Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar

Kami bersikap layaknya turis Minggu lalu. Ini niat lama yang terus tertunda, naik dokar jalan-jalan di Denpasar. Niat itu muncul kembali setelah baca tulisannya Dek Didi soal keliling Denpasar naik dokar bersama pacar. (Ehm, kalimat yang sangat puitis. Hehe). Tapi lagi-lagi niat itu tertunda pekan lalu karena Bani sakit, demam dan batuk hampir seminggu.

But, yah, akhirnya bisa juga niat itu terwujud juga Minggu kemarin.

Selain ingin menikmati liburan dengan cara berbeda, kami juga ingin tahu seberapa siap sih Denpasar melaksanakan program city tour yang dipromosikan dengan nama Sight Seeing Denpasar itu? Karena itu kami membawa buku bersampul oranye tentang Sight Seeing yang kami peroleh pada peluncuran program ini 29 Desember 2007 lalu.

Continue reading “Naik Dokar Melihat Ketidaksiapan Denpasar”

Terjawab Sudah Kegelisahan Itu

Lega rasanya setelah aku baca hasil tes darah itu. Tidak ditemukan malaria. “Trombosit juga normal. Gejala DB juga tidak ada. Silakan lanjut saja minum obatnya,” kata dokter cantik di Nikki Media siang ini. Waah, tidak sia-sia aku merapal doa pas Jumatan tadi. Hihi..

Hasil tes darah itu memang jadi jawaban menyenangkan. Soale aku kepikiran banget soal kemungkinan kena malaria. Pikiran ini muncul setelah kemarin siang mampir ke kantor. Tidak tahan hanya diam di rumah, siangnya aku ke kantor juga untuk sedikit pekerjaan. Padahal fisikku sepertinya belum fit benar. Tapi ya maksa dikit sing ken-ken lah.

Continue reading “Terjawab Sudah Kegelisahan Itu”

Bani, Malaikat Kecil Kami

Setengah hari tadi kami keliling ke beberapa tempat. Ke pasar Badung untuk sarapan soto, cari bakso, dan beli es campur. Dari pasar kami ke rumah dadong pekak (nenek kakek) di Jl Banteng untuk sekadar ngobrol sama pekaknya Bani. Sebelum balik ke rumah, kami cukur rambut bareng. Lalu, ketika sampai di rumah, kami mandi bareng di bath up. Kali ini tanpa Bunda. Cukup aku dan Bani. 🙂

Menikmati hari bersama Bani selalu menyenangkan. Kadang-kadang aku dan Bunda seperti tidak percaya melihat Bani Nawalapatra, anak kami, sudah gede. Bani sudah 1 tahun 4 bulan. Padahal, hmm, rasanya baru kemarin dia lahir.

Continue reading “Bani, Malaikat Kecil Kami”

Dadong, Beristirahatlah dengan Tenang

Sejak pertama kali bertemu dengan dadong, aku merasa ada sesuatu yang mengikatku dengannya. Rasa ini seperti halnya ketika aku pertama kali lewat di daerah Pekarangan, Manggis, Karangasem. Melihat bukit, sawah, dan laut yang menyatu di desa ini, aku seperti melihat Mencorek, kampungku di Lamongan. Melihat dadong, bisa jadi juga seperti melihat nenekku sendiri.

Mungkin karena aku memang kehilangan kakek dan nenek sejak kecil. Aku tidak terlalu mengenal nenek dan kakekku. Kakek nenek dari bapak tidak pernah ku kenal sama sekali. Keluarga dari bapakku memang agak misterius. Hampir semua saudara tidak pernah bertemu dengan kakek nenek dari bapak. Kakek dari ibu sudah meninggal sejak aku belum lahir. Lalu, nenek dari ibu sudah meninggal ketika aku mungkin masih TK. Aku tidak ingat persis kapan. Satu hal yang jelas, aku tidak terlalu dekat dengan nenekku. Dia lebih akrab dengan cucu-cucu lain. Maklum, aku punya banyak sepupu.

Continue reading “Dadong, Beristirahatlah dengan Tenang”

Mengawali Tahun dengan Puja

Puja pagi mengawali tahun baru 2008. Ketika hari masih gelap dan orang-orang mungkin masih terlelap, kami duduk bersila di ruang belakang gedung pertemuan. Bale puja yang biasa digunakan untuk berdoa agak basah karena hujan yang mengguyur semalam. Udara pun masih lembab. Dingin.

Sekitar 15 menit sebelumnya aku sudah ke tempat itu. Kadek Dian, koordinator murid-murid di ashram, semalam bilang puja pagi akan dimulai pukul 5. Tapi ketika aku ke sana pukul 5 pagi itu, belum ada satu orang pun. Aku lalu kembali ke kamar ashram di lantai dua gedung Taman Kanak-kanak. Aku kembali merebahkan badan, menarik selimut, lalu berbaring sambil melihat Bani dan Bunda di kasur sebelahku.

Continue reading “Mengawali Tahun dengan Puja”

Biar Kere Asal Bebas

Ketika kami lagi berbaring sambil baca koran, istriku menceritakan keinginannya untuk bekerja tetap di salah satu media yang akan segera terbit di Bali. Koran punya grup Media Citra Nusantara itu katanya akan terbit Januari nanti. Beberapa temanku di sana. Salah satunya yang kemudian ngobrol sama Lode, istriku, untuk kerja di sana saja.

Hmm, ini masalah yang sudah berkali-kali kami diskusikan. Aku juga kadang-kadang iri melihat teman kerja terikat. Sepertinya enak dengan rutinitas berangkat pagi, kerja sepanjang hari, dan pulang ketika petang. Lalu tiap akhir atau awal bulan kita dapat gaji atas pekerjaan tersebut. Besar kecilnya relatif. Yang jelas kita dapat pendapatan tetap. Dan, inilah yang dicari istriku.

Continue reading “Biar Kere Asal Bebas”

Rebutan Wacana di Rumah Tangga

Sebenarnya hari ini aku berniat posting tentang Bali Post. –Aduh, kok aku sentimen banget sih sama mereka?-. Tapi karena ada diskusi “gawat” di rumah pagi ini, maka aku pikir hasil diskusi atau diskusinya itu sendiri lebih menarik untuk ditulis. Kali ini soal rebutan wacana di rumah tangga.

Pagi ini, ketika aku menikmati sarapan dengan menu ayam suwir, tempe goreng, dan oseng-oseng kangkung, Lode, istriku, tiba-tiba nyeletuk, “Kenapa sih tidak banyak orang yang mau membicarakan isu dapur. Padahal kan ini isu yang penting juga. Sekali-kali kek tanya tentang bagaimana prosesnya, apa susahnya masak, bla-bla-bla.”

Intinya ada dua hal yang diprotes istriku.

Continue reading “Rebutan Wacana di Rumah Tangga”