Resistensi HIV Ancam ODHA Bali

-dimuat The Jakarta Post [8/2]-

Resistensi HIV Ancam ODHA Bali

Anton Muhajir
Kontributor/Denpasar

Tak hanya mata, masa depan Agung sebagai ODHA pun makin gelap.

Pandangan Agung, 34 tahun, makin samar. Mata kanannya sudah tak bisa dipakai melihat sama sekali. Mata kirinya makin dipenuhi titik hitam. Padahal pekerjaan bapak satu anak ini tergantung pada mata, selain kemampuan menyetir. Tiap hari Agung mengemudikan truk tangki bensin 5000 liter dari Pesanggaran, Denpasar Selatan ke berbagai industri pelanggannya. Tapi melihat benda berjarak lebih dari lima meter pun kini dia tak bisa melakukannya dengan baik. Dua bulan lalu dia pindah ke kursi sebelah, sebagai kernet. “Itu pun sering tak masuk,” katanya. Continue reading “Resistensi HIV Ancam ODHA Bali”

Perempuan di Sarang Penasun [8]

***

Toh, dengan semua masalah itu, usaha Yeni dan PL NEP Yakeba lain termasuk berhasil. Indikator paling jelas adalah makin banyaknya jumlah klien NEP Yakeba. Bulan pertama program berjalan ada 42 penasun dijangkau. Juni lalu ada 359 penasun klien NEP Yakeba. Sebagian klien juga ikut voluntary conselling testing (VCT) atau konseling dan tes secara sukarela. Bulan pertama hanya lima klien ikut VCT di Yakeba. Hingga Juni lalu sudah 63 orang ikut VCT, 58 di antaranya tes HIV. Hasilnya 28 penasun positif HIV. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [8]”

Perempuan di Sarang Penasun [7]

***

Kecurigaan tetangga hanya satu masalah Yeni sebagai PL NEP. Dia pernah pula ditegur pimpinan PRM Sandat karena lokasi penjangkauannya terlalu dekat, bahkan sempat masuk areal terapi. Sebagian klien PRM Sandat kadang-kadang memang masih pakai heroin (occasional). Jarumnya mereka dapat dari PL NEP di situ termasuk Yeni. Karena Yeni satu-satunya PL NEP yang juga klien methadone, maka dia yang kena getah paling parah. Dia dipanggil pimpinan PRM Sandat dan diminta agar tidak lagi membagi jarum di lingkungan tersebut. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [7]”

Perempuan di Sarang Penasun [6]

***
Ngobrol santai lebih sering dilakukan saat klien mengembalikan jarum. Misalnya Yeni mengajak klien ikut kelompok dampingan sebaya (KDS) atau client meeting. Atau kalau sudah tahu statusnya positif diajak Positive Chat. Bahan obrolan kadang termasuk soal keluarga atau pasangan. “Biar pun statusnya ODHA, mereka terbuka. Masalahnya cuma lingkungan keluarga atau rumah masih ada yang belum bisa nerima sepenuhnya,” tambahnya. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [6]”

Bani Nawalapatra

Hari ini terakhir ikut pelatihan relawan sobat setelah mulai dari Senin lalu. Tiap hari dateng dari jam 9 smp jam 5 sore di dalam kelas terus kecuali utk dua kali break dan sekali makan siang. Melelahkan.. Tapi sykurlah kelar juga. Pelatian ini utk tahu bagaimana jadi sobat bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Yang ngadain pelatian, Bali+ lembaga support untuk Odha di Bali. Ya, itu ajalah soal kegiatan minggu ini.

Sekarang udah Jumat. Selalu menyenangkan kalo akhir pekan gini. Paling ga Sabtu+Minggu bisa sedikit santai meski masih ada tulisan yang belum kelar. Now lagi buka2 imel+blog. Ada yang menarik di jiwamerdeka.blogspot.com dan electronposts.blogspot.com. Dua milis yg lumayan menambah spirit melawan otoritarian yg makin parah di negara ini: soal RU APP.

Oya, semalem udah dapat nama. Anak kami -kata dokter sih akan lahir sekitar Oktober- udah kami siapin nama: Bani Nawalapatra.

Udah, ah. Istirahat dulu..

Wisata Gua di Kota Tua

-oleh2 pas liburan lebaran lalu-

Khusni Alhan, 38 tahun, harus merunduk ketika memasuki salah satu celah kecil dalam gua. Celah seluas sekitar 50 cm x 30 cm tersebut hanya cukup untuk satu orang. Karena itu Alhan harus masuk terlebih dahulu baru kemudian anaknya, Rizqy Muhammad Farhan, 2 tahun. Setelah melewati celah kecil tersebut bapak dan anak warga Duren Sawit, Jakarta Timur tersebut sampai di sebuah ruangan seukuran sekitar 2 m x 4 m setinggi 2,5 m. Gua kecil di dalam gua tersebut bernama Pasepen Kori Sinandhi. Hingga saat ini, kadang-kadang ada orang bermeditasi di dalam gua kecil tersebut. Karena itulah disebut pasepen yang berarti tempat bertapa (meditasi).

Pasepen Kori Sinandhi hanya salah satu gua kecil di dalam Gua Akbar. Gua yang ditemukan pada 1998 ini merupakan gua terbesar di Tuban, Jawa Timur, sekitar 100 km dari Surabaya, ibukota Jawa Timur. Melalui jalur darat perlu waktu sekitar 2 jam. Tuban merupakan kota tua di bibir pantai utara Jawa Timur. Karena letaknya ini, pada 1275, Tuban sudah menjadi pelabuhan bagi saudagar Cina yang datang ke Jawa.

Continue reading “Wisata Gua di Kota Tua”

Idul Fitri, Hari untuk Berbasa-basi

Jumat. Sabtu. Minggu. Hm, lebaran tinggal tiga hari lagi. Mereka, -eh, aku juga ding!- yang akan merayakan udah pada kembali ke keluarga. Berkumpul dengan orang tua, saudara, keluarga besar, maupun tetangga. Pas hari H, kita akan sholat ied dan abis itu silaturahmi, main ke rumah keluarga dan tetangga.

Aku jadi inget. Biasanya aku ngumpul sama sepupu-sepupu. Ada yang dari Malang, Yogya, Surabaya. Asik banget. –Dan bener memang keluarga itu candu-. Soalnya, lebaran jadi terasa kurang lengkap kalau tidak kumpul dengan mereka. Kami jalan bareng keliling kampung. Dulu sih hampir semua. Sekarang karena jarang di rumah ya pilih beberapa saja. Toh, jarang ketemu mereka (tetangga kampung maksudnya). Jadi, tidak punya dosa sama mereka. 🙂

Continue reading “Idul Fitri, Hari untuk Berbasa-basi”

(Jangan-jangan) Keluarga Itu Candu?

Denpasar terasa agak sepi. Sudah jarang ada yang jual gorengan, atau martabak, atau penjual di pinggir jalan lainnya. Sepertinya karena sebagian warganya -yang ngrayain lebaran- pada mudik. Sebab, lebaran tinggal lima hari lagi. Banyak orang mulai berbenah, siap2 mudik.

Tradisi mudik ini memang dilakukan banyak orang menjelang hari raya keagamaan. Umat Islam menjelang lebaran. Umat Nasrani menjelang natal. Umat Hindu menjelang Nyepi. Dst. Kalo gak salah, Amrik pun mengenal Thanksgiving Day, dimana mereka biasanya kumpul, selain natal tentu saja.

Continue reading “(Jangan-jangan) Keluarga Itu Candu?”