Penangkapan Teman dan Kepercayaan yang Hilang

Pagi tadi aku kaget banget baca koran. Satu teman lagi ditangkap polisi gara-gara bawa heroin. Aduh, ini telak banget bagiku. Soalnya Novian, teman yg ditangkap itu, akrab banget sama aku. Dia sering cerita masalah pribadinya: ceweknya hingga keputusannya utk berhenti minum ARV, obat terapi HIV. Beberapa kali dia cerita dengan embel-embel, “Gua cerita ini hanya ke Elu..” Aku sih yakin tidak begitu. Tapi keterbukaannya padaku, dan mungkin pada tiap temannya, membuatku merasa dipercaya. Kepercayaan bukankah sesuatu yg susah didapatkan?

Dalam beberapa kasus tentang HIV/AIDS, aku juga sering tanya ke dia. Soale, Novian memang salah satu aktivis LSM yang peduli pada pengobatan. Aku inget ketika liputan masalah ini, melihat dia mendampingi ODHA sakit, mengganti infus, ngelapin badan. Semua membuatku tersentuh. Continue reading “Penangkapan Teman dan Kepercayaan yang Hilang”

Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..

– kado ulang taun bagi diri sendiri-

Taun ini sepertinya memang waktunya menikmati hidup.

Tidak usahlah berpikir terlalu berat tentang masa depan. Cukup nikmati apa yang kau dapat. Dan rasakan betapa enaknya hidup ketika kita merasa cukup.. Ah, jadi kayak Gde Prama. He.he.

Continue reading “Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..”

28 Tahun. Ah, Makin Tua Saja.

Kok persis sama dengan taun lalu ya? Ulang taunku pas ketika aku lagi ngasi pelatian jurnalistik bagi aktivis LSM. Taun lalu sama teman2 LSM pertanian berkelanjutan di Jimbaran. Sekarang pas pelatian sama teman2 LSM penanggulangan AIDS.

Taun ini tidak banyak harapan dan doa. Mari menikmati hidup. Itu saja udah cukup.. Ini beberapa SMS sekadar ngingetin mereka yg masih inget. :)) Continue reading “28 Tahun. Ah, Makin Tua Saja.”

Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan

-ini hasil ngobrol kemarin sama Termana alias Kingkong apa Lekong ya? he.he. aku kirim ke Jakarta Post. semoga dimuat besok. kalo ga besok, semoga Kamis depan. kalo ga dimuat juga, paling tidak aku muat sendiri di blog ini. :))-

Setelah melewati pintu utama, tiap orang yang masuk areal di daerah Denpasar timur tersebut, akan disambut lukisan. Sepanjang koridor itu lima lukisan dipajang. Dengan warna dominan merah, lukisan-lukisan itu langsung menyita perhatian. Namun lukisan-lukisan itu tidak tergantung di dinding galeri atau museum. Lukisan itu ditempelkan “hanya” di dinding rumah. Ya, bener-bener rumah tempat tinggal. Continue reading “Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan”

Kami Berlomba Maka Kami Ada

Lomba itu pun diadakan kembali di gang kami. Lomba sebelumnya sekaligus lomba pertama diadakan Agustus tahun lalu. Ceritanya untuk membangkitkan nasonalisme anak-anak gang. :)) Waktu itu lombanya banyak. Ada kepruk balon isi air, makan krupuk, gigit duit di jeruk. Pas gigit, gigi mereka sampe item-item. Tapi kan rame jadinya. Apalagi anak2 gang sebelah juga pada ikut.

Lalu Sabtu lalu lomba diadakan lagi. Yang bikin ide sih istriku lagi. Rencana semula lomba diadakan Minggu pekan lalu. Eh, ternyata aku pas lagi drop. Sakit. Udah gitu juga memang lupa. Jadi ya diundur Sabtu kemarin. Kebetulan banget hari itu tanggal merah. Jadi ya pas saja.. Continue reading “Kami Berlomba Maka Kami Ada”

Kehangatan Keluarga di Taman 65

Kue ulang taun di meja kecil itu dikelilingi sekitar 30 orang. Umur mereka beragam. Ada yang masih digendong, ada juga yang berjalan tertatih karena umur yang uzur. Mereka semua bergembira. Ada yang berteriak, “Cium. Cium. Cium..” Lalu semua mengikuti teriakan itu. Dengan malu-malu, ibu yang merayakan ulang tahun ke-50 malam itu mencium pipi suaminya. Semua tergelak. Tertawa.

Sebelum kue dipotong ada yang berbicara. Ada sanjungan. Ada pujian. Ada terima kasih. Continue reading “Kehangatan Keluarga di Taman 65”

Musibah Garuda itu Jadi Liputan Eksklusif Wayan

Wayan Sukarda menggelar pesta syukuran di rumahnya di Perum Nuansa Udayana Jimbaran Senin (12/3) lalu. Wayan salah satu korban kecelakaan Garuda di Yogyakarta Rabu pekan lalu. Tak hanya selamat, kontributor stasiun TV swasta Lativi dan sejumlah media TV Australia itu pun membuat liputan eksklusif kecelakaan yang menewaskan 22 orang, termasuk empat warga negara Australia tersebut.Syukuran itu sederhana. Undangan, hampir seluruhnya wartawan teman Wayan sehari-hari liputan, duduk di kursi plastik di garasi. Makanan disajikan di teras rumah. Ada ikan bakar, ayam goreng, ayam betutu, dan tentu saja babi guling. Continue reading “Musibah Garuda itu Jadi Liputan Eksklusif Wayan”

Perjalanan Menantang Kematian Ketika Pulang

Perjalanan pulang dari Denpasar ke Lamongan ibarat perjalanan menantang kematian. Begitu pula ketika kembali ke Bali.

Kecemasan pertama berawal ketika bis Bali Buana Artha yang kami tumpangi baru meninggalkan terminal Ubung Denpasar Rabu pekan lalu sekitar pukul 19.30 wita. Bukan bisnya itu sendiri. Tapi ulah salah satu penumpang di kursi kanan luar sekitar tiga kursi di belakangku. Continue reading “Perjalanan Menantang Kematian Ketika Pulang”

Pulang Marilah Pulang. Pulang Bersama Bani

Ternyata rencanaku berubah. Seharusnya Rabu ini aku udah di Lamongan. Menikmati terik matahari atau hujan badai di sana -Cailah!. Tapi eng ing eng. Rencana berubah. Pas ke rumah mertua untuk pamit Senin sore kemarin ternyata mertua tidak ada di rmah. Mereka juga pulang kampung ke Karangasem, sekitar 75 km dari Denpasar. Ada otonan ponakan dan odalan di pura keluarga. Pamitan pun tidak jadi.

Tapi rencananya tetap ke Lamongan Selasa sore. Continue reading “Pulang Marilah Pulang. Pulang Bersama Bani”

Pulang Marilah Pulang. Mari Pulang Bersama-sama..

Ini sesuatu yang tak biasa. Tiga kakakku nelpon berturut-turut Minggu kemarin. Pagi banget Kak Hid yang jualan ayam goreng di Bengkalis telepon. Kakak nomer tiga ini memang paling rajin telepon, terutama pagi-pagi. Soalnya memanfaatkan fasilitas telepon murah oerator Simpati. Karena itu kalau telepon dia ke nomor telp istriku. Isinya tanya kabar, bagaimana kerjaan, anak, istri, dst. Sekitar pukul 8, gantian Yuk Tim yang guru ngaji di Lamongan. Kakak kedua ini jarang telepon. Paling tiga bulan sekali. Isinya tanya kabarku, anak, dan istri. Sekitar pukul 11 gantian Kak Alhan, yang guru di Jakarta juga telepon. Isinya mengejutkan: dia barusan wisuda magister manajemen pendidikan di Universitas Islam Jakarta. Wah, selamaat…

Ditelpon kakak bukan hal yg luar biasa. Tapi ditelpon berturut-turut pada hari yang sama jelas langka. Apalagi semalem sebelumnya aku juga abis telpon Bapak Ibu di Lamongan. Kabarnya Bapak Ibu lagi sakit. “Nek iso mbok muleh,” kata Ibuku. Permintaan yg sama juga dibilang tiga kakakku pas nelpon kemarin. Continue reading “Pulang Marilah Pulang. Mari Pulang Bersama-sama..”