Happy Birthday, Our Beloved Bani

Tak ada kue ulang tahun yang mewah malam ini. Karena krisis keuangan internasional yang sedang terjadi di negara adi daya Amrik sana juga ternyata berimbas ke ekonomi mikro keluarga kami. Hehehe..

Kami membatalkan beberapa rencana. Pertama, niat untuk beli hutan hitam alias black forest di Tante Ninok tidak jadi. Maaf, ya, Tante. Kapan-kapan deh Bani beli kue ultah di Tante sekalian kapling hutan hitam di sana. Lumayan kan untuk mencegah dampak climate change pada keluarga. Hwahahaha..

Continue reading “Happy Birthday, Our Beloved Bani”

Demonstran Sejati Sejak Bayi

Ribuan orang di Bali ikut aksi menolak Rancangan Undang-undang Pornografi Rabu lalu. Bunda ikut di dalamnya. Sayang, Bani tak diajak serta. Padahal Bani juga punya beberapa alasan untuk menolak RUU ini.

Alasan itu, misalnya, buat apa punya tubuh bagus kalau bukan untuk diperlihatkan pada orang. Itu kan bagian dari cara mensyukuri nikmat Tuhan. Masak malah dilarang? Kalau orang lain terangsang, ya itu urusan dia. Jaga pikiran dong biar kalian tidak melihatnya dengan ngeres.

Continue reading “Demonstran Sejati Sejak Bayi”

Lalu, Dia Terlelap Bersamaku

Hampir pukul 1 pagi. Aku sedang nglembur untuk beberapa kerjaan yang lewat deadline. Asik di depan komputer.

Bani nangis, bangun di sela tidurnya. Jam biologisnya bekerja seperti biasa, minta susu. Kalau tengah malam begini, apalagi Bunda sudah terlelap, giliranku bikin susu.

Continue reading “Lalu, Dia Terlelap Bersamaku”

Oyu Sambil Monyongin Bibir

Lama juga gak nulis soal Bani. Jadi ya kali ini soal Bani saja. Tapi mulai dari mana ya? Umur? Ah, basi banget.

Baiklah. Aku mulai dari kata apa saja yang sudah bisa diucapkannya, meski tidak jelas benar. Oyuu adalah kata aneh yang diucapkan Bani dengan memonyongkan bibir ke depan. Kata ini dia ucapkan pertama kali ketika kami dalam perjalanan antara Salatiga – Jogja usai main ke sekolah alternatif Qaryah Thayyibah Juni lalu.

Kata ini selalu diucapkan Bani kalau ditanya, “Bilang apa?” usai dia mendapat sesuatu dari orang lain. Oyuu adalah bahasa Bani untuk Thank you. Aneh juga. Meski sudah diajarin berkali-kali untuk bilang “Terima kasih”, Bani lebih suka bilang “Oyu” sambil monyongin bibir itu tadi.

Continue reading “Oyu Sambil Monyongin Bibir”

Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran

Setelah sempat panas, hari ini suhu badan Bani kembali turun. Meski batuknya masih saja mengganggu, Bani terlihat lebih sehat. Dan, seperti ditulis Bunda, Bani memang lagi seneng-senengnya jadi pengikut setia ayahnya. Hehe..

Mumpung ngomongin Bani, aku jadi pengen nulis soal anakku ini. Lama juga tidak nulis soal Bani. Apalagi kemarin (23/5) adalah persis 20 bulannya Bani.

Memang tidak terasa. Bani Nawalapatra, anak kami sudah berumur 20 tahun bulan. Rasanya baru kemarin dia dibawa keluar dari ruang operasi. Seperti baru kemarin aku menanam ari-arinya yang kubungkus dengan kertas koran berisi bola dunia dan pulpen. Tapi ya begitulah. Anakku pelan-pelan tumbuh sebagaimana dia seharusnya tumbuh.

Continue reading “Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran”

Ketika Bani Sakit Lagi

Sore ini suhu tubuh Bani kembali panas. Padahal tadi pagi panasnya sudah normal. Dia juga sudah main sama aku setengah hari tadi. Bahkan, setelah hampir lima hari tidak mandi, tadi pagi akhirnya Bani mandi juga meski pakai air hangat. Tapi, entah kenapa, sore ini suhu tubuhnya kembali panas.

Aku jadi khawatir. Soalnya sudah sejak Minggu lalu Bani sakit. Tubuhnya panas. Batuk-batuk. Dan sering banget muntah. Bawaannya juga cengeng. Nangis terus.. Parahnya lagi dia malas minum susu, menolak makanan, juga obat.

Continue reading “Ketika Bani Sakit Lagi”

Seperti Biasa, Biarkan Mengalir Saja

Tulisan “Happy Birthday” dari kertas yang menggantung di bawah lukisan menyambutku ketika baru membuka pintu. Hari sudah larut, hampir pukul 11 malam Wita. Rasa capek setelah perjalanan hampir sepuluh jam dari Bandung – Jakarta – Bali langsung hilang. Aku memeluk Bunda. Bani sudah terlelap.

Kami menyanyi lagu ulang tahun dengan agak lirih. Lalu kutiup lilin kecil di atas kue itu. Kuambil kertas kecil di atas kue dan kubaca.

Ayahku 29 tahun.
Lotta Love

19 April 08

Bunda + Bani

Hmm, aku makin tua. Inilah ulang tahun yang ke-29. Tidak banyak yang berubah satu tahun ini. Aku merasa tidak banyak lagi yang perlu aku cari selain hidup bersama Bunda dan Bani. Keluarga kecil ini, di rumah kecil kami, dengan semua yang kami miliki adalah segalanya bagiku untuk saat ini.

Maka, seperti biasa. Biarkan semua mengalir saja.

Untung Bani Nangis Pagi Ini

Pas aku mau berangkat ke tempat kerja part time hari ini, Bani agak rewel. Padahal dia biasanya dengan senang hati dada-dadain tangan sambil bilang, “Mmmuah!”. Maka dengan senang hati aku anterin jalan-jalan dulu.

Kami jalan-jalan keluar gang lalu belok kiri ke arah sawah-sawah. Jalan Subak Dalem, di mana kami tinggal, masuk kawasan baru di Denpasar Utara. Jadi masih banyak sawah. Seperti biasa, kami naik motor. Bani di depan berdiri dengan girang.

Sampai sekitar 3/4 panjang jalan beraspal itu, kami berhenti. Biasanya sih aku melihat gunung Agung atau gunung Batukaru dari sini. Dengan sawah-sawah yg masih hijau di latar depan dan gunung-gunung itu di latar belakang. Aku menikmati suasana begini paspagi, sekitar pukul 7, atau sore, sekitar pukul 6.30. Tapi karena hari ini agak mendung, jadi dua gunung itu tertutup mendung. Juga kabut.

Maka, aku melihat ke kiri. Dan, waaaaah, ada pelangi. Ternyata keren banget..