Kalau Saja Aku Kenal Blodog Lebih Dalam

Sekitar sepuluh hari lalu aku tertawa dalam hati ketika melihat tayangan TV One soal ikan blodog. Dalam acara 1001 Dunia itu disebut bahwa ikan bernama bahasa Inggris mudskipper itu merupakan salah satu ikan langka di dunia. Sebab blodog hidupnya lebih banyak di darat. Berbeda dengan ikan lain yang hidupnya di dalam air.

Menurut acara yang dipandu Nugie itu, ikan bernama latin Periophthalmus modestus ini adanya di Nikaragua dan satu negara lagi yang aku lupa namanya. Kalimat inilah yang bikin aku ketawa sendiri.

Continue reading “Kalau Saja Aku Kenal Blodog Lebih Dalam”

Target: Paottere’, Losari, Sara’ba, dan Pisang Epe

Ini hari ketiga di Makassar, tapi aku belum juga jalan-jalan. Ngebet banget segera menyantap ikan bakar di Paottere’, tapi sampai malam ini ternyata belum bisa. Selain Paottere’, sebenarnya ada beberapa tempat yang ingin aku kunjungi lagi, seperti pada 2004 lalu. Waktu itu sih enak aja jalan-jalan ke beberapa tempat di Makassar. Tapi untuk saat ini, ya, begitulah. Belum ada waktu yang tepat. Tunggu saja besok.

Kemarin malam sih jalan sebentar di Port Roterdam di sela malam ramah tamah. Tidak terlalu menarik karena malam-malam. Apalagi aku lihat sekilas, benteng yang umurnya ratusan tahun ini agak kusam. Benteng ini sedang dipermak sedikit di beberapa bagian.

Continue reading “Target: Paottere’, Losari, Sara’ba, dan Pisang Epe”

Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan

Lima laki-laki itu menari membawa api di tangan kanannya. Kedua tangan merentang. Api menyala dari tambang yang dibakar. Lalu, dengan posisi di bawah lengan kiri, api itu digerak-gerakkan. Dari ujung jari ke bahu. Mereka membakar tangan itu!

Tapi tidak ada sakit. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi yang dibakar kedua tangannya pun hanya tersenyum. Peserta lain, yang tangannya dibakar, malah berseru, “Rasanya dingin.”

Continue reading “Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan”

Untung Ada Coto Makassar

Here I am. Di Makassar dengan ketidakjelasan. Apa yang harus aku kerjakan? Serba salah. Mau nolak, teman yang ngajak. Setelah bersedia, tidak jelas tanggung jawabnya. Bahkan ketika aku sudah sampai di tempat acara, aku belum juga tahu apa saja yang harus aku kerjakan. Duh..

Sekira dua minggu lalu seorang teman, kini bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, telepon. Minta tolong aku bantu mengurus media selama Pertemuan Nasional Harm Reductin (PNHR) di Makassar, 14-18 Juni ini.

Continue reading “Untung Ada Coto Makassar”

Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu

Hampir sebelas tahun hidup di Bali dan belum pernah sekali pun menonton tari kecak di Uluwatu, ah, betapa menyedihkan hidup saya. Padahal tarian di sana saat sunset sungguh mengesankan..

Tidak hanya tariannya yang spektakuler, tapi lokasinya juga demikian. Rabu dua pekan lalu, saya akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana tarian Bali itu disajikan dengan latar belakang matahari tenggelam. Kami dan para penari itu di atas tebing Uluwatu, setinggi sekitar 20 meter dari permukaan air laut.

Continue reading “Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu”

Mengunjungi Museum di Bandung

Bandung adalah kota pertama yang ingin kami kunjungi di antara sekian kota di Jawa. Aku dan Bunda bahkan sudah berencana jalan-jalan ke Bandung kalau Bani nanti sudah ngerti dan bisa mengingat perjalanan itu. Alasannya, kami memang belum pernah ke Bandung. Juga karena sepertinya banyak tempat menarik untuk dikunjungi di kota sejuk itu. Terutama untuk, hmmm, tempat makan-makan! 🙂

Namun, pas dua pekan lalu ke Bandung, ternyata aku belum bisa menikmatinya dengan leluasa. Apa boleh buat. Niat jalan-jalan pun harus diubah. Intinya bagaimana jalan-jalan dengan waktu terbatas tapi bisa dapat sesuatu yang berbeda. Setelah tanya sama Rana Akbar, teman wartawan di Bandung, ternyata ada ide menarik: jalan-jalan ke museum-museum di Bandung saja.

Continue reading “Mengunjungi Museum di Bandung”

Antara Braga dan Menghisap Shisha

Mampir di satu kota tanpa jalan-jalan itu ibarat sayur tanpa garam. *Btw, basi banget sih pengandaiannya. Hehe..*

Maka, meski hanya lima hari dengan jadwal pelatihan yang padat bahkan sampai sekitar pukul 9 malam, jalan-jalan di Bandung tetap harus dilakukan. Pada hari selama pelatihan, jalan-jalan ini setelah materi selesai. Tidak enak juga. Masak jauh-jauh datang dari Bali dengan semua biaya ditanggung panitia, aku malah jalan-jalan saja. 😀 Pada hari terakhir, setelah pelatihan semua selesai, barulah bisa jalan-jalan lebih lama.

Tapi tulisan ini soal jalan-jalan malamnya saja. Soal perjalanan belanja oleh-oleh dan keliling museum nanti di posting lain. Bagian ini soal pengalaman jalan-jalan di Braga dan Dago.

Continue reading “Antara Braga dan Menghisap Shisha”

Kopdar Mini ala BBC

Kalau nurut jadwal, Bali Blogger Community (BBC) sebenarnya punya agenda rutin kopi darat (kopdar) tiap dua bulan sekali. Karena terakhir kali kami semua ketemuan Februari lalu pas launching BBC, maka seharusnya April ini ada agenda kopdar. Aku sih memang menunggu saja ada teman yang mau berinisiatif ngundang kumpul dan makan-makan. Sayangnya, ternyata bulan ini tidak ada juga undangan dari pihak berwenang. 🙂

Untunglah, minggu ini aku bisa juga kopdaran dengan beberapa teman BBC di Bandung. Di sela-sela pelatihan menulis yang diadakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, aku berniat ketemu dengan beberapa teman di kota sejuk ini. Dan, senangnya lagi, dua teman BBC di Bandung, Aprillia dan Eka, mau juga diajak ketemuan.

Continue reading “Kopdar Mini ala BBC”

Mau Makan di Tempat atau Bungkus?

Mendung tebal menggantung di atas kota ketika Merpati Boeing 737 dengan nomor penerbangan MZ 617 dari Bali yang kutumpangi hendak mendarat di Bandar Husein Sastranegara, Bandung. Setelah satu jam dari Surabaya, aku harus transit di sana 30 menit, kami tiba juga. Dari atas, Bandung terlihat sangat padat dengan bangunan. Ketika hendak mendarat, pesawat itu sepertinya sangat dekat dengan rumah-rumah, kantor, masjid, bahkan makam di sekitar bandara.

Melihat dekatnya bandara dengan pemukiman, aku jadi ingat kecelakaan pesawat di Medan dan Solo beberapa waktu lalu. Kalau tidak salah, salah satu alasan kecelakaan itu adalah karena dekatnya bandara dengan perumahan penduduk. Jadi, menurutku, bandara di Bandung masuk kategori berisiko karena dekatnya dengan permukiman warga. Aneh juga ya. Bukannya kota ini adalah pusat orang-orang pintar di bidang hal-hal semacam ini. *Aduh, kok nglantur..*

Continue reading “Mau Makan di Tempat atau Bungkus?”

Istana Mangkunegaran yang Ketinggalan

Ketika kemarin ada SMS dari teman di Appetite Journey untuk menulis perjalanan ke Solo buat majalah travelling dan kuliner tersebut, aku baru ingat lagi kalau aku belum menulis cerita perjalanan ke Istana Mangkunegaran di blog. Padahal perjalanannya sudah Januari lalu.

Maka, pagi ini aku cek lagi foto-foto perjalanan sambilan kerja untuk tempat kerja part time tersebut. Karena masih malas untuk bikin artikel panjang, jadi aku upload foto-foto itu saja ke flickr. Dan, inilah sebagian foto-foto itu. Semua yang di blog ini adalah tentang jendela-jendela di Istana Mangkunegaran tersebut.

Continue reading “Istana Mangkunegaran yang Ketinggalan”