
Anggap saja kalimat pertama itu perempuan penggoda.
Itu sih karena aku laki-laki. Lha masak aku membayangkannya sebagai laki-laki penggoda. Yang benar saja! 😉
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Anggap saja kalimat pertama itu perempuan penggoda.
Itu sih karena aku laki-laki. Lha masak aku membayangkannya sebagai laki-laki penggoda. Yang benar saja! 😉

Kembali hadir dengan semangat baru dan pemateri baru…
Pemateri:
1. Pande Komang Yanes Setat (Wartawan Kantor Berita Antara Bali)
2. I Wayan Juniartha (Wartawan The Jakarta Post)
3. I Putu Hendra Brawijaya (Anggota Bali Blogger Community)
Continue reading “Kelas Menulis Jurnalisme Warga Angkatan IV”

Secara resmi, kami sudah menutup kelas pukul 4.30, Minggu (6/6) sore itu. Kami harus mengakhiri materi tentang blog itu 30 menit lebih awal dari jadwal. Tapi, bukannya bubar, hampir seluruh peserta malah minta kelas dilanjutkan.
Maka, hari terakhir Kelas Jurnalisme Warga di Sloka Institute, pun berlanjut. Aku, dengan senang hati, menemani sembilan peserta yang masih mau belajar tersebut bersama Eka Dirgantara dan Intan Paramitha.
Dunia maya adalah belantara tempat jutaan informasi terserak. Jika tak hati-hati memeriksa, kita mudah tersesat di dalamnya.
Maka, kita perlu memeriksa, memeriksa, dan memeriksa lagi tiap informasi yang kita peroleh dari internet. Salah satunya dengan melihat sejauh mana sumber informasi, blog maupun website, di internet itu bisa kita percaya.

Senin, 3 Mei ini minggu kedua bagi kami di Hilversum, Belanda. Kami, 18 anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sedang mengikuti kursus New Media for Independent Journalism di Radio Nederland Training Centre (RNTC) di kota berjarak sekitar 25 km selatan Amsterdam ini. Kursus yang diadakan AJI Jakarta dan Neso Indonesia ini pada 26 April hingga 14 Mei 2010.
Bagiku, tugas-tugas kursus makin hari makin menarik. Hari ini, misalnya, kami mendapat tugas untuk mengambil foto dan -kemudian- video di kawasan Radio Nederland Worlwide (RNW). Aku bersama Komang Wahyu Dhyatmika, wartawan TEMPO yang juga Ketua AJI Jakarta, dalam satu kelompok.
Yes. Akhirnya kami sampai juga di Belanda Sabtu pagi sekitar pukul 9 waktu Belanda. Setelah terbang selama sekitar 14 jam, termasuk transit dua jam di Kuala Lumpur, Malaysia, pesawat Malaysia Airlines kami mendarat di Bandara Schipol, Belanda.
Ada 18 orang dalam rombongan ini. Kami semua anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang akan mengikuti kursus new media di Hilversum, Belanda. Kursus di Radio Nederland Training Centre (RNTC) ini diadakan oleh AJI Jakarta dan Neso Indonesia.

Sabtu ini hari terakhir Kelas Jurnalisme Warga di Sloka Institute. Pelatihan ini kami adakan selama empat hari tiap Jumat dan Sabtu. Hari pertama pada Jumat, 22 Januari kemudian disambung pada 23, 29 dan 30 Januari 2010. Pelatihan jurnalistik bukan hal baru bagi kami di Sloka. Tapi pelatihan dalam bentuk kelas dan agak intensif, inilah yang pertama kali. Ada beberapa hal yang membuatnya berbeda dari pelatihan-pelatihan yang pernah kami adakan sebelumnya.
Pertama, peserta. Kalau dalam pelatihan sebelumnya jumlah peserta sekitar 20 atau bahkan lebih, maka kali ini hanya separuhnya, 10 orang. Dengan peserta yang sedikit, kami merasa bisa lebih intensif. Tiap tulisan yang dibuat peserta bisa kami diskusikan di kelas, meski agak buru-buru karena waktu yang hanya sekitar 30 menit. Tapi aku sendiri, sebagai fasilitator, bisa membahasnya kemudian dengan lebih panjang seusai pelatihan.
Tak ada makan siang gratis. Begitu pula dengan traktiran untuk Tulank dan Intan sore tadi. Setelah bagi-bagi gaji dan honor di kantor siang hari, sorenya kami makan bersama di kafe Warung Taji di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. Lina PW yang ada di Sloka juga kami ajak. Karena dia bawa kamera, dia kebagian tugas moto-moto.
Sementara itu Tulank dan Intan, kami minta untuk menulis pengalaman bersantap di kafe penyedia menu Italia dan Jepang ini. Gara-gara meminta mereka untuk menulis kuliner itu, aku jadi inget ide lama untuk berbagi pengalaman menulis topik yang masuk kategori berita ringan (soft news) ini.
Dengan bersemangat, Kadek Juana Setiawan dan 11 temannya berjalan melintas tempat parkir Pasar Seni Guwang, Sukawati, Gianyar Minggu siang lalu. Namun setelah masuk daerah pertokoan, murid kelas III SD tersebut malah ragu-ragu. “Malu, nok,” kata Kadek. Teman-temannya mengiyakan.
Mereka tak jadi masuk pasar yang menjual berbagai souvenir tersebut. Dengan agak ragu, mereka membalik langkah lalu menuju deretan toko lain yang menjual makanan, bukan souvenir. Mereka kemudian melihat satu per satu penunggu toko yang menjual minuman dan makanan tersebut.

Sebab dengan tulisan-tulisan, kamu bisa mengabarkan banyak hal. Cerita pribadi, tempat bersantai, masalah kota, sampai curhat.Apa saja bisa kamu tulis ala Jurnalisme Warga, di mana warga tak hanya jadi objek berita tapi sekaligus penulisnya.
Tak usah takut tulisanmu tidak menarik. Menulis itu karena kebiasaan, bukan hanya soal berbakat atau tidak. Kini waktunya kamu belajar. Sebab Sloka Institute pengelola blog jurnalisme warga Bale Bengong, akan mengadakan Kelas Menulis Jurnalisme Warga.