Local residents take tourism into their own hands

1 , , , , Permalink 0

Anton Muhajir, Contributor, Nusa Ceningan, Klungkung | Thu, 06/25/2009 11:23 AM  |  Surfing Bali

Dressed in a dark-blue T-shirt and shorts, Kadek Sukadana accompanied seven foreign tourists walking around Nusa Ceningan, one of the Nusa Penida islands in Klungkung regency, about 70 kilometers east of Denpasar.

Sukadana’s main occupation is as a seaweed farmer, and does this part-time job of tour guide for any visitors who drop by his little island. Unlike other registered tour guides, Sukadana doesn’t have to change his “fashion style” and put on intricate Balinese traditional costumes while accompanying his guests.

Continue Reading…

Wajah Bali di Rumah Pengasingan Soekarno

12 , Permalink 0

Rumah Pengasingan Soekarno Ende

Menjelang balik ke Bali setelah selesai jadi fasilitator di Bajawa, Ngada (23/4) lalu, aku harus mampir ke Ende, kabupaten lain di Flores, Nusa Tenggara Timur. Jarak antara Ende dan Bajawa sekitar empat jam perjalanan lewat darat naik mobil. Aku harus ke Ende dulu karena dari kota di tepi pantai selatan Flores ini ada penerbangan ke Denpasar. Kalau di Bajawa tidak ada.

Aku dan Ana, teman seperjalanan, sampai di Ende lebih awal sekitar dua jam sebelum check in untuk penerbangan. Pesawat Merpati dari Ende ke Kupang akan berangkat pukul 11.55 Wita, berarti kami harus check in 10.55 Wita. Kami sampai di Ende sekitar pukul 9 pagi. Karena itu setelah mengambil tiket pesanan di kantor Yayasan Tananua, LSM lokal di Ende, kami memilih jalan-jalan dulu.

Continue Reading…

Mengagumi Batu Megalit Desa Bena

1 , , , , Permalink 0

Batu Megalit Bena

Upacara dan pesta adalah hal tak terpisahkan dari ritual leluhur kita, Indonesia. Misalnya di Bali. Galungan, yang adalah ritual upacara agama Hindu Bali, bagiku adalah juga pesta. Selain makanan berlimpah di rumah masing-masing, upakara yang diberikan adalah juga simbol dari pesta. Penjor, semacam umbul-umbul, dipenuhi dengan aneka hasil bumi: buah, bunga, dan umbi-umbian.

Begitu pula di Desa Bena, Kecamatan Jerubu’u, Kabupaten Ngada, Flores yang aku kunjungi pekan lalu. Tata desa tua yang berumur sekitar 300 tahun ini pun sepertinya memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pesta dan upacara tersebut.

Continue Reading…

Berkunjung ke Desa Tua Bena

7 , , Permalink 0

Desa Bena

Awalnya sih aku tidak berniat berkunjung ke Desa Bena. Apalagi aku tidak terlalu tahu tentang desa ini. Aku hanya samar-samar pernah mendengar namanya. Nah, ketika Raras, teman di kantor, bilang bahwa desa itu cantik, aku terpengaruh juga. Begitu sampai di Bajawa pekan lalu, Desa Bena jadi salah satu target yang akan aku kunjungi.

Hari ketiga di Bajawa, usai workshop pembuatan buku advokasi petani kopi Watuata, aku langsung bilang ke teman-teman Lembaga Advokasi dan Penyadaran Masyarakat (Lapmas) kalau aku ingin ke tempat ini. Ketika itu sudah pukul 2 sore. Waktunya agak mepet. Dengan senang hati teman-teman aktivis LSM setempat itu menjadi guide kami sekaligus memberi transportasi. Gratis lagi. Hehe..

Continue Reading…

Hal yang Berbeda di Bajawa

27 , Permalink 0

Kuburan Bajawa

Perjalananku ke Bajawa, Ngada, Flores kali ini adalah yang kedua kali. Kunjungan pertama aku lakukan Januari tahun lalu. Waktu itu aku ke sana untuk membuat tulisan tentang para petani di kawasan Cagar Alam Watuata. Petani kopi yang juga warga adat di sana diusir oleh pemerintah atas nama konservasi. Demi menjaga hutan, warga adat itu diusir dari tanahnya sendiri.

Kunjunganku kali ini pun masih terkait dengan hal itu. Lapmas, LSM yang mengadvokasi para petani itu akan menyusun buku tentang hal tersebut bersama berbagai pihak yang terlibat termasuk pemerintah dan petani sendiri. Aku memfasilitasi mereka menyusun kerangka buku tersebut.

Continue Reading…

Kecewa Citra Pulau Dewata

6 , , Permalink 0

Banyaknya turis mancanegara di Bajawa, Ngada, Flores agak mengejutkan saya. Ketika saya menulis daftar tamu di hotel Edelweis, Bajawa, Senin (20/4) malam kemarin saya baca banyak nama bule yang menginap di hotel ini.

Padahal awalnya saya pikir hanya akan ada Nicolas Ardissone, turis dari Perancis yang bertemu dengan saya sejak berangkat dari Bali. Nicolas ini satu pesawat dengan saya dari Bali. Semula dia berencana ke Gunung Kelimutu, Ende. Tapi ketika ngobrol satu pesawat dengan saya, termasuk soal perjalanan saya ke Bajawa, ternyata dia mengubah rencana. Dia memilih ke Bajawa daripada ke Ende.

Continue Reading…

Melatih Kerjasama Sambil Berwisata

2 , , Permalink 0

All Team

Skenarionya begini. Speedboat yang kami tumpangi akan tiba di pantai di belakang kantor koperasi Sarining Segara, Nusa Ceningan. Jadi kami bisa langsung turun dari perahu cepat tersebut dan langsung bersiap melakukan kegiatan pertama kami sore itu, balapan kano.

Pilihan lain, kalau ternyata kapal cepat tidak bisa berlabuh di Nusa Ceningan karena air laut surut, maka kami akan turun di Nusa Lembongan, pulau tetangga sekaligus desa induk Nusa Ceningan. Lembongan yang luasnya sekitar 615 hektar adalah pulau di sisi barat Ceningan.

Continue Reading…

Nikmat Menanti di Made Weti

11 , , Permalink 0

“Dua nasi campur, Bu,” kata saya pada ibu yang melayani pembeli di warung Made Weti Sanut, Minggu (22/2) lalu.

“Ya, Pak. Tunggu ya,” kata ibu itu sambil sibuk melayani pembeli lain. Dia menyendok nasi, memasukkan berbagai macam lauk, lalu memberikannya pada perempuan lain yang berdiri membantunya mengantarkan nasi itu pada pembeli.

Continue Reading…

Tinggal Pilih: Konro, Sup Saudara, atau Ikan Mas

3 , , , Permalink 0

Konro!

Sup konro dan konro bakar menjadi penutup perjalanan yang sungguh nikmat di Sulawesi pekan lalu. Kami menikmati menu ini di warung makan Sop Konro Karebosi, di belakang stadiun Karebosi Makassar. Konro itu sebutan orang lokal untuk tulang iga sapi. Warung ini jadi tujuan kami makan siang karena Amir PR, teman wartawan di Makassar, yang mengajak.

Sop konro, tentu saja berupa sup. Dagingnya pakai iga sapi dipotong kurang lebih sepanjang HP gitu deh. Ada tiga potong dalam tiap porsinya. Kuah sup ini mirip rawon dengan bumbu cengkeh dan kayu manis yang sangat terasa. Makanya warna supnya agak coklat gitu.

Continue Reading…

Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi

8 , , Permalink 0

Wajah para calon anggota legislatif (caleg) itu terasa sangat memuakkan bagiku. Selama ini wajah mereka di baliho dan spanduk yang kutemui sudah cukup memuakkan. Sebab mereka malah membuat kotor wajah kota.

Tapi ini jauh lebih parah. Wajah para caleg yang kutemui sepanjang jalan antara Polewali dan Mamasa, Sulawesi Barat itu sampai membuatku harus menahan marah. Geram.

Continue Reading…