Untuk Bani Anak Kami

Bani Anakku,

Ketika kau menangis saat Ayah akan pergi
Lalu apa lagi yang Ayah cari?

Ketika kau tersenyum saat Ayah baru datang
Lalu ke mana lagi Ayah pulang?

Maka, cukuplah, Bani
Biarkan Ayah di sini bersamamu sepanjang hari

*Ketika Bani nangis gara-gara aku mau pergi untuk cukur rambut tadi pagi. Jadi Bani pun ikut bareng ke tempat cukur. Punya Bani. Hmm, lalu apa lagi yang aku cari?*

Kampung Ndeso Masuk Kompas

Informasinya sudah sejak Kamis lalu. Kakakku yang di Jakarta SMS ngasih tau kalau kampung kami yang ndeso itu masuk Kompas. Aku cek, walah, ternyata benar.

Wartawannya teman sendiri, Faiq, yang ngepos di Bandung sekarang tapi teman sejak masih SMA. Sangat mungkin dia ambil foto pas main ke kampungku Lebaran lalu. Maklum, dia tetangga kampung dan sama aktif di organisasi primordial itu.

Suwun, Cak Faiq. Sori juga kaos pesananmu lupa kubawa pas mudik. Ada salah kaham antara aku dan istri sehingga kaos itu dikeluarkan lagi dari tas.

Yowis. Ini aku upload di blog. Biar semua orang tau (*pamer, bo! ha.ha.ha.*) kalau kampungku yang ndeso itu pernah juga masuk Kompas, koran terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.

corek-kompas.jpg

Aneka Rupa Satu Agama

Gara-gara tulisan sebelumnya, aku jadi ingin nulis soal agama lagi. Kali ini soal bagaimana sih kehidupan beragamaku, atau keluarga besarku. Ini masih oleh-oleh dari Lebaran kemarin.

Hmm, mulai dari mana ya?

Dari keluarga besar saja deh. Keluarga besar ini merujuk ke keturunan kakek nenek kami. Meski tidak formal, kami biasa nyebut keluarga kami sebagai Bani Taqrib alias keturunan Taqrib, nama kakekku yang punya anak lima orang. Anak pertama dari lima anak ini, alias pamanku yang paling tua, sudah meninggal ketika aku masih kecil. Jadi aku tidak terlalu mengenalnya. Empat anak lain, di mana ibuku adalah yang paling tua, masih segar bugar dan tinggal di desa merana yang sama.

Kehidupan beragama keluarga besar kami cukup unik. Kakek nenek kami termasuk tokoh agama di Mencorek, desa kecil nan panas di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur, tempat kami tinggal. Buktinya pada saat itu mereka pemilik satu-satunya langgar, tempat orang belajar agama, di desa kami. Namun, anak cucu mereka justru sering jadi pembangkang, seperti halnya mereka. Continue reading “Aneka Rupa Satu Agama”

Satu per Satu Mereka Tertipu

Tidak banyak yang berubah ketika aku mudik Lebaran tahun ini. Kampungku ya tetep saja kampung dan udik. Kalo bukan kampung, pasti namanya bukan pulang kampung. Terus kalau bukan udik juga pasti namanya bukan mudik. :))

Meski tidak seperti tiga empat tahun lalu, pluputan -ritual berkunjung dan minta maaf ke keluarga- bersama sepupu-sepupu tetap mengesankan. Tapi ya pelan-pelan semangat itu makin hilang. Mungkin karena kami makin tua: kali ini bahkan sudah empat orang yang punya anak, termasuk aku.

Kami termasuk keluarga besar di kampung kecil itu. Dan, kami semua menyebar: Malang, Surabaya, Ponorogo, Lamongan, Denpasar, Jakarta, Yogyakarta, Riau, Malaysia. Maka Lebaran jadi waktu kami bertemu dan membagi cerita.

Di antara semua riuh rendah kami berbagi itu, ada satu yang paling membekas di otakku. Continue reading “Satu per Satu Mereka Tertipu”

Ngenet di Rumah, Semoga Lebih Murah

Ya, setelah lama tertunda, akhirnya bisa juga ngenet dari rumah. Sudah lama banget aku pengen langganan internet di rumah. Dulu pas masih bujangan sih asik aja keluar malam atau jam berapa pun untuk ngenet. Tapi setelah nikah dan punya anak, aku jadi lebih sering males untuk keluar malam.

Udah gitu, kadang-kadang ada saja masalah yang memaksaku untuk cepet2 ke warnet. Misal, Mbak Rita The Jakarta Post tiba2 bilang, “Kirim fotomu sekarang juga ya.” Atau ada sajalah yg lain. Mungkin 70 persen pekerjaanku kini tergantung internet. Padahal ngenet juga lumayan ngabisin duit.

Lalu, akhirnya hari ini aku bisa ngenet di rumah. Ternyata gak mahal2 amat. Semula aku cari handphone CDMA yang bisa dipakai ngenet. Misal Nokia 2865 -apa 2685 ya?- atau sejenisnya. Pas tanya ke Nokia atau toko2 HP, ternyata jenis yg murah di bawah Rp 700 ribu udah gak ada. Karena harga lain terlalu mahal, batal deh beli HP CDMA utk ngenet.

Continue reading “Ngenet di Rumah, Semoga Lebih Murah”

Bayar Murah, Pelayanan Tak Ramah

Setelah terus ngeles dari istri, akhirnya malam ini aku ke dokter. Dengan bersweater untuk menutup dingin udara malam itu –alah, ini kayak bikin puisi- aku ke rumah sakit tak jauh dari rumah, dan pasti murah meriah: Bhakti Rahayu.

Batukku makin menjadi. Sudah tiga mingguan ini batuk tak sembuh-sembuh. Padahal sudah minum obat. Pernah sih berhenti sebentar. Tapi Kamis pekan lalu mendadak kumat. Malah badanku panas. Kepala juga pusing banget. Continue reading “Bayar Murah, Pelayanan Tak Ramah”

Melihat Narat sang Pengingat

Dengan perasaan agak canggung, saya masuk areal pura itu. Ya, meskipun sudah memakai pakaian adat Bali: kamen (sarung), saput, udeng (ikat kepala), baju putih, dan selendang, tetap saja saya merasa sebagai orang luar. Saya datang ke sana sore itu, sekitar pukul 15.00 Wita bersama Ketut Ariana, kakak ipar saya. Di pura itu ada pula paman, bibi, ponakan, mertua, dan hampir semua keluarga besarr saya dari istri. Namun tetap saja ada perasaan was-was.

Ini mungkin sesuatu yang alami dan manusiawi. Ketika masuk komunitas “lain”, betapa pun komunitas itu dekat dengan kita, tetap saja ada perasaan sebagai outsider, seseorang yang di luar komunitas itu sendiri. Mungkin tidak perasaan sebagai orang luar itu sendiri. Bisa jadi juga karena khawatir akan diketahui sebagai orang “lain” lalu jadi masalah bagi orang lain. Ini ketakutan yang kadang-kadang berlebihan.

Tapi saya harus melawan rasa canggung itu. Ada sesuatu yang, seperti dikatakan bapak mertua dan keluarga saya lainnya, menarik untuk dilihat.

Manis Galungan, sehari setelah umat Hindu Bali merayakan Galungan, adalah odalan di pura desa di Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sekitar 100 km timur Denpasar. Maka ketika keluarga besar saya pulang kampung, mereka tidak hanya merayakan Galungan. Mereka juga merayakan odalan di pura desa.

Ada sesuatu yang selalu ditunggu tiap odalan di pura desa: daratan. Tradisi warga adat setempat ini dilakukan dengan agak mengerikan. Warga laki-laki dalam kondisi trance (tidak sadar) membawa keris untuk ditusuk-tusukkan ke dada seperti halnya ngurek yang umum dilakukan di Bali. Bedanya ketika narat, melakukan tradisi daratan, laki-laki itu juga memukul-mukulkan sisi keris. Jadi mirip orang menebas sesuatu.

Bagi saya ini tidak lazim. Keris adalah senjata berujung lincip dan tajam karena memang ujung ini yang dipakai untuk menusuk, bukan memukul atau membacok. Tapi dalam tradisi daratan, kedua sisi keris ini dipakai. Bisa dengan tangan kanan, bisa dengan tangan kiri. Bergantian memukul lengan.

Dan, sore itu saya ke pura untuk menyaksikan bagaimana daratan dilakukan. Berkali-kali rencana saya melihat daratan gagal karena beragam alasan. Maka sore itu saya meyakinkan diri untuk tidak melewatkannya. Toh, ketika sampai pura perasaan agak canggung itu muncul juga.

Suara gamelan Bali bertempo cepat terdengar. Saya masuk areal madya (tengah) mandala pura. Di areal ini daratan akan dilakukan. Di tengahnya dua kelompok laki-laki sedang menari. Sekitar 50 anak muda betelanjang dada di sisi utara dan orang tua berpakaian lengkap dengan jumlah seimbang di sisi selatan. Mereka saling berhadapan. Semuanya membawa keris di pinggang. Tarian itu persiapan untuk menggelar daratan.

Nada-nada riang mereka lantunkan. Meski saya tidak tahu jelas apa maksudnya, mereka seperti saling meledek. Ketika kelompok orang tua maju, kelompok anak muda mundur. Dan sebaliknya. Tiap maju mundur itu diakhiri mengangkat tangan ke udara dan berseru, “Haa!” Lalu mereka tertawa. Sesekali tiga pemangku berpakaian putih memberi tirta (air untuk upacara) ke mereka.

Saya hanya berdiri di pinggir areal, bergabung dengan ratusan pemedek (umat Hindu yang sembahyang, semacam jemaah dalam Islam atau jemaat dalam Nasrani), melihat tarian itu. Melihat keceriaan sore itu, pelan-pelan canggung saya mulai hilang.

Komang Ardana, kakak ipar yang lain, mendatangi saya ketika melihat saya di sana. Dia minta kamera saya lalu maju mendekati para menari. Ketika Komang memotret, para penari saling berebut di depan agar bisa dipotret. Mereka tertawa-tawa.

Hanya tujuh kali jepret, Komang mundur. Dia kembali ke tempat saya mengembalikan kamera. Melihat keceriaan para penari dan suasana guyub di antara mereka, saya tak tahan lagi. Saya maju membawa bawa kamera itu. Saya dekati mereka. Jepret. Jepret. Saya mulai memotret. Hilang sudah semua canggung itu kalau sudah begini. Saya dekati mereka lagi. Sebab makin dekat dengan objek, makin jelas apa yang kita potret. Saya di tengah di antara para penari itu. Berbaur dengan mereka.

Sekitar 10 menit kemudian, pemain gamelan memainkan nada-nada makin cepat. Suara gamelan makin kencang. Dua kelompok pelan-pelan bubar. Mereka kini membentuk satu barisan memanjang ke belakang. Mereka semua berlari mengitari pura itu tiga kali sambil mengangkat kerisnya tinggi-tinggi.

Satu dua laki-laki memisah dari barisan panjang itu. Mereka membuka baju, bertelanjang dada. Dengan keris diacungkan di depan dada, mereka menari-nari. Maju mundur, maju mundur. Belum ada gerakan yang menakutkan.

Tiba-tiba satu laki-laki menyeruak maju. Masih berpakaian adat lengkap, dia membuka selubung keris, lalu mengacungkannya tinggi-tinggi. Empat pecalang mendekatinya. Laki-laki itu seperti kejang-kejang. Dia mulai kerauahan. Dia membuka baju. Lalu ikut menari-nari seperti yang lain.

Beberapa penari di areal pura itu mulai ada yang narat. Mereka memukul-mukulkan keris ke lengannya yang terlihat memerah karena darah. Ada garis-garis bekas luka di sana.

Ketika kulkul dibunyikan, ratusan pemedek lain yang mengusung berbagai sesaji berjalan mengeliling pura tiga kali. Bedanya kali ini ada bapak, ibu, anak-anak ikut mengelilingi. Jalannya juga pelan-pelan, bukan berlari.

Di tengah lapangan, para penarat seperti tidak peduli. Mereka terus menari. Menghunus keris sendiri-sendiri. Memukul lengan, menusuk dada dengan keris itu. Gamelan makin cepat nadanya. Jreng. Jreng. Jreng. Para penari makin bersemangat.

Satu orang berlari dari bagian inti (utama mandala) pura. Dia menuju ke depan pemain gamelan. Lalu memukul-mukul lengannya sekuat tenaga. Ekspresinya tidak jelas. Seperti sakit. Seperti tidak sadar.

“Kita tidak bisa menghindar. Kerauhan itu datang begitu saja pada siapa pun,” kata bapak di sebelah saya.

Makin lama, makin banyak laki-laki yang kerauhan. Dalam waktu bersamaan ada sekitar sepuluh laki-laki sedang narat. Gerakannya seragam. Menggenggam keris lalu memukul lengan mereka dengan keris itu. Selesai memukul lengan, mereka menggenggam keris dengan dua tangan lalu menusukkan ke dada sekuat tenaga. Tak setetes darah pun jatuh. Peluh membasahi wajah dan tubuh mereka. Wajah mereka seperti kesakitan.

Daratan terus berlangsung seperti halnya tiap odalan yang dilakukan di desa sekitar 10 km barat Candidasa ini. Para lelaki terus memainkan keris: memukul lengan, menusuk dada. Sesekali mereka mendekati pemedek untuk diajak menari. Tidak boleh ada yang menolak ajakan itu. Sebab, daratan itu jadi semacam wakil betara yang menunjukkan bahwa masih ada yang salah pada orang itu.

Bukan hanya ada orang tertentu tapi juga pada ritual yang sedang berlangsung. Jika ada yang kurang, orang yang narat akan mengajak pemangku dan mengatakan apa saja yang kurang. Daratan jadi semacam pengingat apa saja yang terlewat atau belum dilakukan dalam upacara itu.

Saya mulai deg-degan. “Jangan-jangan nanti aku juga kerauhan,” pikir saya. Orang yang duduk persis di sebelah saya tiba-tiba tubuhnya bergetar. Dia berdiri, membuka baju, dan menarik keris dari sarungnya. Lalu dia pun larut dalam irama gamelan dan melakukan kegiatan mengerikan itu.

Para daratan bergerak ke sana-ke mari seperti ada yang menuntunnya. Beberapa daratan memutari sesajen yang telah diletakkan di masing-masing tugu dan yang digelar di atas tanah. Dengan keris menghunus, kadang-kadang disertai gerak tari mereka menarik salah satu pemangku untuk memeriksa apakah sesaji yang dipersembahkan telah lengkap.

Tak terdengar jelas kata-kata yang diucapkan mereka ketika meminta pemangku untuk memeriksa sesaji itu. Kadang yang terdengar hanya rintihan dan gumaman dari mulut mereka. Walau demikian, pemangku yang ditunjuk bisa mengerti apa yang diperintahkan para daratan itu.

Akhir dari ritual itu adalah ketika seorang daratan menggigit seekor ayam hitam. Ayam hitam itu adalah persembahan bagi dewa di pura desa tersebut. Setelah itu keriangan pun terlihat di wajah-wajah para daratan ketika seluruh rangkaian upacara berjalan dengan semestinya dan seluruh sesaji lengkap telah dihaturkan.

Irama gamelan melambat, kemudian secara perlahan satu persatu daratan duduk bersila di depan tugu pemujaan. Pemangku memberikan sarana persembahyangan seperti bunga dan dupa untuk mereka. Dengan khusyuk mereka segera larut dengan doa-doa pemujaan. Terakhir, pemangku memercikkan tirta, air suci ke kepala dan tubuh mereka. Sepercik air tirta dan bunga-bunga yang digosokkan ke tubuh mereka pun menjadi obat ampuh setelah tubuh mereka dirajam oleh keris.

“Tidak, tidak terasa sakit sedikit pun. Malah saya merasa puas,” ujar salah satu daratan sambil mengusapkan bunga kamboja ke lengan kirinya. Goresan-goresan akibat hujaman keris pun tak berwarna merah lagi itu. Dia mengaku tidak mengerti dengan perubahan yang dialaminya ketika mulai narat. [+++]

Merayakan Galungan dengan Jotan

Saya baru selesai sholat maghrib ketika pintu gerbang rumah seperti digeser orang. Kamar tempat saya sholat sekitar 10 meter dari pintu dari besi itu. Jadi saya bisa mendengar jelas ketika ada orang masuk rumah.

Dadong Devita, tetangga saya, yang mengetuk pintu. Dadong adalah sebutan untuk nenek di Bali. Devita mengacu pada nama cucunya.

Saya membuka pintu. Dadong masuk membawa sekeranjang buah dan kue. Ada apel, pir, pisang, jeruk, dan rambutan. Kuenya ada begina semacam kerupuk, jaja uli, tape ketan, dan krupuk melinjo.

Sekitar 15 menit sebelumnya, Gede, Bu Wayan, dan Made membawa kue dan buah yang sama. Buah dan kue di meja makan kami semakin penuh ketika Bu Mega juga membawa roti ke rumah malam itu.

Rumah kami di gang kecil pinggiran Denpasar utara. Sepanjang sekitar 50 meter gang itu tinggal aneka rupa keluarga dan berbeda agama.

Di ujung gang, persis di pinggir sungai, Bu Jeani dan Pak Anton tinggal bersama tiga anak mereka Jeani, William, dan Andrew. Pasangan ini beda agama. Bu Jeani muslim asli Padang. Pak Anton Katolik asli Timor Timur, yang kemudian jadi Timor Leste, dan kini warga Denpasar.

Keluarga saya sendiri muslim. Kami sekuler. Tidak ada tanda apa pun yang identik dengan agama apa pun di rumah kami. Bagi kami agama biarlah jadi urusan kami. Bukan untuk diperlihatkan pada orang lain. Istri saya orang Bali dan jadi muallaf ketika menikah dengan saya. Cerita ini sama dengan tetangga kami, Pak Sutir dan Bu Risma, yang kini punya dua anak.

Selebihnya, selain tiga keluarga itu, delapan keluarga lain beragama Hindu. Dan, besok tetangga-tetangga kami ini merayakan Galungan. Tapi, meski tidak beragama Hindu, kami ikut merayakan. Ya, lewat buah dan kue yang dibawa ke rumah kami petang tadi.

Tradisi membawa kue dan buah menjelang hari raya itu disebut ngejot. Tidak hanya menjelang Galungan tapi juga pada upacara lain seperti pernikahan, otonan (peringatan hari lahir), dan seterusnya. Ngejot sebenarnya biasa dilakukan pada tiap tetangga tanpa melihat agama atau suku apa pun. Namun karena tetangga yang Hindu juga merayakan, dan berarti punya buah dan kue yang sama, jadilah ngejot ini lebih banyak untuk yang beragama lain.

Tapi ini tidak mutlak. Kadang-kadang yang sama-sama merayakan Galungan pun berbagi kue atau buah terutama kue yang tidak mereka punyai. Misalnya memberi kue bolu pada tetangga yang tidak punya.

Ngejot, bagi saya, adalah wujud dari toleransi antar-tetangga. Bhinneka Tunggal Ika, kata Mpu Prapanca. Ini kalau dilihat dari perspektif agama. Tapi ngejot bisa juga adalah praktik dari sosialisme. Bukan sosialisme ideologis yang agak berat ala Hugo Chavez, Evo Morales, dan seterusnya, tapi cukup sosialisme sebagai praktik bertetangga, saling membagi apa yang kami punya.

Karena itu ngejot tidak melulu milik orang Hindu. Ketika merayakan lebaran Oktober tahun lalu, kami pun ngejot dengan membagi kue lebaran. Tidak hanya pada tetangga tapi juga pada keluarga di Padangsambian, Oongan, Jl Kenyeri, dan tentu saja mertua di Jl Banteng.

Ketika Natal pun kami mendapat jotan berupa nasi kotak dari Pak Anton, tetangga kami yang juga pegawai negeri tersebut.

Bagi sebagian orang mungkin ini terlalu romantik. Memang ada ketegangan-ketegangan hubungan antar warga akibat perbedaan itu. Namun ngejot bisa jadi salah satu upaya untuk mengingatkan warga bahwa kami bisa saling menghargai dan mengormati di antara perbedaan itu. Ngejot juga perlu terus dibiasakan karena ini soal perut juga. Kalau sudah tentang makanan kan paling gampang untuk mengajak orang.

Selain itu ngejot juga perlu diajarkan pada anak-anak. Biar mereka tidak salah paham lalu bilang, “Awas ada suster ngejot..” Eh, itu suster ngesot ya. he.he [+++]

Kepala Garuda Bisa Jadi Penanda

Pas lagi duduk di ruang tamu sama istri, aku melihat tas handphone di stang sepeda Bani, anak kami. Di tas kecil dari kain itu aku lihat gambar gajah. Aku langsung tahu kalau tas itu dari Thailand. Eh, ternyata bener.

“Itu untuk pemred. Kalau untuk yang lain cukup pembatas buku,” kata Lode, istriku. Tas itu diberi Ike yang ke Thailand Maret lalu. Ike wartawan Kulkul, tempat istriku kerja jadi Pemimpin Redaksi. Continue reading “Kepala Garuda Bisa Jadi Penanda”

Soto Karangasem, Weteng Wareg Gumi Ajeg

Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali. Tak hanya mapan secara ekonomi, pedagangnya pun bisa jadi tuan di tanah sendiri. Mereka punya slogan weteng wareg gumi ajeg.

Di bawah bangunan semi permanen beratap dan berdinding seng, Wayan Sukanada, 44 tahun, melawan stereotip bahwa orang Bali malu bekerja di sektor informal. Sejak 1980 pria asal Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Karangasem itu berdagang soto sapi di pinggir jalan raya di daerah Oongan, Denpasar timur. Tiap hari dia melayani pelanggan yang rata-rata karyawan swasta di sekitar tempat mangkalnya.

Buka sejak pukul 6.30 Wita hingga sekitar pukul 12.30 Wita, Sukanada menghabiskan paling sedikit 6 kg daging sapi untuk soto dan 1 kg untuk sate. Sedangkan beras rata-rata 10 kg per hari. Dengan jumlah tersebut dia bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp 500 ribu per hari.

Maka, bukan hanya secara sosial ekonomi dia mapan, misalnya bisa menyekolahkan tiga anaknya. Urusan ritual pun dia berbangga karena bisa melakukan upacara penghormatan leluhur yang dianggap paling besar di desanya, Nawur Sanjana. Upacara itu hanya dilakukan sekali seumur hidup oleh sebuah keluarga yang merasa diberkahi secara ekonomi. Kalau ada orang yang tidak bisa melakukannya, maka keturunannya tetap harus melaksanakan upacara itu.

Tidak setiap orang bisa melaksanakan karena mahalnya biaya upacara ini. Misalnya, Sukanada dan empat saudaranya harus mengorbankan sepuluh sapi untuk upacara itu.

“Kan bangga ya dari jual soto saja bisa melaksanakan upacara itu,” kata Sukanada.

Ketika tiba upacara di desanya, sekitar 100 km timur Denpasar, Sukanada bisa menunjukkan keberhasilannya berdagang soto sapi. Tak hanya dia tapi juga keluarga, bahkan desanya. Soto karangasem memang jadi salah satu kebanggaan desa tetangga Candi Dasa tersebut.

Sukanada hanya satu dari puluhan pedagang soto karangasem di Denpasar. Mereka tersebar di Kreneng, Oongan, Tainsiat, Pasar Badung, Tonja, dan tempat lain di Denpasar. Semua pedagang itu berasal dari satu keluarga, atau setidaknya satu desa.

Terkenalnya soto karangasem di Denpasar diawali Nengah Widana, 55 tahun. Pak Ngah, demikian panggilannya, mulai menjual soto pada 1968 di Pekambingan, Denpasar. Dia bekerja di warung soto milik Nengah Karta, yang juga asal Karangasem.

Dari Pak Ngah inilah soto karangasem jadi terkenal. Sempat berganti pekerjaan, dengan menjual rokok dan minuman serta kursus menjahit, Pak Ngah memilih jual soto sendiri sejak 1974. Dia memulai dengan gerobak dorong di belakang Pasar Kumbasari. Saat itu dia menjual satu mangkuk soto dan satu piring nasi seharga Rp 35.

Mengandalkan pembeli yang sebagian besar kuli pembangunan Pasar Badung, jualan Pak Ngah laris. Buktinya dia bisa membeli tanah seluas 2,5 are di Amlapura, kota kabupaten Karangasem hanya lima bulan setelah mulai berdagang soto.

Pada 1982 Pak Ngah pindah ke Pasar Badung yang baru selesai dibangun. Jualannya makin laris. “Setelah itu saya berpikir untuk membuka warung di tempat lain,” kata bapak empat anak ini. Mantan Kelian Adat Banjar Taman Sari ini kemudian memilih tempat di Jl Patimura, tak jauh dari rumahnya. Tiap bulan dia bisa mendapat untung sekitar Rp 2,5 juta.

Keuntungan berdagang soto sapi itu digunakan membeli tanah. “Karena beli tanah kan tidak mungkin rugi,” katanya. Pak Ngah melawan anekdot bahwa orang Bali menjual tanah untuk beli bakso. Dia justru menjual soto untuk beli tanah.

Pelan-pelan usahanya makin banyak mendapatkan keuntungan. Selesai beli tanah di daerah Oongan, dia membangun rumahnya jadi tingkat dua. Padahal ketika pertama kali ditempati, rumah di Jl Banteng tersebut itu hanya berdinding bedek.

Meski usaha makin berkembang, Pak Ngah tak ingin menikmatinya sendiri. “Saya mulai ngajak adik-adik. Biar mereka juga bisa bekerja dan mandiri,” kata anak pertama dari lima bersaudara ini.

Kakek lima cucu ini pun mulai mengajak adik-adiknya berjualan satu per satu. Salah satunya Wayan Sukanada. “Saya dulu belajar juga sama Pak Ngah,” kata Sukanada. Pak Ngah memang hanya mengajari, bukan menjadikan mereka sebagai anak buah. Maka ketika dianggap sudah mampu, adik-adiknya pun membuka usaha dagang soto sendiri.

Adik-adik yang sudah mampu itu ada yang mengajak sepupu atau tetangga desa. Setelah sepupu atau tetangga itu bisa, mereka membuat usaha dagang soto sendiri.

Dari situ, soto karangasem menyebar ke berbagai tempat di Denpasar. Tidak ada data pasti. Namun sebagai gambaran, dari keluarga Pak Ngah saja ada sekitar 14 pedagang soto sapi. Contoh lain sepanjang di Jl Nangka Denpasar saja saat ini ada sekitar sembilan. “Tapi semua pasti pernah bekerja di dagangan saya sendiri atau keluarga saya,” kata Pak Ngah.

Karena berasal dari satu akar itulah, maka semua soto karangasem punya ciri dan cita rasa yang sama. Semua menggunakan daging sapi dipotong kecil-kecil mirip dadu. Kuahnya pakai aneka rempah seperti bumbu bawang putih, jahe, seledri, bawang goreng, cabe, merica, dan penyedap rasa. Sebagai tambahan, dan ini biasanya tergantung pedagang masing-masing, bisa ditambah lengkuas, bumbu rajang, ketumbar, dan pala. Kuah dan daging sapi segar ini kadang-kadang juga ditambah sate.

Pak Ngah sendiri sampai saat ini masih berjualan di Pasar Badung. Namun sudah tak banyak ikut campur sebab kini istrinya, Nengah Ariani, yang jualan sendiri di pasar terbesar di Bali tersebut. Dia hanya mengantar ketika berangkat ke pasar pukul tiga pagi dan menjemput pukul 16.30 wita.

Dari hasil jualan tersebut, Pak Ngah dan istrinya bisa membangun rumah untuk empat anaknya. Dia pun bisa beli tanah untuk simpanan serta menyama braya dengan bebas kapan pun dia mau. “Kalau ada tetangga upacara, kami bisa libur kerja dan mengikutinya dengan leluasa. Kalau pegawai (negeri maupun swasta) kan susah,” katanya.

Namun ada yang lebih membuat Pak Ngah bangga. “Kami bisa membuat makanan yang jadi ciri khas desa,” katanya. Soto karangasem identik dengan Karangasem, seperti juga ayam betutu identik dengan Gilimanuk atau serombotan identik dengan Klungkung. Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali.

Meski demikian, Sukanada dan Pak Ngah masih menyimpan kegalauan. Menurut mereka keberhasilan soto karangasem seharusnya memacu orang Bali untuk berani melakukan pekerjaan yang selama ini dianggap menurunkan gengsi, seperti halnya berdagang kaki lima di pinggir jalan. “Saya lihat orang Bali masih sedikit yang punya semangat kerja berdagang kaki lima,” ujar Pak Ngah.

Kalau toh ada yang punya usaha dagang kaki lima, lanjut Pak Ngah, kemampuan mereka untuk mengelola usaha masih kurang. Misalnya kurang promosi, kurang bersih, hingga kurang ramah dengan pelanggan. “Kalau usahanya serius dan tahan banting, kita pasti berhasil. Kalau sudah berhasil kan pasti bisa beli tanah. Jadi bukannya malah jual tanah untuk bisa hidup,” katanya.

Dalam bahasa Pak Ngah, kalau perut sudah kenyang, maka tanah milik mereka tidak akan terjual. Bahasa balinya, weteng wareg gumi ajeg. Sukanada dan pedagang soto lain tak hanya menjadikannya sebagai slogan. Mereka telah membuktikan. [+++]