Aneka Rupa Judi di Bali

“Waah, angka yang keluar pasti sapi nih,” kata satu ibu tetanggaku Jumat lalu. Celetukan itu keluar ketika kami mengerubungi sapi yang masuk sumur di gang kami. Kami tertawa mendengarnya.

Celetukan itu mengingatkanku lagi soal ideku untuk menulis soal banyaknya judi di Bali. Soale ini memang agak mengusik pikiran. Setahuku, judi di Bali memang buanyak sekali. Inilah jenis-jenis judi yang aku tau di Bali.

Continue reading “Aneka Rupa Judi di Bali”

Mendaftarlah, Mumpung Masih Ada Waktu..

Tak terasa, pendaftaran lomba blog remaja akan segera ditutup. Jadi, silakan segera daftarkan diri sebelum 12 September ini kalau Anda belum mendaftar. Masih ada waktu sekitar satu minggu untuk membuat artikel yang ciamik dan nyambung dengan dunia remaja.

Temanya gampang dibahas, kok. Soal kesehatan reproduksi dan dan seksualitas remaja, Narkoba, HIV dan AIDS, lingkungan, maupun kemanusiaan. Buat tulisannya jangan serius-serius. Yang santai saja. Biar nanti enak bacanya. Kalau asik dan dapat juara pertama, lumayan bisa dapat duit Rp 1,5 juta. Atau Rp 500 ribu untuk juara ketiga.

Continue reading “Mendaftarlah, Mumpung Masih Ada Waktu..”

Berbagi Jotan Saat Galungan

Met Galungan

Sekitar pukul 7 pagi ini. Saya beserta anak dan istri masih lagi asik main di dapur untuk bikin sarapan. Gede Santika, tetangga kami, sudah mengetuk pintu gerbang rumah. Saya beranjak keluar membuka pintu. Menemuinya.

Gede, murid kelas II SMP yang hampir tiap hari main di ruangan depan rumah kami seperti sebagian besar anak di gang kami, sudah berpakaian adat madya. Berbaju safari dengan bawahan kamen (sarung) dan udeng di kepala. Dia membawa jotan untuk kami.

Continue reading “Berbagi Jotan Saat Galungan”

Kesurupan Mantram Tropical Transit

Sabtu (2/8) lalu saya ikut perayaan mengenang dr AA Made Djelantik, pangeran dari Puri Karangasem yang meninggal September 2007 lalu. Perayaan ini digelar di Taman Ujung Sukasada, taman air sisa kejayaan Kerajaan Karangasem. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk datang. Tapi karena istri saya ngotot ingin hadir di sana, jadi ya kompromi saja.

Satu hal yang membuat saya tetap mau datang, meski tidak terlalu antusias, adalah karena bedah buku yang akan menghadirkan Goenawan Mohamad, biasa dipanggil GM atau Mas Gun. GM bukan hanya wartawan dan sastrawan tapi, bagi saya, juga salah satu filsuf yang sering memberi perspektif alternatif ketika melihat masalah. Maka, kami pun tetap ke Karangasem untuk hadir pada perayaan tersebu.

Continue reading “Kesurupan Mantram Tropical Transit”

Mengintip Sultan Mandi Bareng Selirnya

Jumat (27/6) adalah hari terakhir di Jogja. Menurut agenda kerjaan, hari ini hanya ada diskusi dengan pembaca Salam, majalah tempatku kerja part time. Karena diskusinya setelah pukul 14 WIB, maka paginya kami pakai untuk jalan-jalan dulu.

Pengennya sih bisa cari tempat wisata asik di Jogja. Tapi ke mana? Maliboro tempat kami tinggal. Keraton sudah pernah. Prambanan juga sudah. Mau ke Borobudur, waduh jauh banget. Tidak cukup kalau hanya setengah hari.

Maka, pilihannya adalah kompleks pemandian Taman Sari, tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Apalagi beberapa hari sebelumnya aku baca di Kompas kalau kompleks ini masuk salah satu warisan budaya dunia Unesco. Hmmm, sepertinya asik.

Continue reading “Mengintip Sultan Mandi Bareng Selirnya”

Memanusiakan Murid dengan Pendidikan Alternatif

Di antara sekian tempat yang kami kunjungi di Jogja dan Jawa Tengah pekan lalu, tempat ini bagiku paling mengesankan. Bertemu murid-murid sangat percaya diri di desa, tempat yang identik dengan keteringgalan, adalah penyebabnya. Rasa percaya diri itu, bisa jadi, karena mereka memang memiliki kemampuan di atas rata-rata anak seumuran mereka.

Usia mereka masih belasan. Antara SMP dan SMA. Tapi mereka jago menulis, bikin peta digital, ngoprek Linux, dan semua kemampuan yang aku tidak bisa. Anak-anak seumur mereka di gangku, di pinggiran Denpasar hanya lebih sering bengong. Atau sesekali duduk rame-rame sambil minum arak. Aku sendiri di usia mereka saat ini mungkin belum tahu apa yang hendak kucari.

Continue reading “Memanusiakan Murid dengan Pendidikan Alternatif”

Ketika Agama jadi Alat Perubahan

Semula, dalam diskusi di Bali, tujuan utama kami ke Jogja adalah untuk belajar tentang penerbitan di Kanisius, salah satu penerbit di kota pelajar ini. Kanisius jadi pilihan utama karena lembaga tempatku kerja part time beberapa kali pernah mencetak buku di tempat ini. Juga karena Kanisius rajin menerbitkan buku-buku pertanian, isu yang kami tulis selama ini.

Namun, agar lebih banyak tempat, kami kemudian menambahnya dengan kunjungan ke beberapa tempat lain. Antara lain Insist Press, petani lahan pasir di Kulon Progo, sekolah alam Nitiprayan, sekolah alternatif di Salatiga, dan perusahaan pertanian organik di Sukoharjo.

Continue reading “Ketika Agama jadi Alat Perubahan”

Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan

Lima laki-laki itu menari membawa api di tangan kanannya. Kedua tangan merentang. Api menyala dari tambang yang dibakar. Lalu, dengan posisi di bawah lengan kiri, api itu digerak-gerakkan. Dari ujung jari ke bahu. Mereka membakar tangan itu!

Tapi tidak ada sakit. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi yang dibakar kedua tangannya pun hanya tersenyum. Peserta lain, yang tangannya dibakar, malah berseru, “Rasanya dingin.”

Continue reading “Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan”