continue reading “Hari I: Insist, Sahani, dan Cah Andong”