
Lama juga tidak posting foto narsis bareng Bunda dan Bani. 🙂 Jadi ya masukin saja foto pas jalan-jalan ke Bedugul Minggu, 26 April lalu.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Lama juga tidak posting foto narsis bareng Bunda dan Bani. 🙂 Jadi ya masukin saja foto pas jalan-jalan ke Bedugul Minggu, 26 April lalu.

00.30 pagi, –apa malam ya.. Aku sedang ngetik transkip wawancara. Suara tangis Bani terdengar seperti biasa kalau sudah jam segini. Aku tanggalkan headphone, tinggalkan komputer, masuk kamar. Bani bangun. Dia menangis kecil minta susu. Jam biologisnya bekerja seperti biasa.
Aku balik ke dapur dari kamar tidur untuk menyiapkan susu. Terdengar suara pintu kamar tidur terbuka. Aku lihat. Bani berjalan agak terhuyung karena ngantuk. Dia mendorong pintu kamar mandi. Berdiri menghadap ke dalam kamar mandi itu, membuka celana, lalu kencing.
Kekerasan itu terjadi di depan mataku, Minggu dua hari lalu. Si bapak berkacamata itu menggendong anak dengan lengan kirinya. Lalu tangan kanannya dipakai menampar wajah anaknya berkali-kali. Dia menampar pipi kanan, lalu pipi kiri. Si anak yang berumur sekitar 2,5 tahun, seusia dengan Bani anakku itu menangis menjerit-jerit.
Tapi bapak itu seperti tidak peduli. Dia berkali-kali menampar muka si anak itu. Sampai dia memasukkan si anak ke dalam mobilnya, dia masih saja memukuli anaknya.

Somehow, i think it’s the greatest pict i have while trip with Bali Blogger Community (BBC) last week. It’s my Bani, with his longor face. Hehe.. Gus Tulank said, like father like son. Sure. We do..
Jaket sudah kupakai. Tas sudah di punggung. Aku siap berangkat kerja pagi ini. Tapi pas aku cari-cari kunci motor ternyata tidak ada. Padahal aku ingat terakhir kali kunci itu ada di dapur, di tempat biasa.
Aku lalu mencarinya di semua tempat yang mungkin ada. Meja makan yang merangkap meja kerja di ruang depan. Dinding tempat biasa menggantung kunci. Bupet kecil di kamar utama. Meja kecil di kamar itu juga. Lemari. Saku celana. Saku jaket. Tapi nihil. Kunci itu tidak ada di sana.

Bulan Syawal masih tersisa 15 hari lagi. Jadi masih bolehlah kalau menulis soal lebaran. Kali ini tentang kupatan, tradisi merayakan lebaran seminggu setelah hari H. Aku tidak tahu jelas apakah tradisi kupatan ini hanya ada di Jawa Timur, Jawa, atau semua orang Indonesia yang merayakan Lebaran.
Sebatas yang aku tahu sih tidak ada tradisi kupatan di Bali. Di Jakarta juga tidak ada. Padahal di Mencorek, kampung halamanku di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur, kupatan selalu jadi pelengkap lebaran. Bagi anak-anak, kupatan malah lebih meriah dibanding lebaran itu sendiri.

Asin garam adalah air susu dalam bentuk yang lain bagiku. Oleh asin garam aku dibesarkan, disekolahkan, dikuliahkan, diajarkan tentang bagaimana hidup. Bukan hanya untukku, asin garam itu pula sumber penghidupan bagi tujuh saudaraku. Bahkan sejak belum lahir, kami semua sudah akrab oleh asinnya.
Emak kami yang mengalirkan asin itu ke keseharian kami. Dia pembuat garam olahan. Dari butir-butir kristal kecoklatan bercampur tanah hasil bertani di tambak, garam itu dilarutkan di atas persegi empat dari seng sebagai tempat mengolah. Malam-malam kami selalu diisi dengan gemertak kayu bakar untuk mendidihkan garam tersebut.
Baiklah. Mari kita mulai lagi menulis semua cerita. Meski bawaan liburan masih saja terasa, jadi ada alasan untuk males nulis, menulis toh tetep harus dilakukan. Kalau tidak, semuanya akan menguap begitu saja.
Sebagai awalan, aku nulis soal mudik pas Lebaran kemarin saja. Pertama soal perjalanan saja dulu. Besok-besok lanjut soal kampung halaman, potensi ekonomi, petani garam, dan tradisi Kupatan.
Setelah seminggu menikmati candu bernama keluarga besar di Lamongan, Kamis kemarin kami tiba kembali di rumah kecil kami di Subak Dalem, Denpasar. Bukannya istirahat, pas nyampe rumah kami langsung ngebut bersih-bersih rumah. Nyapu, nyuci baju, dan seterusnya.
Lalu seharian tadi kami ke Pekarangan, Karangasem. Ada ngaben dadong di kampung. Karena besok pagi Bunda ada kerjaan di Denpasar, maka sorenya kami langsung balik ke Denpasar.
Pesta udah usai. Capek juga hari ini. Barusan keluarga besar rame-rame datang untuk merayakan Idul Fitri di rumah. Padahal mereka juga sedangg sibuk mempersiapkan ngaben dadong di Karangasem 10 Oktober nanti. Tapi ternyata sore ini semua pada bela-belain ke rumah kami.
Maka, rumah kecil kami pun riuh oleh ketawa-ketiwi. Tentu saja sambil menikmati camilan dan makanan khas Lebaran. Ada kue ringan dari Pasar Badung seperti krupuk dan astor. Tak lupa menu khas Lebaran: opor, eh, kare ayam dan rawon.